detikNews
Kamis 13 Juni 2019, 21:33 WIB

Round-Up

Jepang Tengahi Ketegangan Amerika Serikat dan Iran

Tim detikcom - detikNews
Jepang Tengahi Ketegangan Amerika Serikat dan Iran Foto: Official Khamenei website/Handout via REUTERS
Jakarta - Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe bakal bertemu dengan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan Presiden Iran Hassan Rouhani dalam kunjungan ke Teheran pekan ini. Kunjungan ini disebut sebagai upaya Jepang guna menengahi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Diketahui, Iran dan AS memang sedang terlibat dalam ketegangan panas. Presiden AS Donald menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Kesepakatan itu mengatur pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi-sanksi. Bahkan, pada Jumat (24/5), Pentagon mengumumkan pengerahan 1.500 tentara tambahan ke Timur Tengah.


Pentagon menyebut pengerahan ini merupakan upaya untuk melindungi diri dari potensi ancaman Iran. Trump dalam pernyataannya menyebut pengerahan tersebut bersifat sebagai perlindungan. AS mengerahkan pasukan serbu kapal induk USS Abraham Lincoln, satu skuadron pesawat pengebom B-52, dan rudal-rudal Patriot ke kawasan tersebut dalam langkah yang disebut untuk menangkal 'ancaman kredibel' Iran.

Seperti dilansir AFP, Trump bahkan tak menghendaki perubahan rezim di Iran. AS hanya tidak ingin ada senjata nuklir di Iran.

"Kami tidak mencari perubahan rezim, saya hanya ingin memperjelas itu. Kami menginginkan tidak ada senjata nuklir," Kata Trump, Senin (27/5/2019).

Lantas, seperti dilansir Reuters, Selasa (11/6), PM Abe akan berangkat ke Iran pada Rabu (12/6) besok. Selama berada di Teheran, PM Abe akan bertemu Presiden Rouhani pada Rabu (12/6) waktu setempat dan bertemu dengan Khamenei pada Kamis (13/6) mendatang.



Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama ke Iran oleh seorang PM Jepang yang masih aktif menjabat dalam 41 tahun terakhir. Jepang dan Iran selama ini diketahui memang memiliki hubungan dekat dan baru saja memperingati 90 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

"Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, kami berencana mendorong Iran, kekuatan kawasan, untuk bergerak maju dalam meredakan ketegangan dalam pertemuan pemimpin tertinggi," ucap Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga, yang mengumumkan secara resmi kunjungan itu pada Selasa (11/6) ini.


Suga menuturkan, PM Abe sudah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump via telepon untuk membahas isu Iran. Sebelumnya, dalam kunjungan selama empat hari ke Jepang bulan lalu, Trump menyambut baik bantuan dari PM Abe untuk turut mengurusi isu Iran, setelah televisi nasional Jepang, NHK, melaporkan bahwa PM Abe mempertimbangkan kunjungan ke Teheran.

Para pakar menyebut rencana kunjungan PM Abe ke Iran itu sebagai 'langkah berani' bagi seorang pemimpin Jepang. Menurut sejumlah pakar diplomatik, PM Abe berada dalam posisi unik berkat hubungan dekatnya dengan Trump yang terjalin sejak pemimpin AS itu menjabat dan hubungan baik antara Jepang dengan Iran.

"Abe berupaya memainkan peran pembawa pesan dan meredakan ketegangan. Itu merupakan langkah berani. Saya pikir itu datang dari keyakinannya dalam hubungan personal dengan Trump," sebut Toshihiro Nakayama selaku peneliti Jepang pada Wilson Center di Washington, AS.

Jepang diketahui mengharapkan stabilitas di kawasan Timur Tengah tetap terjaga. Sebab, negara itu mengimpor minyak dari kawasan tersebut, meskipun telah berhenti membeli minyak Iran pada tahun ini karena sanksi AS.

Beberapa pakar sedikit mengecilkan prospek dari kunjungan itu. "Tujuan dari kunjungan ini bukan untuk mediasi. Ini pada dasarnya isu bilateral dan jika ada urusan tambahan untuk ditangani, kami akan melakukannya secara hati-hati," sebut mantan diplomat Jepang, Kunihiko Miyake, dalam pernyataannya.

Kendati demikian, para pakar menyatakan bahwa PM Abe punya peluang membujuk Iran dan AS untuk kembali pada perundingan langsung.
(rdp/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com