detikNews
2019/06/19 05:59:55 WIB

Round-Up

Air Mata dalam Nota Pembelaan Ratna

Tim detikcom - detikNews
Halaman 2 dari 2
Air Mata dalam Nota Pembelaan Ratna Ratna Sarumpaet menangis membacakan pledoi. (Lamhot Aritonang/detikcom)

Dia juga bersikukuh bahwa akibat dari hoax yang dia sebarkan bukanlah keonaran. Soalnya, Ratna memahami keonaran sebagai bentrok fisik seperti peristiwa Mei 1998 silam. Adapun kebohongan yang dia sebarkan tidak menimbulkan bentrok fisik, kerusakan fasilitas umum, atau korban jiwa. Kebohongan yang dia sebarkan sebenarnya hanya urusan pribadi saja.

"Saya tidak mengerti keonaran seperti apa yang dimaksud JPU (jaksa penuntut umum) yang telah terjadi akibat kebohongan saya. Keonaran yang saya tahu dan diketahui secara umum adalah terjadinya kerusuhan atau amukan massa yang hanya bisa dihentikan oleh aparat kepolisian," kata Ratna.

Ratna didakwa melanggar Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, yakni keonaran. Berikut bunyinya:

Pasal 14

(1) Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

(2) Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat
menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum
dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Soal yang dikomplain oleh Ratna, Ahli bahasa Dr Wahyu Wibowo yang dihadirkan di persidangan pada 25 April pernah menjelaskan bahwa keonaran tak harus selalu bermakna keributan fisik. Keonaran bisa saja bermakna membuat orang bertanya-tanya dan gaduh.


Tangan kiri Ratna masih memegang mikropon. Ratna yang berkerudung putih kemudian menyatakan hoax itu merupakan perbuatan terbodohnya selama ini. Akibatnya adalah sanksi sosial yang dia rasakan sangat berat. Reputasinya hancur berkeping-keping di mata publik.

"Saya dianggap sebagai ratu pembohong," kata Ratna.

Dia kemudian meminta maaf kepada masyarakat karena telah berbohong. Dia memohon dibebaskan oleh majelis hakim dari segala tuntutan. Sebab, menurut Ratna lebih baik membebaskan 1.000 orang bersalah daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah. Di usia senjanya, Ratna ingin kembali berkumpul bersama keluarganya.

"Sebagian besar kehidupan saya berada di sekitar anak-anak saya. Mohon kembalikan saya kepada mereka. Mohon kembalikan saya ke pelukan anak-anak saya," pintanya.


Bacakan Nota Pembelaan, Ratna: Kasus Saya Sarat Politisasi:

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com