detikNews
Jumat 28 Juni 2019, 19:17 WIB

Kenapa Masih Ada yang Menghina Babu?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kenapa Masih Ada yang Menghina Babu? Foto: dok. Skrinsut FB
Jakarta - Jagat media sosial sempat heboh karena viralnya status Facebook dari aparatur sipil negara (ASN) Inspektorat Pemkot Tangerang bernama Amelia Fitriani. Isi statusnya melecehkan profesi pembantu rumah tangga atau babu. Lalu, kenapa masih ada yang menghina profesi babu?

Di status Facebook milik Amelia Fitriani, ia mem-posting kegiatan reuni sesama ASN. Isi statusnya melecehkan.

"Kegiatan hari ini reoni makan2 emangnya qmu babu kerjaan cuma ngosek WC," begitu tulis Amelia dalam statusnya.


Amelia sempat mengaku bahwa akun Facebooknya itu diretas. Namun, buntut dari hinaan tersebut, Amelia harus rela dimutasi jadi pegawai kelurahan. Padahal, sebelumnya ia merupakan fungsional di lingkungan Inspektorat.

"Kita pindahkan ke kelurahan, dia kan di inspektorat jadi harus clean jadi kita perintahkan bertugas di kelurahan," kata Sekda Pemkot Tangerang Dadi Budaeri kepada detikcom, Tangerang, Banten, Jumat (19/6/2019).

Amelia dimutasi di salah satu kelurahan di Kecamatan Periuk sejak sepekan lalu. Mutasi dilakukan sambil menunggu proses hukum yang saat ini diproses kepolisian.


Kasus dari Amelia bisa jadi pelajaran berharga. Selain itu, kasus ini juga menjadi bukti bahwa profesi babu masih kerap dipandang rendah oleh sebagian orang. Lalu kenapa masih ada yang mmenghina profesi babu?

Serikat Pekerja Pembantu Rumah Tangga (PRT) Sapulidi memaparkan penyebab kenapa babu atau PRT masih kerap mendapat hinaan. Anggota Sapulidi, Leni Suryani mengatakan anggapan buruk terhadap babu tersebut muncul karena UU Perlindungan PRT tak kunjung disahkan.

"Saya kira karena belum ada Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PRT). Pemerintah serta DPR belum mengakui bahwa PRT (babu) adalah pekerja. Juga bisa karena kurang pemahaman masyarakat terhadap peran PRT," kata Leni saat dihubungi detikcom, Jumat (28/6/2019).

Oleh karena itu, Leni mengatakan bahwa hingga saat ini dia bersama kelompoknya masih berjuang agar UU perlindungan PRT segera disahkan. Apalagi, lanjut dia, ILO (International Labour Organization) sudah pernah membahas situasi kerja layak PRT.

"Itulah kenapa JALA (Jaringan Nasional Pekerja Rumah Tangga) berjuang agar pemerintah segera mengesahkan UU Perlindungan PRT dan Konvesi ILO 189 tentang situasi kerja layak bagi PRT," ujarnya.

Untuk diketahui, konvensi ILO 189 tentang situasi kerja layak bagi PRT yang dimaksud ialah yang diadakan pada tahun 2011. Konvensi ini menghasilkan beberapa pasal penting yang menjelaskan status PRT sebagai pekerja. Konvensi ini juga dimaksudkan untuk melindungi PRT dari diskriminasi. Berikut ini ada dua pasal dalam ILO 189 yang menjelaskan pengertian PRT.

Pasal 1
Untuk tujuan Konvensi ini:
(a) istilah "pekerjaan rumah tangga" berarti pekerjaan yang dilaksanakan di dalam atau untuk satu atau beberapa rumah tangga;
(b) istilah "pekerja rumah tangga" berarti setiap orang yang terikat di dalam pekerjaan rumah tangga dalam suatu hubungan kerja;
(c) seseorang yang melaksanakan pekerjaan rumah tangga hanya secara kadang-kadang atau sporadis dan bukan sebagai sarana untuk mencari nafkah, bukan merupakan pekerja rumah tangga.
Pasal 2
1. Konvensi ini berlaku bagi semua pekerja rumah tangga.
2. Anggota yang meratifikasi Konvensi ini dapat, setelah berkonsultasi dengan organisasi pengusaha dan organisasi pekerja yang representatif, dan, terutama, organisasi yang merepresentasikan pekerja rumah tangga dan organisasi majikan
pekerja rumah tangga, bila ada, mengecualikan seluruh atau sebagian dari cakupannya:
(a) kategori pekerja yang dengan cara lain diberi perlindungan yang sekurang-kurangnya setara;
(b) kategori terbatas pekerja yang berkenaan dengan mereka masalah-masalah khusus yang bersifat substansial muncul.

Kenapa Masih Ada yang Menghina Babu?


Simak Video "Buron 7 Bulan, Pelaku Pembunuhan di Pangkalpinang Ditangkap"
[Gambas:Video 20detik]

(rdp/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com