detikNews
Kamis 20 Juni 2019, 19:30 WIB

Round-Up

Mahfud Md Mentahkan Kesaksian Keponakan

Tim detikcom - detikNews
Mahfud Md Mentahkan Kesaksian Keponakan Mahfud Md (Foto: Dok. Sinarmas)
FOKUS BERITA: Putusan MK Pilpres 2019
Jakarta - Mahfud Md mementahkan kesaksian sang keponakan, Hairul Anas Suaidi. Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menilai Anas belum bisa membuktikan dalil gugatan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno soal adanya kecurangan di Pilpres 2019.

Anas merupakan saksi tim hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam sidang gugatan Pilpres di MK yang dihadirkan untuk memberikan kesaksian soal materi 'kecurangan bagian dari demokrasi'. Dalam kesaksiannya, caleg PBB itu mengaku mendapat materi 'kecurangan bagian dari demokrasi' saat mengikuti pelatihan saksi dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin.


Mahfud Md Mentahkan Kesaksian KeponakanHairul Anas Suaidi (Foto: YouTube Vasco Ruseimy)

Anas mendapat materi pelatihan itu di sebuah hotel di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada 20-21 Januari 2019. Materi itu, kata Anas, ditayangkan saat Kepala Staf Presiden Moeldoko menjadi salah satu pembicara.

"Saya mendapatkan materi pelatihan 2 hari, itu di mana ingatan saya, juga ada slide-nya pertama adalah ada satu slide materi 'Kecurangan Bagian dari Demokrasi', materi ini di-upload ke suatu drive, dan ditayangkan pada saat Bapak Moeldoko, kalau tidak salah," kata Anas saat persidangan di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (20/6/2019).

"Materi yang disajikan ada yang cukup mengagetkan, dan saya merasa perlu untuk menampilkan ke majelis yang mulia, bahwasanya ada materi ini, ini masih bisa di-download halaman drive yang akan saya sampaikan tertulis, supaya bisa diakses mahkamah," imbuhnya.



Kesaksian Anas pun mengundang komentar dari sang paman. Mahfud Md menilai kesaksian Anas mentah. Anas, menurut dia, tak bisa membuktikan bahwa Moeldoko menyuruh saksi dari TKN untuk berlaku curang.

"Kesaksiannya sih mentah menurut saya. Pertama, dia mengatakan ada pidato dari Moeldoko bahwa di demokrasi itu biasa curang. Semua orang kan bilang begitu, tidak hanya Moeldoko, tetapi Moeldoko kan tidak menyuruh orang curang. Wong di bukunya Magnis Suseno itu ada buku etika politik, dikatakan etika politik itu penting, tapi etika politik itu tidak ada di lapangan, hanya ada di bangku kuliah. Kan sama dengan mengatakan itu," kata Mahfud saat ditemui di kantor BPIP, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat.

Tak hanya perihal materi 'kecurangan bagian dari demokrasi', Mahfud juga menilai kesaksian Anas yang mengatakan TKN Jokowi-Ma'ruf menyeru warga golput agar 01 menang adalah kesaksian yang mentah. Sebab, pernyataan Anas bertolak belakang dengan ajakan Jokowi dan TKN kepada warga untuk tidak golput selama ini.

"Karena 73 persen dari hasil survei, orang yang mau golput itu ditanya mau pilih Jokowi. Itu kan hasil surveinya begitu. Golput itu banyak, tapi Anda mau golput? 'Biarlah saya golput saja.' Nah, anak-anak milenial itu kan 'saya golput saja, males ke TPS'. Tapi seandainya Anda milih, milih siapa? Milih Jokowi 73 persen, masa (TKN) mau nyuruh golput. Oleh sebab itu, TKN lalu bicara jangan golput. Itu (kesaksian Anas) saya kira keliru," jelasnya.


Kesaksian lainnya yang dinilai Mahfud sebagai kesaksian mentah adalah pernyataan Hairul Anas yang menyebut pemerintah menggunakan aparat agar Jokowi menang. Menurut Mahfud, aparat memang memiliki tugas mengkampanyekan program dan keberhasilan pemerintah.

"Itu sudah biasa saja, tapi kan tidak curang. Artinya, dari kesaksian (Hairul Anas) yang disampaikan itu, ya semuanya mentah, tidak ada kaitannya dengan kecurangan. Dan bukan kecurangan," ucap Mahfud.



Tonton juga video Kubu 02 Enggan ke MK, Mahfud Md: Berarti Masalah Selesai:

[Gambas:Video 20detik]


(mae/imk)
FOKUS BERITA: Putusan MK Pilpres 2019
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com