detikNews
2019/06/18 05:50:58 WIB

Round-Up

Seruan Kosong-kosong hingga Berakhirnya Kampret-Cebong

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 2
Seruan Kosong-kosong hingga Berakhirnya Kampret-Cebong Ilustrasi setop 'Cebong-Kampret' (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta - Pilpres 2019 memunculkan kelompok kampret dan cebong. Kini Pilpres sudah menjelang pungkasan, di momen Syawal ini seruan untuk saling memaafkan bergema guna mengakhiri persaingan kampret vs cebong.

Sebagaimana diketahui, kampret adalah sebutan untuk pendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Cebong adalah sebutan untuk pendukung 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Istilah cebong, kampret, 01, dan 02 dinilai semakin tidak relevan.

"Jadi sekarang ini, mohon maaf, tidak perlu lagi ada 01, tidak perlu lagi ada 02, yang ada adalah kosong-kosong," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (17/6/2019).




Istilah 'kosong-kosong' memang lekat dengan budaya saling bermaaf-maafan dalam suasana lebaran. Kosong-kosong juga perlu diwujudkan di momen rekonsiliasi politik. Momen itu didorong Muhammadiyah untuk segera terwujud supaya pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo berdamai.


Seruan Kosong-kosong hingga Berakhirnya Kampret-CebongSekum Muhammadiyah, Abdul Mu'ti (Jefrie/detikcom)


"Ya kami mendukung (rekonsiliasi), bahkan kami menyampaikan permohonan kepada beliau (Prabowo-Jokowi) untuk pertemuan bisa dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya pada kesempatan pertama," kata dia.




Memang, kini sengketa hasil Pilpres 2019 masih diproses lewat persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Namun begitu putusan MK diketok nanti, diharapkan pembelahan diametral di masyarakat bakal segera terobati. Harapan ini diutarakan oleh tokoh dari kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, yakni Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

"Kan ini kan temen sendiri. Jadi nggak ada tuh kampret cebong. Itu harus udah selesai, nggak ada lagi. Sana temen, BPN temen, kita bukan lawan Belanda. Jadi apapun saya kira keputusan MK pasti akan diterima dengan baik, dihormati," kata Zulkifli di kediamannya, Jl Nusa Indah Raya, Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (15/6) kemarin.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed