detikNews
Rabu 29 Mei 2019, 17:13 WIB

Terkena Lemparan Batu, Polisi Korban Rusuh Asrama Brimob Masih Dirawat

Yulida Medistiara - detikNews
Terkena Lemparan Batu, Polisi Korban Rusuh Asrama Brimob Masih Dirawat Anggota Brimob korban kerusuhan (Yulida/detikcom)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Jakarta - Kasubden KBR Detasemen Gegana Polda Metro Jaya, AKP Ibrahim Sadjab menjadi korban pascakerusuhan 22 Mei di Asrama Brimob. Dia masih dirawat hingga kini karena jatuh dan terkena lemparan batu saat kejadian.

Ibrahim mengatakan awalnya dia sedang standby di kantornya, Detasemen Gegana Polda Metro Jaya, saat massa perusuh datang. Ia mengatakan terdapat dua kelompok massa yang datang dari arah Slipi dan Tanah Abang.

Selanjutnya, ia berjaga di depan kantornya agar massa tidak dapat masuk ke Asrama Brimob, yang berada di samping kantornya. Sedangkan massa yang datang membawa batu, botol, bom molotov, dan pecahan kaca melempari polisi.



Sementara itu, polisi mengaku mengimbau masyarakat menghentikan aksi anarkisnya sambil menembakkan gas air mata. Ia menyebut saat itu jumlah massa lebih banyak dari polisi.

Polisi juga sempat kehabisan gas air mata sehingga menunggu kiriman logistik. Polisi juga menembakkan peluru karet ke arah massa karena gas air matanya habis.

"Anggota yang pegang amunisi gas air mata menyampaikan ke saya izin komandan amunisi gas air mata sisa 2 ya sudah ikat tembakan dengan peluru karet. Jangkauannya tidak panjang, jadi kami tetap dilempari. Ketika kami tahu gas air mata itu sisa sedikit, saya bilang buang sisa amunisi itu kita mundur," ucap Ibrahim di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (29/5/2019).

Kemudian anggota yang menembakkan peluru karet ditarik mundur. Saat berlari, Ibrahim terjatuh terlilit handy talkie (HT) dan akhirnya dilempari massa dengan batu.

"Jadi anggota yang menembakkan peluru karet saya tarik dengan tujuan mundur saling mem-back up. 'Adam, kamu mundur ke belakang, saya tarik mundur.' Jadi yang terakhir lari itu saya ke belakang. Ketika saya lari, HT saya jatuh saya kelilit dengan tali HT sehingga pas saya jatuh tulang saya sudah bunyi. Batu menimpa saya waktu itu," ujarnya.

Akhirnya, Ibrahim ditolong oleh polisi yang lain, tetapi tangan kanannya sudah terasa sakit. Setelah diperiksa, bahunya mengalami dislokasi.

"Alhamdulillah ditolong sama anggota saya lihat massa sudah dekat ke arah saya, tapi ditarik sehingga pas saya lari posisi tangan saya sudah sepertinya lepas (dislokasi bahu). Saya dipapah sama anggota gitu aja waktu kejadian. Akhirnya dislokasi lepas engsel bahu kanan," sambungnya.

Ibrahim mengatakan saat ini kondisinya sudah mulai membaik, tetapi bahunya masih terasa sakit. Ia mengaku tidak trauma mengamankan aksi, bahkan ia mengatakan ingin cepat sembuh.

"Siap masih tetap semangat bahkan kalau bisa lekas sembuh bisa bergabung dengan rekan rekan yang ada di lapangan demi menjaga ketertiban Tanah Air. Ingin tetap semangat dan segera keluar bergabung dengan teman-teman. Ini bahu masih perih," imbuhnya.

Saat kejadian, ia juga sempat melihat ada sekitar 10 ambulans bolak-balik di lokasi. Polisi tidak menghentikannya karena dianggap untuk mengevakuasi korban. Namun ambulans yang dia lihat merupakan ambulan suatu yayasan.

"Ambulans, saya pikir itu untuk menyelamatkan. Jadi kita perkenankan untuk lewat saja, tapi sempat sekali saya dengan Kepala Detasemen saya hentiin saya lihat memang di dalamnya orang pake gamis, peci, katanya dari buat pertolongan aja," ujarnya.
(yld/rvk)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com