detikNews
Senin 24 Juni 2019, 15:10 WIB

Konferensi Pers, Kepala BMKG Jelaskan soal Gempa di Papua dan Maluku

Zakia Lilland Fajriani - detikNews
Konferensi Pers, Kepala BMKG Jelaskan soal Gempa di Papua dan Maluku Foto: Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (dua dari kiri) dalam konferensi pers soal gempa di Maluku dan Papua. (Zakia-detikcom)
Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan gempa bumi di wilayah Papua dan Maluku tidak berpotensi tsunami. Dwikorita juga memberi penjelasan rinci mengenai gempa itu.

"Perlu kami sampaikan juga informasi mengenai gempa bumi tektonik di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yaitu tepatnya pusat gempa di Laut Banda, tidak berpotensi tsunami," kata Dwikorita Karnawati saat konferensi pers di Gedung C, Kompleks BMKG, Jl. Angkasa 1, Gunung Sahari, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (24/6/2019).

Gempa bermagnitudo 6,1 terjadi di Papua dengan koordinat 2,67° LS dan 138,76° BT atau berjarak 85 km ke arah tenggara Kota Burmeiso, Kabupaten Membramo Raya berpusat di darat. Gempa ini merupakan gempa bumi dangkal dengan kedalaman 10 km yang terasa di beberapa kota lainnya seperti Wamena dan Jayapura.

"Goncangan gempa bumi ini dilaporkan dirasakan di wilayah Jayapura yaitu dengan skala MMI II-III. Dan kemudian di wilayah Sarmi dengan MMI III-IV, artinya ini dirasakan. dan juga, di wilayah Wamena dengan intensitas skala MMI 2, juga dirasakan," jelasnya.


Dwikorita mengatakan gempa itu akibat dari aktifitas penyesaran miring yang merupakan kombinasi antara pergerakan horizontal dan vertikal dari lempengan bumi. Sampai dengan pukul 13.00 WIB, dilaporkan sudah terjadi 27 kali gempa susulan dengan magnitudo 2,9-5,5.

Sementara, gempa di Laut Banda terjadi pada pukul 09.53.40 WIB dengan titik koordinat 6,44° LS dan 129,17° BT atau berlokasi di laut, di dasar laut, pada jarak 289 km ke arah barat laut Kota Saunlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Pusat gempa di kedalaman 225 km. Gempa ini merupakan gempa tektonik berkekuatan M 7,7 di 2,5 menit awal dan menurun menjadi M 7,4 setelahnya.

Berbeda dengan gempa di Papua, gempa di Laut Banda termasuk gempa kategori menengah namun tidak berpotensi tsunami. Gempa ini terjadi akibat adanya proses deformasi batuan di kawasan tersebut.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan gempa bumi menengah akibat aktifitas subduksi (zona) Laut Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan geser," lanjutnya.

Goncangan dari gempa Laut Banda ini dirasakan di beberapa daerah seperti Saumlaki, Tual, Sumbawa, Sorong, Dowo, Aloe, Fak-Fak, Kupang, Manokwari, Bima, Dongku, Banda, Ambon, Nabire, Merauke, Puncak Jaya bahkan sampai ke Denpasar. Gempa ini dirasakan dengan intensitas kekuatan yang berbeda antara MMI II-V.

Sampai dengan saat ini, BMKG belum menerima laporan adanya kerusakan yang diakibatkan oleh gempa di dua wilayah tersebut. BMKG juga terus melakukan pemantauan tinggi muka air laut di beberapa titik meskipun tidak tercatat adanya potensi tsunami

"Kami juga terus memantau, melakukan observasi pada alat pengukur tinggi muka air laut, tied gate di sekitar Maluku yaitu tied gate di Laut Banda, di Suamlaki dan di Pulau Kisar, serta tied gate di Bula dan tied gate di Namlea. Semuanya tidak mencatat adanya gelombang tsunami. Jadi, tidak ada indikasi terjadinya tsunami meskipun magnitudonya besar yaitu 7,4," papar Dwi.


BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi dengan isu yang beredar serta tetap memperbarui informasi melalui kanal-kanal yang telah disediakan oleh BMKG seperti melalui sosial media atau website di bmkg.go.id.

"Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh atas isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," himbau Dwi.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed