detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 13:28 WIB

Ini Penjelasan BMKG soal Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng

Jef - detikNews
Ini Penjelasan BMKG soal Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng Dataran tinggi Dieng kembali membeku. (Uje Hartono/detikcom)
Jakarta - Kondisi suhu dingin terjadi di dataran tinggi Dieng dari mulai minus 5 hingga 9 derajat Celsius dan menyebabkan terjadinya fenomena embun beku. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan kondisi suhu dingin ini fenomena yang normal.

"Menyikapi kondisi suhu dingin yang menyebabkan terjadinya fenomena embun beku di wilayah dataran tinggi Dieng dalam beberapa waktu belakangan ini, kejadian kondisi suhu dingin tersebut merupakan fenomena yang normal," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG R Mulyono Rahadi Prabowo dalam rilis resmi BMKG, Selasa (25/6/2019).


Mulyono menjelaskan beberapa hari terakhir suhu udara di sebagian wilayah Indonesia selatan ekuator, khususnya wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara, cukup dingin dan mengalami penurunan signifikan pada malam hari. Secara umum, menurutnya, kondisi suhu dingin ini terjadi sebagai akibat adanya aliran massa udara dingin dan kering dari wilayah benua Australia yang dikenal dengan aliran monsun dingin Australia.

Secara klimatologis, monsun dingin Australia aktif pada periode Juni-Juni-Agustus, yang umumnya merupakan periode puncak musim kemarau di wilayah Indonesia selatan ekuator. Desakan aliran udara kering dan dingin dari Australia ini, menurut Mulyono, menyebabkan kondisi udara yang relatif lebih dingin, terutama pada malam hari, dan dapat dirasakan lebih signifikan di wilayah dataran tinggi atau pegunungan.

"Kondisi musim kemarau dengan cuaca cerah dan atmosfer dengan tutupan awan sedikit di sekitar wilayah Jawa-Nusa Tenggara dapat memaksimalkan pancaran panas bumi ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu permukaan bumi akan lebih rendah dan lebih dingin dari biasanya," ujarnya.


"Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan, di mana kandungan uap air di atmosfer cukup banyak karena banyaknya pertumbuhan awan, atmosfer menjadi semacam 'reservoir panas' sehingga suhu udara permukaan bumi lebih hangat," sambung Mulyono.

Berdasarkan data pengamatan BMKG, lanjut Mulyono, selama sepekan ini, suhu udara lebih rendah dari 15 derajat Celcius tercatat di beberapa wilayah, seperti di Frans Sales Lega (NTT) dan Tretes (Pasuruan). Suhu udara rendah terukur di Frans Sales Lega (NTT) hingga 9,2 derajat Celcius pada 15 Juni 2019.

"Kondisi suhu dingin tersebut akan lebih terasa dampaknya seperti di wilayah dataran tinggi Dieng (Jawa Tengah) ataupun daerah pegunungan lainnya, di mana pada kondisi ekstrem dapat menyebabkan terbentuknya embun beku atau frost. Diprediksikan potensi kondisi suhu dingin seperti ini masih dapat berlangsung selama periode puncak musim kemarau, Juni-Juli-Agustus, terutama di wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara," jelas Mulyono.
(hri/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed