detikNews
Selasa 18 Juni 2019, 11:05 WIB

Cerita Surga dari Jakarta

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Cerita Surga dari Jakarta Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Aroma kopi yang keluar dari gelas plastik kecil menyegarkan hidung saat Ahmad mengaduk kopi yang baru saja diseduhnya. Setelah menyesap sedikit kopi panasnya, ia merapikan puluhan renteng berbagai merek kopi dan minuman siap saji lainnya yang dijejalkan pada setang sepedanya yang mulai berkarat. Bagian belakang sepedanya dipenuhi termos air panas, termos es, dan ratusan gelas plastik. "Saya keluar (jualan keliling) sore," ujarnya kepada detikX, Selasa pekan lalu, di kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Ahmad berbicara agak terbata-bata dengan logat Madura yang kental. Pemuda berusia 18 tahun itu baru setahun hijrah ke Jakarta dari wilayah Plampaan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Tekanan kondisi ekonomi keluarganya membuat Ahmad lebih tertarik menuruti ajakan kawannya mencari nafkah di Ibu Kota ketimbang menyelesaikan sekolahnya di sebuah sekolah menengah atas. "Buat saya, pilihan hanya merantau keluar dari kampung," katanya.

Baca Juga: Bang Ali pun Takluk pada Urbanisasi

Merantau, bagi Ahmad, tampaknya lebih menjanjikan perbaikan nasib. Bukan hanya Ahmad, meninggalkan kampung merupakan hal yang lumrah bagi pemuda seumurannya. Mereka memilih pindah ke kota-kota besar atau berangkat ke Malaysia jadi buruh migran di perkebunan sawit. "Kalau tak punya sawah atau kebun sendiri, tinggal di kampung ya hanya jadi buruh tani," ujarnya.

Kota Jakarta pun jadi tujuannya karena mendengar cerita mudahnya mendapat uang dari kawan-kawannya yang sudah lebih dulu keluar dari kampung. "Ketimbang di Surabaya, lebih enak Jakarta. Lebih ramai," katanya. Ahmad mengaku dalam sehari mampu memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp 200 ribu. "Penghasilan ini jelas lebih besar ketimbang hidup di kampung jadi buruh tani," ujarnya. Namun ia harus rela tidur berimpitan di kamar sempit berdinding kayu.

Baca Juga: Ibu Kota Mau Ke Mana?

Jakarta memang masih menjadi kota primadona para pencari kerja dari seluruh penjuru Tanah Air. Bukan hanya prestisenya sebagai ibu kota, Jakarta juga merupakan pusat bisnis sekaligus pusat administrasi pemerintahan dan kekuasaan politik. Jadinya impian sukses di Jakarta bak cerita surga yang menggoda. Bukan hanya para tenaga kerja profesional dan terdidik yang menyerbu Kota Jakarta. Sebagian besar justru tenaga kerja tanpa pendidikan dan keterampilan sama sekali.

Laporan Statistik Migrasi Indonesia yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan Survei Penduduk Antar-Sensus 2015, arus migran risen yang masuk DKI Jakarta hampir 500 ribu jiwa. Disebut migran risen jika provinsi tempat tinggal lima tahun yang lalu berbeda dari provinsi tempat tinggal sekarang. Tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten, menjadi provinsi asal terbesar para migran tersebut.

Ulasan selengkapnya dapat Anda baca di detikX edisi 17 Juni 2019


(pal/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed