detikNews
Senin 03 Juni 2019, 06:10 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, Australia

Diana Purwati - detikNews
Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, Australia Ramadhan di musim gugur Australia (Diana Purwati/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Adelaide - Menjalani Ramadhan di negeri minoritas muslim seperti Australia menorehkan kesan tersendiri. Puasa dijalankan dengan semangat persaudaraan yang kental.

Salah satu yang mengesankan bahkan bisa dikatakan istimewa adalah bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan musim gugur dimana durasi puasanya hampir sama singkatnya dengan durasi puasa di musim dingin. Di kedua musim ini, durasi puasa hanya berlangsung 10 hingga 11 jam saja, dimana subuh dimulai dari pukul 05.25 pagi, sementara magrib berkisar pukul 17. 16 sore. Relatif singkat, bukan?

Berbeda ceritanya jika berpuasa di musim panas, durasi waktu menahan lapar dan dahaga cenderung lebih lama, yakni berkisar hingga 18 jam lamanya. Nuansa musim gugur yang identik dengan gugurnya daun-daun cantik berwarna kekuningan dan merah menjadi ornamen pemanis Ramadhan di tahun ini. Luar biasa indah dan cantik. Terkadang, menjelang waktu berbuka, saya sangat senang menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal saya untuk menikmati keindahan daun-daun ini. Masya Allah.

Bagaimana dengan tarawih dan buka puasa bersama? Meski tengah menjalani studi di Adelaide, yang dikenal dengan Negeri 1.001 Gereja, hal ini tidak menyurutkan semangat para muslim yang berasal dari berbagai penjuru untuk menghidupkan nuansa Ramadhan.

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaBuka puasa bersama di University of South Australia, mengundang nonmuslim (Diana Purwati/Istimewa)
Salah satu cara untuk memeriahkan pernak pernik Ramadhan ini adalah dengan mengadakan buka puasa bersama. Di Kampus saya, The University of South Australia Magill, berbuka puasa bersama (iftar dinner) diadakan setiap hari Jumat yang diadakan oleh komunitas muslim dan Centre for Islamic Thought and Education (CITE).

Di sinilah saya merasakan nuansa Ramadhan dan persaudaraan Islam yang sangat kental. Saat berbuka puasa, para saudara muslim yang berasal dari berbagai penjuru negeri membawa makanan khas dari negara masing-masing. Sehingga, nuansa berbuka diwarnai dengan makanan cita rasa internasional. Hal yang paling unik yang saya rasakan saat Iftar Dinner adalah ajang ini menciptakan ruang belajar tersendiri bagi saya, karena dari sini kami bisa saling bertukar cerita terkait ragam budaya dari berbagai belahan dunia, khususnya terkait nuansa Islam dan Ramadhan di negeri masing-masing.

Tak ayal, sapaan akrab, seperti "How are you, sister/aunty/ brother/ grandma?" mewarnai keakraban kami. Di acara iftar dinner ini, yang datang meramaikan bukan hanya saudara sesama muslim saja namun juga teman-teman maupun para akademisi yang bukan beragama Islam. Sehingga, di sela-sela menikmati hidangan berbuka, sering kali mereka bertanya mengenai Ramadhan. Selain itu, sikap menghormati juga tergambar jelas dari adab mereka. Bahkan, salah satu peserta mengatakan "It's such an honour for me to take part in your holy month event, thank you."

Tak hanya komunitas Islam di kampus, kehadiran komunitas islam Indonesia, seperti Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS) dan KIA (Kajian Islam Adelaide) juga turut andil dalam menghidupkan nuansa Ramadhan di Negeri Kanguru ini. MIIAS, khususnya, mengadakan kajian dan buka puasa bersama rutin di tiap pekan setiap hari Sabtu dan Minggu. Bahkan, dengan adanya kedua komunitas ini, seolah menjadi pembayar rindu tatkala menjalani Ramadhan di negeri ibu pertiwi tercinta sebab makanan cita rasa Nusantara dan keakraban dengan teman-teman dari Indonesia bisa dirasakan.

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaBuka puasa bersama MIIAS (Diana Purwati/Istimewa)
Terkait tarawih, selain dilaksanakan di masjid-masjid, salat sunah selama bulan Ramadhan ini juga diadakan di masing-masing kampus. Salah satunya di kampus saya, The University of South Australia. Meski melaksanakan tarawih di negeri minoritas, jumlah ayat yang dibaca di setiap kali tarawih adalah 1 juz. Selepas tarawih, para jamaah pun diberi khutbah singkat.

Menjalani Ramadhan di Australia, selain memiliki euphoria tersendiri, tentunya punya tantangan tersendiri. Selain karena faktor cuaca yang cukup dingin disertai dengan hujan bahkan angin yang menusuk kulit, tantangan di lingkungan akademik juga sering saya rasakan. Sebut saja saat berdiskusi bersama teman kelas, di saat tengah menahan lapar dan dahaga, teman-teman disekeliling terkadang asyik menyantap makanan dan minuman dengan leluasa. Bahkan, disaat mereka menawarkan makanan dan saya menjelaskan bahwa saya sedang berpuasa, tak ayal salah satu teman kelas saya terkaget dan berkata, "Wow! We need to finish many assignments but you keep fasting, Diana. How can?" ucap mereka terheran.

Sering juga saya disodori pertanyaan terkait mengapa saya berpuasa, untuk apa dan karena apa. Sehingga dari sini terkadang tercipta ruang dialog tersendiri. Masih terkait tantangan akademik, dikarenakan di bulan Ramadhan ini merupakan semester terakhir saya, mengimbangi antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dan proyek penelitian akhir yang deadline nya sangat padat, terkadang menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan target-target ibadah selama Ramadhan. Hal ini tidak hanya dialami oleh saya pribadi, namun juga oleh mahasiswa lainnya yang tengah menjalani study di negeri maju ini.

Selain itu, tempat makanan dan minuman tetap beroperasi seperti biasanya. Bisa dibayangkan ketika melewati tempat-tempat ini, terutama di puncaknya menahan lapar dan nafsu, aroma bumbu makanan dan minuman sangat jelas terasa. Begitu pun dengan pemandangan para warga yang tengah asyik berkumpul menyantap hidangan makanan terutama di jam istirahat siang, terkadang menjadi godaan tersendiri.

Berpuasa di Negeri Seribu Gereja, Adelaide, AustraliaKajian MIIAS (Diana Purwati/Istimewa)
Namun, di luar tantangan yang dihadapi, satu hal yang paling saya kagumi dari Negeri Kanguru ini terkait toleransi nya dalam menghargai kepercayaan dan keberagaman budaya. Bahkan, selama kami tarawih, satpam kampus terus membantu mengamankan proses ibadah kami. Teman saya yang juga memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya, terkadang turut membantu dalam menyediakan menu berbuka dan sahur, hingga terkadang ikut mencoba berpuasa. Nuansa seperti ini tentunya membantu proses kekhusyukan menjalani Ramadhan di negeri minoritas dan menjadi hal yang akan senantiasa saya rindukan ketika kembali mengabdi di bumi pertiwi tercinta.

*) Diana Purwati adalah mahasiswi dari Dompu-NTB yang tengah menempuh pendidikan jurusan Master Education (TESOL) di University of South Australia, Adelaide. Penulis juga menjadi pengurus aktif di organisasi Masyarakat Islam Indonesia Australia Selatan (MIIAS)
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com