detikNews
Rabu 26 Juni 2019, 16:55 WIB

Aksi Kawal MK Ditutup dengan Baca Petisi Kedaulatan Rakyat, Ini Isinya

Ibnu Hariyanto - detikNews
Aksi Kawal MK Ditutup dengan Baca Petisi Kedaulatan Rakyat, Ini Isinya Aksi kawal MK (Ibnu Hariyanto/detikcom)
FOKUS BERITA: Putusan MK Pilpres 2019
Jakarta - Massa aksi kawal Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan petisi kedaulatan rakyat. Petisi itu dibacakan di akhir aksi yang digelar di Patung Kuda, Monas.

Petisi itu dibacakan oleh sejumlah tokoh yang datang ke aksi kawal MK, Rabu (26/6/2019). Adalah Ketua FPI Ustaz Sobri Lubis, Ketua GNPF Ulama Yusuf Martak, Koordinator GKR Abdullah Hehamahua, hingga Neno Warisman yang membacakannya bergantian.

Petisi itu dibacakan setelah massa aksi melaksanakan salat Asar dan doa bersama. Pembacaan petisi dilakukan dari atas mobil komando.


"Petisi kedaulatan rakyat untuk keadilan dan kemanusiaan," kata Sobri Lubis membuka pembacaan petisi.

Yusuf Martak menambahkan petisi tersebut akan diserahkan kepada hakim MK. Ia berharap, dengan petisi ini, MK bisa memutuskan hasil sidang sengketa Pilpres 2019 tanpa tekanan.

"Ini hanya petisi yang diserahkan kepada hakim. Insyaallah akan menggugah hati hakim agar tidak ada terpengaruh dari luar dalam hal memutus keputusan nantinya," kata Yusuf Martak.


Berikut ini isi petisi dari massa aksi kawal MK:

Petisi Kedaulatan Rakyat untuk Keadilan dan Kemanusiaan

Melihat dan memperhatikan serta mencermati aneka kezaliman yang terjadi selama ini, khususnya dalam rentang waktu tahun 2014 s/d 2019, antara lain:

1. Kriminalisasi dan makarisasi habaib dan ulama serta aktivis juga pembubaran dan terorisasi ormas Islam.

2. Pembiaran penodaan terhadap agama, bahkan perlindungan dan pembelaan terhadap penoda agama.

3. Pembiaran gerakan liberal, neo-PKI, LGBT, Ahmadiyah & Syi'ah Rofidhoh, serta aneka aliran sesat dan berbagai kemunkaran sehingga merajalela di seantero negeri.

4. Penjualan aset negara kepada asing dan aseng penumpukan utang negara, pemberian dukungan kepada Program OBOR China, dan penerimaan imigran China sebagai TKA di Indonesia, sekaligus pembiaran pribumi terpuruk.

5. Pelaksanaan pemilu curang dan brutal sehingga lebih dari 500 petugas pemilu wafat secara tidak wajar tanpa diautopsi dan lebih dari 11 ribu petugas pemilu jatuh sakit dirawat serius di berbagai RS tanpa penyelidikan sebab-musababnya. Serta tindakan represif aparat yang biadab dan sadis terhadap rakyat, sehingga jatuh korban meninggal dunia 10 orang, empat di antaranya anak-anak, dan lebih dari 800 orang luka tembak atau pukulan, serta lebih dari 500 orang ditahan, di antara mereka banyak yang disiksa di dalam tahanan. Selain itu lebih dari 30 orang hingga saat ini masih hilang belum ditemukan.


Oleh karenanya, kami para habaib, ulama dan aktivis serta tokoh berbagai ormas Islam mau pun kebangsaan, menyatakan:

1. Mengecam keras segala bentuk kecurangan dan kezaliman yang telah meruntuhkan sendi-sendi keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2. Menolak segala bentuk putusan hukum yang menjustifikasi kecurangan dan kezaliman, karena tidak sesuai dengan ajaran agama apa pun dan juga bertentangan dengan amanat konstitusi NKRI yang berdasarkan Pancasila & UUD 1945.

3. Melakukan perlawanan secara konstitusional terhadap segala bentuk kecurangan dan kezaliman untuk keselamatan agama, bangsa dan negara.

Demikian petisi ini dibuat dan diserukan kepada segenap rakyat dan bangsa Indonesia agar secara tulus dan ikhlas untuk terus bersatu berjuang bersama para habaib dan ulama yang istiqomah melaksanakan isi petisi ini semata hanya mengharapkan ridho Allah Yang Maha Kuasa.


Moeldoko: Ada Teroris yang Ikut 'Main-main' saat Putusan MK:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Ke Mana Demokrat dan PAN Berlabuh Usai Putusan MK?"
[Gambas:Video 20detik]

(ibh/gbr)
FOKUS BERITA: Putusan MK Pilpres 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed