detikNews
Rabu 10 Juli 2019, 14:43 WIB

Benarkah Sesaknya Penjara Bikin Napi Jadi Gay? Aktivis LGBT Tak Setuju

Danu Damarjati - detikNews
Benarkah Sesaknya Penjara Bikin Napi Jadi Gay? Aktivis LGBT Tak Setuju Foto: iStock
Jakarta - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Liberti Sitinjak, menyatakan bahwa sel yang penuh membuat narapidana menjadi homoseksual. Aktivis pembela hak kaum gay di Indonesia tak setuju dengan Liberti.

"Orientasi seksual dan tindakan seksual tidak selalu sinkron," kata Pembina Yayasan GAYa NUSANTARA, organisasi pembela hak LGBTIQ, Dede Oetomo, kepada wartawan, Rabu (10/7/2019).


Menurut Dede, seseorang yang melakukan hubungan seks sesama jenis belum tentu punya orientasi seksual sesama jenis juga. Kedua hal tersebut tak selalu sinkron.

Napi yang dulu tertarik dengan lawan jenis (heteroseksual) tak lantas menjadi suka dengan sesama jenis (homoseksual) hanya karena pernah dipaksa oleh keadaan berhubungan seksual dengan sesama jenisnya di penjara. Dimungkinkan, dia pasif saja menerima perlakuan seksual di dalam penjara.

"Orientasi seksualnya sendiri tidak berubah," kata Dede. "Dan data menunjukkan bahwa ada orang yang bisa melakukan tindakan seks tertentu tanpa harus punya orientasinya."

Dede menyimpulkan, pernyataan Liberti Sitinjak tidak tepat. "Iya salah, karena dia menyebutkan orientasi, bahkan identitas seksual. Kemungkinan besar yang terjadi hanya perilaku seks sesama gender saja," kata Dede.

Sebelumnya, Liberti Sitinjak mengungkapkan lapas-lapas kelebihan kapasitas karena saat ini dihuni 23,681 orang warga binaan. Padahal, kapasitasnya hanya 15,658 orang warga binaan.

"Lapas dan rutan sudah over kapasitas. Ibarat kata, kondisi itu membuat kaki ketemu kaki, kepala ketemu kepala badan ketemu badan. Dampaknya munculnya homoseksualitas (gay) dan lesbian," ujar Liberti di SOR Arcamanik, Kota Bandung, Senin (8/7) lalu.


Kadivpas Kemenkum HAM Jabar Abdul Aris mengaku belum memiliki data jumlah warga binaan yang mengalami seks menyimpang. Meski begitu, ia memastikan jumlahnya tidak signifikan.

"Kita belum punya data lengkap. Tapi itu hanya beberapa kasus aja, persentasenya belum kita teliti lagi. Kita belum bisa sebutkan (lapas mana saja)," tutur dia.

Soal perilaku seksual di dalam penjara, pernah ada penelitian di Amerika Serikat (AS). Profesor peradilan kriminal dari Universitas Tennesse di Chattonooga, Christopher Hensley, menyatakan perubahan perilaku seksual di penjara dimungkinkan karena kurangnya akses seksual terhadap lawan jenis.

Hensley membikin studi yang dia klaim sebagai yang pertama kali dilakukan untuk memeriksa orientasi seksual di penjara. Dia dan rekannya bertanya ke 142 napi di tentang orientasi seksual mereka. Mereka menemukan ada 24 pria yang orientasi seksualnya berubah selama di penjara.

Dari 24 pria itu, 18 pria di antaranya berubah dari straight (heteroseksual/pria tertarik dengan perempuan) menjadi biseksual, 3 pria berubah dari biseksual menjadi straight, 1 pria berubah dari biseksual menjadi gay, 1 orang berubah dari gay menjadi biseksual, dan 1 orang berubah dari gay menjadi heteroseksual.

Namun Christopher Hensley sendiri, dilansir Politifact, menyatakan responden penelitiannya terlalu sedikit, sehingga tidak bisa mendukung argumen bahwa pria heteroseksual bisa menjadi homoseksual karena masuk penjara, atau kesimpulan lainnya.

Kembali ke Dede Oetomo, dia belum bisa mengambil kesimpulan apakah orientasi seksual itu adalah pilihan (seseorang bisa memilih menjadi homoseksual atau heteroseksial), kondisi alamiah (bawaan lahir atau genetik), atau bisa dibentuk oleh lingkungan misalnya dibentuk oleh kondisi penjara.

"Para ilmuwan yang jujur dan terbuka belum bisa menjawab secara tuntas tentang hal ini," kata Dede.


Ini Rumah yang Dijadikan Pesta Narkoba Klub Gay di Sunter:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Bamsoet Sebut DPR Dapat Tekanan Pihak Asing untuk Cabut Pasal LGBT"
[Gambas:Video 20detik]

(tor/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com