detikNews
Kamis 27 Juni 2019, 15:04 WIB

Pemprov DKI Bantah Kualitas Udara Seluruh Jakarta Buruk Sepanjang Waktu

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Pemprov DKI Bantah Kualitas Udara Seluruh Jakarta Buruk Sepanjang Waktu Kondisi Jakarta pada Selasa (25/6) / Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Situs penyedia peta polusi udara online, AirVisual, menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta tidak sehat. Pemprov DKI punya pendapat berbeda.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengatakan data yang disampaikan AirVisual berbeda dengan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Data milik DKI menunjukkan hasilnya tak setinggi data Airvisual.

"Di lokasi pemantauan SPKU milik DKI hasil pengukurannya tidak setinggi data AirVisual, sehingga tidak dapat dikatakan seluruh wilayah Jakarta kualitas udaranya buruk sepanjang waktu," kata Andono melalui keterangan tertulis, Kamis (27/6/2019).



Andono mengatakan SKPU berada di beberapa wilayah di DKI Jakarta. Data berbeda ditunjukkan alat milik pemerintah dengan SKPU.

SKPU tersebar di wilayah Jakarta, yaitu di Bundaran HI, Kelapa Gading, dan Jagakarsa. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menyebut Jakarta dalam kategori Sedang di seluruh Ibu Kota pada Selasa (25/6).

Berdasarkan data hasil pengukuran parameter PM 2.5 pada hari Selasa (25/6) pukul 08.00 WIB, di SPKU DKI 1 (Bundaran HI) konsentrasinya sebesar 94,22 ug/m3, DKI 2 (Kelapa Gading) sebesar 103,81 ug/m3, dan DKI 3 (Jagakarsa) sebesar 112,86 ug/m3.



Andono mengatakan alat yang dimiliki KLHK berbeda dengan milik AirVisual. Standar AirVisual dinilai lebih tinggi dibanding milik pemerintah.

"Indeks Kualitas Udara di Indonesia belum mengunakan parameter PM 2.5, namun, nilai konsentrasi PM 2.5 sudah diatur sebesar 65 ug/m3 per 24 jam. Standar ini sedikit lebih tinggi dari standar US EPA sebesar 40 ug/m3," ujar Andono.

Andono mengatakan banyak faktor yang menyebabkan kualitas udara di Jakarta menurun. Salah satunya, debu akibat proyek pembangunan di DKI Jakarta.

"Debu akibat berbagai proyek pembangunan tersebut turut menurunkan kualitas udara di Jakarta, hal ini cukup wajar sebagai kota metropolitan yang sedang giat membangun," ungkapnya.

Andono mengimbau masyarakat ikut berperan untuk meningkatkan kualitas udara. Dia meminta masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi ke transportasi umum.

"Masyarakat juga dapat turut berperan serta dalam memperbaiki kualitas udara Jakarta melalui langkah mudah, yaitu menggunakan transportasi umum, menggiatkan berjalan kaki, dan bersepeda," ujar Andono.



Sebelumnya, berdasarkan data di situs maupun aplikasi AirVisual pada Selasa (25/6) pukul 10.00 WIB, nilai air quality index (AQI) Jakarta adalah 168. Jakarta ada di posisi kedua setelah Lahore, Pakistan. Kualitas udara di Jakarta dinyatakan 'unhealthy'. Nilai AQI Jakarta juga sempat mencapai angka 216 atau masuk ke kategori 'very unhealthy'.

AQI adalah indeks yang dipakai AirVisual untuk mengukur tingkat keparahan polusi udara di sebuah kota. Indeks ini mempertimbangkan 6 polutan utama yaitua PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon di permukaan tanah. Enam polutan utama itu dikalkulasikan menjadi angka AQI. Rentang nilai AQI adalah 0-500. Semakin tinggi nilai AQI maka semakin tinggi tingkat polusi udara.



Tonton video Jakarta Hari Ini Jadi Kota Berkualitas Udara Terburuk di Dunia:

[Gambas:Video 20detik]


(fdu/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed