detikNews
Sabtu 15 Juni 2019, 19:48 WIB

Diundang ke Kantor Pusat FAO di Roma, Rektor IPB Bicara Agromaritim 4.0

Herianto Batubara - detikNews
Diundang ke Kantor Pusat FAO di Roma, Rektor IPB Bicara Agromaritim 4.0 Foto: Rektor IPB Dr Arif Satria di Kantor Pusat FAO di Roma, Italia (ist)
Roma - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, diundang ke kantor Food Agriculture Organization (FAO) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia di Roma, Italia. Di sana, dia memaparkan soal agromaritim 4.0 dan memperkenalkan berbagai inovasi digital karya dosen dan mahasiswa IPB.

Arif secara khusus diundang untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam pertemuan tentang 'Digital Agriculture: Challenges to be Addressed'. Agenda ini dilaksanakan di Kantor Pusat FAO di Roma, Italia pada 12-13 Juni 2019. Arif merupakan satu-satunya pembicara dari unsur perguruan tinggi.

Dalam pidatonya, Arif memaparkan konsep IPB tentang Agromaritim 4.0 dan memperkenalkan 25 inovasi digital karya dosen dan mahasiswa IPB baik untuk adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim, serta untuk ketahanan pangan.


Beberapa inovasi yang dikenalkan Arif adalah tentang Fire Risk System (FRS) yang merupakan system digital yang mampu memprediksi kebakaran hutan untuk 6 bulan ke depan di 10 provinsi. Sistem ini sudah disampaikan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Begitu juga National Forest Monitoring untuk peringatan dini deforestasi.

Selain itu Arif juga mengenalkan Underwater Televisual System (UTS) untuk memonitor ekosistem bawah laut secara digital, dan TrekFish yang merupakan alat perekam jejak jalur penangkapan ikan yang penting untuk mendukung Seafood Import Monitoring (SIM) dan menjamin keterlusuran. Sementara itu untuk menunjang ketahanan pangan, inovasi IPB yang dipaparkan Arif antara lain Smart Seed, yang merupakan aplikasi yang menggunakan satelit, pemodelan iklim, big data, dan internet of things berbasis android untuk 100 ribu petani sayuran di Indonesia.

Selain itu ada juga sistem pintar pengendalian hama dan penyakit tanaman, sistem pintar pengembangan agrologistik berbasis blockchain, serta PreciPalm yang merupakan sistem rekomendasi pemupukan presisi berbasis satelit agar pemupukan lebih efisien dan efektif.

Acara yang dibuka langsung oleh Director General FAO Jose Graziano da Silva ini dihadiri sekitar 250 peserta dari negara anggota baik para menteri, duta besar, para pejabat kementrian, serta pimpinan FAO dan lembaga multilateral. Hadir dalam forum ini Duta Besar RI di Roma Esti Andayani didampingi Atase Pertanian Ida Ayu Ratih.

Dalam kesempatan tersebut, Arif menyampaikan bahwa pertanian digital sudah menjadi keniscayaan. Namun demikian juga perlu disadari bahwa kondisi dunia ketiga dicirikan dengan mayoritas petani skala kecil. Oleh karena itu, pengembangan pertanian digital menghadapi tantangan tersendiri.

Arif mengusulkan empat strategi pertanian digital untuk negara berkembang. Pertama, pengembangan masyarakat di pedesaan agar lebih siap dalam memanfaatkan inovasi digital. IPB menurutnya pernah mengembangkan peningkatan literasi digital petani di 8 provinsi dan 17 kabupaten bekerja sama dengan Kemenkominfo. Selain itu juga program Precision Village yang membantu masyarakat desa melakukan perencanaan desa presisi berbasis data dan teknologi digital dengan menerapkan pemetaan partisipatif berbasis drone.


Kedua, Arif juga menjelaskan soal peta jalan riset Agro-Maritim 4.0, agar riset-riset lebih terarah dengan hasil yang terukur dan bermanfaat secara konkrit di masyarakat. Ketiga, kerangka implementasi konsep Agro-Maritim 4.0 agar pelaku usaha dari berbagai lapisan sosial mampu menerapkan model pertanian digital ini. Menurutnya ni penting karena pelaku agro-maritim di dunia ketiga beragam, ada yang sudah siap dengan teknologi dan ada yang belum.

"Di sinilah kolaborasi antar pemangku kepentingan diperlukan, dan perlu dukungan lembaga internasional seperti FAO dan IIFAD," ujar Arif dalam keterangannya, Sabtu (15/6/2019).

"Keempat, kerangka regulasi harus segera disiapkan, mumpung implementasi pertanian digital ini belum cukup marak. Selama ini regulasi selalu terlambat dibandingkan dengan perkembangan teknologi. Dalam regulasi ini perlu ditekankan afirmasi untuk petani skala kecil sehingga mereka bisa menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian modern ini," sambungnya.
(hri/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed