detikNews
Kamis 13 Juni 2019, 19:22 WIB

Di Sidang IMO, Indonesia Dukung Keselamatan Kapal Penyeberangan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Di Sidang IMO, Indonesia Dukung Keselamatan Kapal Penyeberangan Foto: ASDP Ferry (Persero)/Dok situs resmi ASDP Ferry
Jakarta - Indonesia terus berperan aktif dalam sidang International Maritime Organization (IMO) Maritime Safety Committe (MSC) ke 101 di London, Inggris yang telah berlangsung dari tanggal 5 hingga 14 Juni 2019, salah satu yang menjadi pembahasan penting mengenai Domestic Ferry Safety atau keselamatan kapal penyeberangan.

Pada kesempatan tersebut, Indonesia memberikan dukungannya atas proposal peningkatan keselamatan kapal penyeberangan (A new output to introduce a comprehensive approach to enhance domestic ferry safety) yang disampaikan oleh Pemerintah China.

Menurut Kepala Distrik Navigasi Kelas I Dumai Raymond Sianturi, Indonesia sangat mendukung penuh segala upaya yang di lakukan negara anggota IMO untuk meningkatkan keselamatan kapal penyebarangan. Melalui Kemenhub pihaknya telah mengeluarkan kebijakan nasional untuk meningkatkan keselamatan penumpang.

"Indonesia terus melakukan upaya peningkatan keselamatan kapal penyeberangan dengan mengeluarkan kebijakan dan memastikan adanya perbaikan pada implementasi standar keselamatan kapal penyeberangan seperti pelaksanaan lashing kendaraan, kepastian tidak adanya kapasitas kapal yang berlebihan," ujar Raymond dalam keterangannya Kamis (13/6/2019).


"Memastikan terpenuhinya standar kelaiklautan kapal melalui pemeriksaan sertifikat kapal penyeberangan yang beroperasi di perairan Indonesia juga memastikan alat keselamatan di atas kapal," imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Raymond juga menyampaikan bahwa Indonesia melalui Kemenhub telah melaksanakan workshop Hazid/Scoping Exercise on Domestic Ferry Safety di bulan November 2018 dalam kerangka kerjasama IMO Integrated Technical Cooperation Program (ITCP) sebagai bentuk tanggung jawab Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kompetensi SDM di bidang maritim.

"Indonesia secara nyata juga telah bekerjasama dengan Singapura terkait peningkatan keselamatan kapal penyeberangan di wilayah perairan Singapura, Batam dan sekitarnya," jelas Raymond.

Lebih lanjut, Raymond mengatakan bahwa Indonesia mengusulkan agar IMO bisa mempertimbangkan pengembangan kapasitas SDM untuk mengatasi perkembangan teknologi terbaru mengingat kebutuhan transfer teknologi sangat penting.

"Karakteristik negara kepulauan dan penggunaan teknologi ramah lingkungan dapat berkontribusi pada pencapaian SDG.14 tentang kehidupan di bawah air," jelas Raymond.


Sementara itu, Indonesia dengan 18 negara anggota Dewan IMO lainnya juga terlibat aktif terhadap keputusan mengamandemen sejumlah konvensi wajib yang dikeluarkan oleh IMO sebelumnya.

Sebut saja, konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS) 1974 dan koda-koda lainnya seperti Fire Safety System (FSS) Code, International Code of Safety for Ships Using Gases or Other Low Flashpoint Fuel (IGF Code), Life Saving Appliance (LSA) Code, International Code for the Construction and Equipment of Ships Carrying Dangerous Chemicals in Bulk (IBC Code), Enhanced Programme of Inspection during Surveys of Bulk Carrier (ESP) Code dan International Maritime Solid Bulk Cargoes (IMSBC) Code.

"Indonesia memberikan kontribusinya terhadap rencana amandemen sejumlah konvensi wajib yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi terkini dari sektor maritim di Indonesia dan juga dunia. Adapun amandemen tersebut dilakukan terhadap konvensi-konvensi yang telah diratifikasi Indonesia," tutup Raymond.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed