detikNews
Selasa 09 Juli 2019, 20:12 WIB

Amnesty Internasional Paparkan Kesulitan Polisi Ungkap Korban Rusuh 22 Mei

Samsuduha Wildansyah - detikNews
Amnesty Internasional Paparkan Kesulitan Polisi Ungkap Korban Rusuh 22 Mei Foto: Lamhot Aritonang/detikcom
Jakarta - Polisi mengalami kendala dalam mengungkap adanya sejumlah korban kekerasan dalam kerusuhan 22 Mei 2019. Salah satunya adalah minimnya saksi yang mengetahui peristiwa yang dialami korban warga sipil dalam kejadian itu.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid setelah menemui Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono. Salah satu agenda dalam pertemuan itu adalah meminta polisi mengusut kekerasan terhadap warga sipil yang diduga dilakukan oleh oknum polisi.

"Tadi Pak Kapolda menjelaskan usaha mengumpulkan para saksi, saksi-saksi yang melihat, mendengar langsung, atau saksi yang tidak ada di lokasi tapi mengetahui, beberapa orang, setidak-tidaknya, jumlahnya saya lupa, tapi orang-orang yang ikut merencanakan kerusuhan kalau tidak salah pada Selasa malam sebelumnya," kata Usman Hamid kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Selanjutnya, ia menyebut ada kendala lain yang membuat polisi kesulitan menyelidiki kasus kerusuhan itu, terutama mencari aktor intelektualnya. Polisi juga terkendala mencari pelaku penembakan terhadap warga sipil.



Polisi sendiri disebut telah melakukan uji balistik, namun hasilnya tidak identik dengan peluru yang ditemukan pada korban.

"Saya kira, berkenaan dengan uji balistik, karena dari anggota kepolisian yang senjatanya diserahkan ke labfor seluruhnya sejauh ini non-identik. Ada sekitar 2-4 kasus, sementara beberapa kematian lainnya memang belum semuanya bisa diidentifikasi secara pasti senjata dan pelurunya dari mana," ungkap Usman.

Selain itu, Usman menyebut Amnesty masih berfokus menyelesaikan penelitian terhadap kematian 9 hingga 10 orang peserta aksi 22 Mei, termasuk massa yang meninggal di Pontianak. Dalam pertemuan itu, Kapolda, disebut Usman, menyebut ada kemungkinan polisi yang melakukan kekerasan hingga ada korban yang meninggal namun hingga kini hal itu masih sebatas dugaan dan belum terbukti.

"Dalam temuan polisi, tadi Pak Kapolda juga membuka diri bisa saja anggota yang melakukan, tapi sejauh ini belum ada kesimpulan yang definitif tentang senjata itu. Kedua, kemungkinannya adalah senjata berasal dari pihak ketiga. Kami ingin mendesak Polri karena itu tugas Polri membongkar dan mengusut," pungkas Usman.



Simak Video "Mengenal Macam Peran TNI: Dari Pretorian Hingga Participant Ruler"
[Gambas:Video 20detik]

(sam/mea)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com