detikNews
Kamis 13 Juni 2019, 14:46 WIB

Kasus Suap, 2 Hakim PN Jaksel Dituntut 8 Tahun Penjara

Faiq Hidayat - detikNews
Kasus Suap, 2 Hakim PN Jaksel Dituntut 8 Tahun Penjara Sidang kasus suap 2 hakim PN Jaksel di Pengadilan Tipikor, Kamis (13/6/2019) Foto: Faiq Hidayat-detikcom
Jakarta - Hakim PN Jakarta Selatan Iswahyu Widodo dan Irwan dituntut 8 tahun penjara, dan denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. Kedua hakim itu diyakini jaksa bersalah menerima uang Rp 150 juta dan SGD 47 ribu.

"Menuntut supaya majelis hakim yang mengadili dan memeriksa perkara ini, menyatakan terdakwa Iswahyu Widodo dan Irwan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dan berlanjut," kata jaksa pada KPK Kiki Ahmad Yani saat membacakan surat tuntutan dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Kamis (13/6/2019).

Dalam persidangan, Panitera Pengganti PN Jakarta Timur M Ramadhan juga dituntut 6 tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. M Ramadhan menjadi perantara suap untuk kedua hakim itu.





Ramadhan menerima uang Rp 30 juta dari Direktur CV Citra Lampia Mandiri (CLM) Martin P Silitonga. Sedangkan R Iswahyu Widodo dan Irwan menerima Rp 150 juta dan SGD 47 ribu dari Martin melalui pengacara Arif Fitrawan. Uang suap itu untuk mempengaruhi putusan perkara perdata yang melibatkan CV CLM.

"Uang itu diberikan dengan tujuan untuk mempengaruhi putusan perkara perdata mengenai gugatan pembatalan perjanjian akuisisi antara CV CLM dan PT Asia Pasific Mining Resources yang ditandatangani oleh terdakwa masing-masing sebagai ketua majelis hakim dan hakim anggota agar putusannya memenangkan penggugat," kata jaksa.

Kasus ini bermula, ketika Arif Fitrawan berdiskusi dengan Martin dan Direktur CV CLM Isrullah Achmad untuk mengusulkan 'mengurus' kepada majelis hakim. Untuk 'mengurus' tersebut, Arif meminta bantuan M Ramadhan yang pernah berkerja di PN Jaksel.

Kemudian M Ramadhan menemui Iswahyu dan Irwan di rumah makan di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Atas pertemuan itu, kedua hakim menyetujui permintaan Arif untuk membantu memenangkan penggugat dengan syarat menyiapkan uang.

Dengan rincian uang Rp 150 juta untuk majelis hakim, uang Rp 10 juta untuk panitera dan uang Rp 40 juta untuk Ramadhan dan Arif.

"Sedangkan untuk putusan akhir harus disiapkan uang Rp 500 juta," kata jaksa.





Ramadhan menerima uang Rp 210 juta dari Martin. Kemudian Ramadhan diyakini jaksa menyerahkan Rp 150 juta untuk Irwan saat bertemu di parkiran masjid STPDN Cilandak, Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Uang sisanya Rp 40 juta diserahkan kepada Iswahyu.

Menjelang putusan akhir, jaksa mengatakan Ramadhan minta Arif menyiapkan uang Rp 500 juta untuk mengurus perkara itu yang disanggupi Martin. Ramadhan juga meminta uang enterntaint buat dirinya dan dikirim Rp 10 juta dari Arif.

"Setelah itu Arif berkomunikasi dengan Martin dan Isrullah Achmad (Direktut CV CLM) terkait biaya entertaint tersebut, sehingga pada keesokan harinya Martin mentranster Rp 20 juta ke rekening Arif," papar jaksa.

Dua hari sebelum dibacakan putusan, Arif bersama Resa Indrawan mencairkan uang Rp 500 juta yang sebelumnya dikirim oleh Martin. Uang itu ditukar dalam bentuk dolar singapura 47 ribu. Selanjutnya diserahkan kepada Ramadhan dirumahnya, namun saat itu mereka diamankan petugas KPK.

Jaksa juga menolak permohonan justice collaborator (JC) yang diajukan Iswahyu dan Ramadhan. Jaksa mengatakan Iswahyu dan Ramadhan tidak memenuhi permohonan JC yang diatur Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA).

Atas perbuatan itu, Iswahyu dan Irwan bersalah melanggar Pasal 12 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 55 ayat (1) ke-1, Pasal 64 ayat 1 KUHP.
(fai/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed