detikNews
Kamis 06 Juni 2019, 11:30 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Mengenang Ramadhan dari Kota Es China

Putra Wanda - detikNews
Mengenang Ramadhan dari Kota Es China Foto: Putra Wanda/Istimewa
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Harbin - Harbin adalah tempat berjuluk Kota Es di China yang terkenal dengan festival es. Ramadhan yang baru usai dijalankan dengan penuh kesan di sana.

China, salah satu negara yang memiliki empat musim dalam satu tahun, menjadi tempat yang menantang sekaligus menarik dalam hal menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Tahun 2016, saya mulai pendidikan doktoral dengan CGS Scholarship di daerah Kota Harbin, daerah yang sangat dekat dengan Rusia. Sejatinya saya sudah melalui Ramadhan di sini sejak 2017. Ramadhan kali ini terlihat lebih berwarna dengan semakin ramainya mahasiswa Indonesia yang menjalankan Ramadhan di daerah utara China ini.

Harbin adalah ibu kota Heilongjiang, provinsi di ujung timur laut daratan China yang berbatasan dengan Rusia. Kota ini berada di bagian utara China dan daerahnya berbatasan langsung dengan Rusia. Salah satu tempat paling indah di Asia Timur laut ini terkenal dengan sebutan Kota Es. Di kota ini, selama bulan Januari-Februari setiap tahunnya, sebuah festival besar yang diberi nama 'Ice World Festival' digelar. Festival musim dingin ini menyedot ratusan ribu pengunjung baik yang berasal dari dalam negeri maupun mancanegara.

Sebagai mahasiswa yang datang dari negeri dengan suhu rata-rata 25 derajat, saya tentu mendapat tantangan tersendiri dalam menjalankan hidup di daerah Kutub Utara. Di Indonesia panjang waktu siang dan malam hampir sama. Waktu berpuasa di Tanah Air berkisar 13-14 jam selama Ramadhan. Namun, rata-rata waktu puasa di daerah utara China ini lebih panjang. Setiap tahunnya, waktu Ramadhan di Harbin bertepatan dengan musim panas, di mana waktu siang lebih panjang dibanding malam.

Mengenang Ramadhan dari Kota Es ChinaBuka puasa bersama di Masjid Harbin (Putra Wanda/Istimewa)
Harbin, yang terkenal dengan cuaca superdinginnya, akan berubah menjadi lebih panas menjelang masuknya bulan Ramadhan. Di Harbin, waktu berpuasa lebih lama, yakni hampir 17-18 jam setiap harinya. Ramadhan tahun ini, misalnya, waktu imsak jatuh sekitar pukul 01.55 dan waktu Magrib tiba sekitar pukul 19.23 waktu setempat. Bagi orang Indonesia, sahur pukul 01.00 terlihat sedikit aneh. Tapi sudah menjadi realitas bagi kami di Harbin ini.

Selama bulan Ramadhan, aktivitas kelas dan kegiatan non-akademik di universitas bisa terbilang cukup padat, rata-rata waktu belajar dimulai pukul 08.10 dan berakhir pukul 15.10 setiap harinya. Kondisi fisik di bulan Ramadhan menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan mahasiswa muslim yang sedang menempuh studi di kota yang terkenal dengan julukan Kota Es ini.

Di Kota Harbin, aktivitas Ramadhan terpusat di masjid-masjid yang berada di tengah perkotaan. Aktivitas Ramadhan, seperti sahur, berbuka puasa, dan membaca Alquran, biasa dilakukan di tempat yang sudah menjadi pusat aktivitas komunitas Islam di sini. Contohnya Masjid Xiang Fang, tempat kami mahasiswa Indonesia sering menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Masjid ini selalu ramai setiap harinya, terutama menjelang azan Magrib tiba.

Detik-detik menjelang berkumandangnya waktu Magrib adalah momen paling mudah untuk menyaksikan ekspresi kegiatan keislaman. Masyarakat muslim yang berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum di sini senantiasa mendatangi pusat kegiatan Ramadhan setiap harinya. Jika kami perhatikan, masyarakat muslim akan mulai berdatangan mulai pukul 18.00 waktu setempat.

Mengenang Ramadhan dari Kota Es ChinaSuasana menjelang salat Jumat (Putra Wanda/Istimewa)
Bagi umat Islam di sini, kegiatan berbuka puasa dapat menghadirkan beragam kegiatan baru dan membawa manfaat bagi pendatang muslim di sini. Seperti di Masjid Daowei, Harbin, waktu menjelang berbuka puasa dimanfaatkan oleh jemaah untuk mengkaji keislaman. Selain itu, setiap masjid selalu menggelar acara buka puasa bersama layaknya di Indonesia. Banyak mahasiswa memanfaatkan momen ini untuk mempererat silaturahmi, terutama dengan teman-teman senegara mereka.

Kegiatan seperti ini sekaligus bermakna sebagai ajang silaturahim bagi sesama umat Islam. Mereka saling melayani, berbagi makanan untuk iftar untuk menyudahi berpuasa, dan lain sebagainya.

Selain itu, biasanya di area masjid terdapat semacam toko-toko muslim yang menjual pakaian dan berbagai masakan halal. Tempat belanja ini banyak diminati pengunjung setelah menjalankan ibadah, seperti setelah salat Jumat dan salat Tarawih. Meskipun aktivitas Ramadhan di sini tidak begitu meriah seperti daerah muslim di Indonesia, hal itu tetap memberi pengalaman dan wawasan tersendiri bagi kami.

Dengan semakin banyaknya mahasiswa Indonesia di Harbin yang menjalankan puasa Ramadhan, saya merasa tidak terlalu kehilangan suasana berpuasa seperti di kampung halaman.

*) Putra Wanda adalah PhD Student di Harbin University of Science and Technology, Harbin, China. Dia juga anggota Komisi Kajian Ekonomi PPI Dunia
Direktur Pusat Kajian Strategis PPI Tiongkok
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed