detikNews
Jumat 21 Juni 2019, 18:33 WIB

Cerita Warga Rohingya Mengungsi ke Bangladesh Demi Rasa Aman

Nurcholis Maarif - detikNews
Cerita Warga Rohingya Mengungsi ke Bangladesh Demi Rasa Aman Foto: Dok. ACT
Jakarta - Kadera Mia, salah satu warga Rohingya, bercerita terpaksa meninggalkan rumahnya di Rakhine, Myanmar dan memilih mengungsi ke Cox's Bazar, Bangladesh, bersama delapan anaknya untuk mencari tempat yang lebih aman.

"Kekerasan dan kekejaman yang terjadi tanpa henti memaksa kami pindah ke sini satu setengah tahun lalu. Banyak yang telah kami korbankan," ucap Mia dalam keterangan tertulis Jumat (21/6/2019).

Mia juga mengatakan harus terpisah dengan istrinya yang menurutnya kemungkinan besar telah dibunuh oleh militer Myanmar. Mia, kedelapan anaknya, dan warga Rohingya lain menembus pegunungan Buthidaung, menyusuri sungai Naf, lalu menuju Cox's Bazar, wilayah paling selatan Bangladesh untuk mencari tempat yang lebih aman.


"Kami orang-orang Rohingya tinggal di kamp pengungsian. Sungguh, sangat sulit hidup sebagai kami dan kami tidak tahan lagi dengan situasi seperti ini. Ada begitu banyak etnis yang hidup selayaknya manusia di Myanmar, mengapa Rohingya tidak bisa seperti itu?" ungkap Mia.

Berdasarkan data PBB dan pemerintah Bangladesh, per Juni 2019 lebih dari 200 ribu rumah tangga atau hampir setara dengan satu juta jiwa Rohingya terdaftar menjadi pengungsi. Jumlah tersebut kian bertambah jika dibandingkan dengan jumlah orang Rohingya yang eksodus dari Rakhine, Myanmar ke Bangladesh dua tahun lalu.

Selain mengungsi ke Bangladesh, beberapa warga Rohingya juga memilih mengungsi ke negara-negara lainnya menggunakan kapal. Namun, nasib mereka masih tidak menentu sebab harus menghadapi lautan selama beberapa minggu dan bulan serta penerimaan negara tujuan yang tak menentu.

Sebuah kapal yang mengangkut 65 warga Rohingya dikabarkan terdampar dalam kondisi nyaris karam di perairan Thailand Selatan. Sebanyak 29 laki-laki dan 31 perempuan berkebangsaan Myanmar ditemukan di Pulau Rawi, Thailand. Berdasarkan pengakuan salah seorang muslim Rohingya, mereka sudah menumpangi kapal tersebut selama beberapa bulan terakhir untuk mencapai Malaysia.


Kejadian serupa terjadi di Indonesia pada 20 April 2018 lalu. Kala itu, kapal yang ditumpangi muslim Rohingya juga pernah terdampar di kawasan Kuala Raja, Aceh. Selama lebih kurang satu minggu sebanyak 79 muslim Rohingya terombang-ambing di tengah lautan. Nasib mereka sama tidak menentunya seperti hidup mereka di Myanmar maupun di negara tujuan berikutnya.

Nasib warga Rohingya yang tidak menentu, tertindas, dan terancam penghapusan etnis ini menjadi perhatian dunia dan lembaga amal, termasuk Aksi Cepat Tanggap (ACT). ACT melalui program-program regulernya berkomitmen untuk menemani dan mendampingi pengungsi wagra Rohingya, termasuk yang ada di Bangladesh.
(prf/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com