BMKG Imbau Warga Jauhi Bangunan Rusak Akibat Gempa M 7,2 Pulau Bacan

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 15 Jul 2019 08:53 WIB
Kerusakan akibat gempa di Pulau Bacan (Foto: ANTARA FOTO/Irsad/YU/pras)
Kerusakan akibat gempa di Pulau Bacan (Foto: ANTARA FOTO/Irsad/YU/pras)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh isu hoax pascagempa Magnitudo (M) 7,2 yang mengguncang Pulau Bacan, Halmahera Selatan. BMKG juga meminta warga menjauhi bangunan yang rusak akibat gempa.

"Untuk sementara warga masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Dikhawatirkan masih terjadi gempa susulan yang kekuatannya signifikan. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya, Senin (15/7/2019).




Berdasarkan peta tingkat guncangan (shake map), menurut Daryono, gempa di Pulau Bacan termasuk gempa yang berpotensi merusak. Daryono menjelaskan gempa mencapai skala intensitas VII-VIII MMI.

"Intensitas gempa sebesar ini dapat terjadi kerusakan dalam tingkat sedang hingga berat. Estimasi model ini ternyata benar, laporan terbaru menunjukkan bahwa gempa yang terjadi menimbulkan banyak kerusakan bangunan rumah. Tercatat sedikitnya 160 bangunan rumah mengalami kerusakan," ujar dia.



Daryono juga memberikan penjelasan terkait penyebab gempa M 7,2 yang mengguncang Pulau Bacan. Wilayah Halmahera Selatan, menurut Daryono, termasuk kawasan seismik aktif dan kompleks.

"Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tercermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat," imbuh Daryono.



Kompleks yang dimaksud BMKG adalah kawasan Halmahera Selatan mempunyai empat zona seismogenik sumber gempa utama. Ada tiga sistem sesar yang berada di kawasan tersebut.

"Disebut kompleks karena zona ini terdapat 4 zona seismogenik sumber gempa utama, yaitu Halmahera Thrust, Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan. Adapun ketiga sistem sesar, yakni Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan, merupakan 'percabangan' atau splay dari Sesar Sorong yang melintas dari timur membelah bagian atas kepala burung di Papua Barat," ujar Daryono.

Daryono menuturkan gempa M 7,2 di Halmahera Selatan dipicu oleh Sesar Sorong-Bacan. Sesar tersebut selama ini menyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang terpatahkan sebagai gempa pada kemarin sore.

"Di Pulau Batanta, ke arah barat Sesar Sorong mengalami percabangan. Pada percabangan yang paling utara, yaitu Sesar Sorong-Bacan, inilah yang selama ini menyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang akhirnya terpatahkan sebagai gempa berkekuatan M 7,2 yang terjadi kemarin sore. Sesar Sorong-Bacan inilah pemicu gempa Halmahera Selatan," ujar dia.

Dalam catatan BMKG, gempa kuat dan merusak di Halmahera terbilang cukup banyak. Berikut ini daftarnya:

1. Gempa Pulau Raja 7 Oktober 1923 (M=7,4) dampak VIII MMI
2. Gempa Bacan 16 April 1963 (M=7,1) skala intensitas VIII MMI
3. Gempa Pulau Damar 21 Januari 1985 (M-6,9) dampak VIII MMI
4. Gempa Obi 8 Oktober 1994 (M=6,8) dampak VI-VII MMI
5. Gempa Obi 13 Februari 1995 (M=6,7) dampak VIII MMI
6. Gempa Labuha 20 Februari 2007 (M=6,7) dampak VII MMI.


Simak Video "Gempa M 7,2 Guncang Labuha Maluku Utara"

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "BNPB Kerahkan Drone, Pantau Kerusakan Gempa Halmahera Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(knv/dnu)