detikNews
Rabu 12 Juni 2019, 15:51 WIB

Kapal Navigasi Dikerahkan Angkut Penumpang di Papua Barat

Tia Reisha - detikNews
Kapal Navigasi Dikerahkan Angkut Penumpang di Papua Barat Foto: Kemenhub
Sorong - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan mengerahkan Kapal Negara Kenavigasian KN. Yefyus milik Distrik Navigasi Kelas I Sorong. Kapal ini dikerahkan untuk diperbantukan mengangkut penumpang yang tidak terangkut di Pulau Ayau, Pulau Fani, dan Distrik Kabare, Papua Barat.

Hal ini menyusul musibah kandasnya kapal perintis KM. Sabuk Nusantara 56 di sekitar perairan Raja Ampat, tepatnya Pulau Ayau, Papua Barat, beberapa waktu lalu. Akibatnya, sejumlah penumpang di Pulau Ayau, Pulau Fani, dan Kabare yang telah bersiap untuk ke Sorong gagal berangkat.

Mengingat transportasi masyarakat di ketiga pulau tersebut hanya bergantung pada angkutan laut, Ditjen Hubla segera mengambil langkah dengan mengirimkan kapal KN. Yefyus untuk mengangkut penumpang di ketiga pulau tersebut.

Kepala Distrik Navigasi Kelas I Sorong Marasabessy Haekal Dachlan mengatakan, setelah dilakukan koordinasi kapal Navigasi KN Yefyus beserta tim dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Sorong dan Disnav Kelas I Sorong berangkat ke lokasi pada Senin (10/6/2019) pukul 22.00 WIT untuk mengangkut penumpang yang telah menunggu dengan hasil kebun yang akan dijual di Sorong.

"Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam dari Sorong, kapal berlabuh di Pulau Ayau dan tidak bisa sandar sehingga para penumpang harus menggunakan perahu longboat sebagai rede untuk naik ke atas kapal," jelas Haekal dalam keterangan tertulis, Rabu (12/6/2019).

Setelah selesai, lanjut Haekal, kapal menuju Pulau Fani dengan proses embarkasi yang sama menggunakan perahu longboat. Adapun Pulau Fani merupakan pulau terluar di Papua Barat. Dari Pulau Fani, KN. Yefyus menuju ke Kabare dan sandar di dermaga. Selanjutnya, pada Selasa (11/6/2019) pukul 22.30 WIT, kapal bertolak ke Sorong dengan membawa total penumpang 233 orang.


"Alhamdulillah pagi ini (12/6) pukul 08.00 WIT, kapal KN. Yefyus telah tiba di Pelabuhan Sorong dengan selamat. Kondisi kapal dalam keadaan baik dan para ABK serta petugas yang ditugaskan dari Disnav Sorong dan KSOP Sorong juga dalam keadaan sehat," ungkap Haekal.

Haekal juga mengungkapkan pihaknya sangat bersyukur atas kehadiran KN. Yefyus yang dapat membantu masyarakat di Papua Barat, apalagi mereka yang naik kapal KN. Yefyus tidak dipungut biaya alias gratis.

"Kami berupaya agar masyarakat di wilayah terpencil di Papua Barat bisa ikut menikmati mudik gratis sama seperti saudara-saudara yang ada di Jakarta dan kota-kota besar lainnya dengan moda transportasi yang layak. Sehingga tidak ada biaya apapun yang dipungut kepada penumpang untuk mengangkut mereka dari tempat asal ke tujuan Pelabuhan Sorong," tutur Haekal.

Sementara itu, Kepala Kantor KSOP Kelas I Sorong M Takwim Masuku menerangkan bahwa KSOP Sorong telah terlebih dahulu mengirimkan tim survey underwater untuk melakukan penyelaman dan pembersihan karang yang menghalangi. Pihaknya juga mengirim tugboat untuk menarik kapal KM. Sabuk Nusantara 56 pada Minggu (9/6/2019).

"Tim kami kembali melakukan upaya evakuasi kapal pada Selasa (11/6/2019) kemarin dimana kapal ditarik oleh tugboat TB Mitra Ocean namun belum berhasil sehingga proses evakuasi dihentikan sementara dan menunggu upaya lebih lanjut," ujar Takwim.

Ia menambahkan, diperlukan secepatnya kapal pengganti atau deviasi kapal perintis lain untuk mengisi kekosongan trayek ke pulau-pulau tersebut sehingga masyarakat dapat tetap terlayani.


"Dari hasil evaluasi kami, untuk mengisi kekosongan trayek ke pulau-pulau tersebut adalah dengan melakukan deviasi dan omisi pelabuhan singgah kapal perintis trayek R-96, yakni KM. Sabuk Nusantara 61," sambung Takwim.

Sementara Kepala Adat Kampung Doreker di Pulau Ayau, Boster Umpes, menyampaikan kehadiran KN. Yefyus melalui tugas perbantuan ini sangat membantu masyarakat karena mereka telah mempersiapkan sejumlah kecil dari hasil perkebunan seperti pisang, kelapa, dan hasil perikanan mereka untuk dijual ke Sorong. Jika tidak ada kapal, hasil kebun dan ikan akan sulit untuk dijual.

Boster juga mengatakan mereka sangat berharap jalur perintis ke daerahnya tidak berhenti karena masyarakat hanya bergantung pada transportasi laut, terutama kapal perintis.

"Untuk itu, atas nama warga masyarakat, kami menyampaikan terima kasih atas perhatian dari pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan," tutup Boster.
(idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed