detikNews
Jumat 07 Juni 2019, 18:07 WIB

Mengenal Masjid Syuhada Lokasi Jokowi Jumatan Peninggalan Sukarno

Idham Kholid - detikNews
Mengenal Masjid Syuhada Lokasi Jokowi Jumatan Peninggalan Sukarno Presiden Jokowi menunaikan salat Jumat di Masjid Syuhada Yogyakarta, (7/6/2019). (Pradito Rida Pertana/detikcom)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaksanakan salat Jumat di Masjid Syuhada, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DIY, siang tadi. Masjid Syuhada merupakan peninggalan Presiden RI pertama Sukarno.

Jokowi menunaikan salat Jumat di Masjid Syuhada bersama kedua putranya, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, serta sang cucu Jan Ethes Srinarendra. Jokowi, yang keluar dari masjid pada pukul 12.35 WIB, Jumat (7/6/2019), disambut ratusan warga yang menunggu untuk berjabat tangan dan berswafoto.

Kembali ke soal Masjid Syuhada. Dikutip dari website www.simas.kemenag.go.id, 'syuhada' bermakna pahlawan. Masjid itu diberikan Sukarno untuk para pejuang kemerdekaan di Yogyakarta dan diresmikan pada 20 September 1952.

"Masjid Syuhada adalah pemberian Presiden Sukarno kepada para pejuang kemerdekaan yang bertempur di Yogyakarta. Sesuai dengan namanya, Syuhada, berarti pahlawan," tulis situs itu.


Selain itu, masjid ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan ibadah masyarakat muslim pada umumnya. Secara khusus memberi penghargaan kepada masyarakat muslim di Yogyakarta yang banyak menyumbang bagi masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

"Lebih dari itu, Masjid Syuhada dimaksudkan sebagai monumen guna memperingati para pahlawan yang gugur syahid mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI," lanjutnya.

Arsitektur masjid yang dikenal dengan sebutan masjid nasional itu juga menggambarkan kemerdekaan RI. Yaitu, anak tangga masjid di bagian depan berjumlah 17, tiang gapuranya memiliki delapan segi, dan empat kupel bawah serta lima kupel atas.

Keseluruhan bangunan terdiri atas tiga lantai. Lantai paling bawah untuk ruang kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT. Lantai dua untuk ruang salat bagi kaum perempuan.


Sedangkan di lantai tiga ruang salat utama, termasuk salat Jumat. Di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang mengingatkan masyarakat pada rukun Islam.

Peletakan batu pertama masjid dilakukan pada 23 September 1950 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang saat itu juga Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Pembangunan masjid selesai dua tahun berikutnya dan secara resmi dibuka pada 20 September 1952.

Dalam artikel lainnya di situs Kemenag, masjid itu diarsiteki langsung oleh Sukarno. Sementara itu, tanggal 6 Juni kemarin merupakan hari kelahiran Bung Karno.
(idh/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com