detikNews
2019/06/19 05:59:55 WIB

Round-Up

Air Mata dalam Nota Pembelaan Ratna

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 2
Air Mata dalam Nota Pembelaan Ratna Ratna Sarumpaet menangis membacakan pledoi. (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Ratna Sarumpaet berlinang air mata kala membacakan pledoinya di depan hakim. Terdakwa kasus hoax penganiayaan itu mengakui perbuatan bodoh yang telah membuatnya dicap sebagai 'Ratu Hoax', namun dia bersikukuh bahwa dirinya telah berbuat onar.

Di atas kursi pesakitan ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera, Selasa (18/6/2019), tangan kiri seniman teater cum aktivis itu memegang lembaran teks pledoi. Namun kertas itu harus dia letakkan di pangkuan demi menyeka matanya yang basah.


Perempuan itu terisak dan melanjutkan pembacaan nota pembelaannya, kertas itu dia pegang lagi menggunakan tangan yang terbasahi air mata. Dia bicara.

"Sulit dipungkiri betapa kasus berita bohong yang menimpa saya sudah sejak awal sarat dengan politisasi. Media massa, media sosial/netizen, politisi, bahkan proses penyidikan berusaha keras menggiring opini publik seolah saya telah dengan sengaja menciptakan dan menyebarkan kebohongan demi kepentingan salah satu pasangan calon presiden," kata Ratna.


Sebagaimana diketahui, kasus Ratna ini bermula dari kabar bahwa dirinya telah dianiaya. Belakangan terungkap, itu cuma kebohongan Ratna saja. Namun kubu pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga Uno telanjur menggelar jumpa pers menyikapi kabar penganiayaan itu. Ratna mengaku, dia tak punya motif politik di balik penyebaran hoax bahwa dirinya dianiaya. Hoax itu dia kabarkan cuma untuk menutupi fakta bahwa dirinya telah melakukan operasi kecantikan saat usianya nyaris kepala tujuh.

"Semata-mata untuk menutupi pada anak-anak saya dalam usia saya yang sudah lanjut saya masih melakukan operasi plastik sedot lemak," ungkapnya.

Dia mengaku hanya berbohong pada keluarga terdekatnya saja, dia menyebutnya berjumlah tujuh orang. Adapun tujuan dia bertemu dengan tokoh-tokoh politik kubu Prabowo-Sandi yakni untuk berbicara mengenai duit raja-raja Nusantara, yang belakangan diketahui itu hanyalah penipuan belaka. Ratna kesal Jaksa Penuntut Umum hanya mempertimbangkan ahli yang memberatkannya, namun ahli yang meringankan tak dipertimbangkan.

"Jaksa penuntut umum secara terang-terangan mengabaikan kesaksian Saudara Teguh Arifiadi sebagai Ahli ITE dari Menkominfo yang notabene ahli dari pemerintah yang mengatakan bahwa 'tidak ada keonaran di media sosial, yang ada trending topic'," ujar dia.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com