DetikNews
Rabu 12 Juni 2019, 22:19 WIB

Cerita Ajudan Saat Romahurmuziy di OTT KPK

Zunita Putri - detikNews
Cerita Ajudan Saat Romahurmuziy di OTT KPK Romahurmuziy (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Staf Administrasi mantan anggota DPR RI Romahurmuziy alias Rommy, Amin Nuryadi, menceritakan detik-detik saat operasi tangkap tangan (OTT) Rommy di Surabaya, Jawa Timur. Amin mengatakan saat itu Rommy sedang menjadi pembicara di salah satu acara.

Amin mengungkapkan, saat Rommy tengah menjadi pembicara di sebuah acara, beberapa saat kemudian Kepala Kemenag Gresik Muafaq Wirahadi menghampirinya dan memberikan sebuah tas. Namun, kata Amin, tas itu ditolak oleh Rommy. Amin sendiri mengaku tidak tahu apa isi tas itu.

"Setelah pertemuan, Bapak keluar dan bertemu Pak Muafaq, lalu menyampaikan ingin bantu haul kalau nggak salah, kata Pak Rommy tak usah, tak usah," kata Amin saat bersaksi di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2019).

Saat ditolak Rommy, Amin mengaku saat itu Muafaq terus membuntutinya dan menyerahkan tas itu. Kemudian, dia menerima tas tersebut tanpa tahu isi tas itu apa.

"Kemudian karena Unair sudah nunggu Pak Rommy, dan saya ikuti beliau tiba-tiba Pak Muafaq ikuti saya, dan nyerahkan saya (tas) nggak tahu isinya apa, lalu saya bawa," ucap Amin.


Karena tas itulah, Amin lalu dihampiri oleh penyidik KPK dan memerintahkan agar Amin memberikan tas yang diberi Muafaq. Kemudian dia menyampaikan kepada Rommy bahwa ada penyidik KPK, saat itu Rommy tidak mau menemui KPK dengan alasan tidak memiliki surat tugas.

"Kata dia (Rommy) ada masalah apa? Kemudian tas itu tadi diambil KPK, dia tanya 'tas dari siapa?' Dari Muafaq Pak. 'Lo, kamu terima?', saya bingung Pak, saya terima, terus KPK datangi kami, Pak Rommy nggak mau, karena setahu saya KPK nggak unjukan surat tugas," ucapnya.

Dia juga menepis ada aksi kejar-kejaran antara KPK dengan Rommy. Dia menegaskan Rommy tidak mau menemui KPK karena tidak membawa surat tugas.

"Sebenarnya nggak ada kejar-kejaran, tapi karena KPK nggak bawa surat tugas, lalu ditangkap dibawa ke Polda," jelas Amin.


Sementara itu, Muafaq, yang duduk dalam kursi terdakwa membantah Amin. Menurut Muafaq dia tidak pernah mengatakan memberi uang untuk haul, tetapi memang pemberian tanda terima kasih kepada Rommy telah membantu Muafaq.

"Saya nggak pernah bilang ada acara haul, yang saya sampaikan ada 2, saya sampaikan alhamdulillah saya sudah dilantik, terima kasih bantuannya, Mas Rommy bilang 'sama-sama, tolong bantu Wahab'. Kedua, saat Rommy berdiri, saya bilang ini mas sebagai ucapan terima kasih saya, saya berikan uang itu dalam tas, dan saat itu Rommy panggil Amin yang saat itu saya nggak kenal," jelas Muafaq dalam persidangan.


Haris dan Muafaq juga sudah didakwa jaksa KPK memberi suap Rp 346,2 juta kepada Rommy, yang merupakan anggota Komisi XI DPR RI. Tujuannya agar Rommy, yang saat itu menjabat Ketum PPP, membantu proses seleksi jabatan keduanya.

Rommy juga diduga bekerja sama dengan pihak Kemenag terkait proses pengisian jabatan ini. Dugaan KPK itu muncul karena Rommy, yang duduk di Komisi XI, tak punya kewenangan pada pengisian jabatan di Kemenag.
(zap/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed