detikNews
Rabu 10 Juli 2019, 10:49 WIB

Di Sulawesi Ada Uang Panai, di Batak Ada Sinamot

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Di Sulawesi Ada Uang Panai, di Batak Ada Sinamot Foto: (Rudi Chandra/d'Traveler)
Jakarta - Mahalnya uang panai, uang yang wajib diserahkan pihak calon suami kepada keluarga calon istri, kerap membuat pria Bugis-Makassar kesulitan untuk mempersunting pujaan hatinya. Bahkan, mahalnya uang panai ini pun kerap menjadi penyebab kawin lari hingga tragedi terbaru, ada yang bunuh diri. Jika dalam tradisi Bugis ada istilah uang panai, maka dalam tradisi perkawinan Batak Toba ada yang disebut dengan sinamot. Apa itu?

Dalam tulisan berjudul Makna dan Fungsi Tradisi Sinamot dalam Adat Perkawinan Sukubangsa Batak Toba di Perantauan Surabaya karya Helga Septiani Manik, sinamot bukan hanya sekadar harga mahar. Melainkan sebuah biaya yang diperlukan untuk menciptakan suka cita dalam perkawinan suku Batak.

"Pada umumnya masyarakat Batak Toba berpendapat bahwa acara marhata sinamot adalah suatu transaksi dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, tetapi harus diartikan sebagai biaya atau harga (cost) yang diperlukan untuk menciptakan sukacita bersama dalam mewujudkan suatu pesta perkawinan," tulis Helga seperti yang termuat dalam jurnal BioKultur, Vol.I/No.1.


Sedangkan dalam buku Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945 karya Bungaran Antonius Simanjuntak, dijelaskan bahwa sinamot biasanya diberikan pada waktu pesta perkawinan oleh keluarga laki-laki kepada orang tua perempuan. Biasanya, secara simbolis diserahkan bersama sirih, daging mentah dan beras di atas piring.

Pertimbangan Jumlah Uang Sinamot

Kembali merujuk pada tulisan Helga, pertimbangan besaran nilai sinamot juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, ialah pendidikan. Pendidikan dinilai sebagai faktor yang mempengaruhi kehidupan setelah pernikahan. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin besar pula besaran nilai sinamot. Karena pendidikan, juga bisa mendatangkan pekerjaan dan kekuasaan. Kendati demikian, patokan harga sesuai pendidikan perempuan ini tetap menjadi kesepakatan tiap keluarga.

Lantas, yang kedua, lanjut Helga, sinamot juga dipengaruhi status sosial. Semakin tinggi derajat status sosial keluarga perempuan, maka sinamotnya pun biasanya tinggi. Namun, bagi orang Batak Toba, Sinamot ini tidak akan merugikan siapapun. Bahkan justru menguntungkan kedua keluarga. Dan ini salah satu yang membuat alasan hubungan kekerabatan orang Batak begitu kuat.

Ketiga, kedudukan yang sedang disandang masing-masing keluarga. Maksudnya adalah kedudukan marga dalam kelompoknya termasuk tinggi atau rendah. Karena marga orang Batak Toba ini dahulunya berasal dari nama orang yang mempunyai saudara kandung. Jadi tiap marga pasti mempunyai bermacam-macam posisi, bisa sebagai kakak atau adik dalam perkumpulannya.

Keempat, dilihat dari kondisi zaman yang selalu menuntut masyarakatnya untuk mendapatkan uang yang banyak demi kelangsungan hidupnya. Hal ini disebabkan karena nilai uang yang semakin lama semakin tinggi, dan secara otomatis kebutuhan hidup semakin meningkat. Sehingga tidak heran setiap keluarga mengharapkan jumlah sinamot yang relatif tinggi. Sebab, semuanya ini akan berguna untuk keperluan pesta adat yang akan diselenggarakan oleh mereka nantinya.

Simak Video "Mengenal Andalaiman, Tanaman Khas Orang Batak"
[Gambas:Video 20detik]

(rdp/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed