detikNews
Senin 24 Juni 2019, 14:44 WIB

Penembak Misterius 22 Mei Beraksi Sambil Tiarap?

Audrey Santoso - detikNews
Penembak Misterius 22 Mei Beraksi Sambil Tiarap? Salah satu titik kerusakan pasca rusuh 22 Mei/Foto: Lisye/detikcom
Jakarta - Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian-Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) Profesor Hermawan Sulistyo menganalisis penembak delapan korban Kerusuhan 22 Mei. kemungkinan membidik dengan posisi tiarap. Berdasarkan data autopsi yang diketahuinya, peluru yang menembus tubuh korban mengarah ke atas.

"Minimal sebagian korban sudut seluruhnya itu tidak sejajar, tembakannya mengarah ke atas. Yang lainnya sejajar , artinya orang yang nembak dalam posisi berdiri. Kalau sniper biasanya dari atas ke bawah, sniper itu biasanya mengambil posisi-posisi yang lebih atas, misalnya gedung," kata Hermawan kepada detikcom, Senin (24/6/2019).

Hermawan juga menuturkan analisisnya soal tembakan yang datang dari arah samping. Masih berdasarkan hasil autopsi yang diketahui dia, beberapa korban mengalami luka tembak di leher dan kepala sebelah kiri. Namun ada juga korban yang tertembak dari arah depan.

"Dibidik dari samping, itu kan analisis saya. Tapi kalau hasil otopsinya yang jelas begitu, ditembaknya leher sebelah kiri, kepala sebelah kiri kok. Ada yang dari depan, yang kena matanya itu dari depan," ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara.

Ditanyai soal kemungkinan asal tembakan dari aparat kepolisian, Ketua Tim Asistensi TGPF Kerusuhan 1998 ini menjelaskan bukan ciri khas polisi menembak dengan satu peluru (single bullet).



"(Pelaku) orang-orang yang punya pengalaman. Menembak dari jarak jauh dengan single bullet dan mematikan itu tidak sembarangan orang. Polisi ciri khasnya nembaknya random, atau dari depan atau dari belakang," tutur dia.

"Itu tembakan beberapa sudutnya naik. Artinya apa, artinya yang nembak itu tiarap. Kalau polisi kan nggak mungkin tiarap. Orang lagi rusuh begitu massa dia (polisi) merayap, kan dia lagi mengendalikan massa. Kan nggak mungkin polisi itu tiarap lalu menembak dari bawah. Analisa saya itu mustahil dalam kondisi rusuh polisi malah tiarap," sambung Hermawan.


(aud/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed