detikNews
2019/06/20 05:40:51 WIB

Round-Up

Polisi Pantau WhatsApp: Bukan Hasil Sadapan tapi Awasi Unggahan

Tim detikcom - detikNews
Halaman 2 dari 2
Polisi Pantau WhatsApp: Bukan Hasil Sadapan tapi Awasi Unggahan Foto ilustrasi (Justin Sullivan/Getty Images)

Bukan menyadap

Bagaimana cara polisi berpatroli siber ke grup-grup WA? Polisi memberi penjelasan, patroli tidak dilakukan dengan cara diam-diam seperti menyadap. Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra menjelaskan, polisi berpatroli dengan memantau tangkapan layar percakapan WA yang diunggah di media sosial.

"Kita menggunakan WhatsApp itu adalah sebuah capture. Bukan kita langsung mengawasi percakapan di grup itu," jelas Asep di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019).

Polisi Pantau WhatsApp: Bukan hasil Sadapan tapi Awasi UnggahanKabag Penum Polri Kombes Asep Adi Saputra/Audrey Santoso detikcom

Ada langkah-langkah yang dijalankan polisi dalam berpatroli siber. Pertama, polisi akan menjalankan langkah pencegahan terlebih dahulu, yakni memantau akun-akun ang menyebarkan konten-konten hoax, kemudian ujaran kebencian, kemudian provokatif, dan berbau SARA. Polisi melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap akun yang bersangkutan.


Kedua, bila akun yang sudah dikenai sosialisasi dan edukasi itu tetap menyebarkan konten yang melanggar hukum maka polisi akan melakukan langkah penegakan hukum. Ketiga, Laboratorium Forensik Digital akan menggali secara detail penyebaran konten hoax itu.

Tak semua grup WA

Jika hoax dan ujaran kebencian itu tidak hanya disebar tersangka melalui media sosial, tapi juga grup WA, Polri akan memantau grup WA ini. Di sini lah Polri akan mulai memantau grup WA yang terkait dengan tersangka. Dedi meluruskan bahwa bukan seluruh grup WA akan dipantau Polri, melainkan yang terkait dengan kasus hukum. Ponsel tersangka akan menjadi jalan masuk pemantauan grup WA berisi konten melanggar hukum.


"Jadi nggak ada kita melaksanakan kegiatan patroli WA. Kalau kita melaksanakan patroli WA, nggak mungkin juga. Nggak mungkin juga kita cukup tenaga, cukup teknologi untuk memantau seluruh WA yang dimiliki oleh hampir 150 juta manusia Indonesia yang menggunakan alat komunikasi berupa handphone. Itu 150 juta (orang). Tapi pengguna handphone aktif sekarang ini sudah 330 juta manusia di Indonesia. Artinya satu orang itu lebih dari menggunakan satu atau dua handphone. Itu impossible untuk kita lakukan," sambung Dedi.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara turut berkomentar. Rudiantara menjelaskan pemantauan tersebut bukan seperti patroli yang tiba-tiba mencegat. Patroli hanya khusus dikenakan ke orang-orang yang terindikasi melanggar hukum.

"Patroli yang dimaksud teman-teman Polri yang saya baca itu bukan patroli, bukan sebagaimana patroli tiba-tiba ada jalan, masuk, itu nggak. Itu harus committed terhadap crime," kata Rudiantara saat ditemui wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/6/2019).
(dnu/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com