detikNews
2019/05/28 20:43:54 WIB

Round-Up

Pelajaran untuk Polri dari Rusuh 22 Mei

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 2
Pelajaran untuk Polri dari Rusuh 22 Mei Kerusuhan di Tanah Abang, buntut dari demo rusuh di depan Bawaslu. (Jefrie NS/detikcom)
Jakarta -

Aksi 21-22 Mei 2019 di depan Bawaslu berujung ricuh. Polri mengambil pelajaran dari rusuh 22 Mei itu.

Polri memberi toleransi kepada para peserta aksi untuk berbuka puasa dan salat Tarawih. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, batas waktu demonstrasi di tempat terbuka adalah pukul 18.00 WIB.

"Batasan akhir toleransi yang bisa diberikan pada masa itu salat Tarawih, seusai salat Tarawih," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (21/5/2019).


Dalam aksi 21 Mei 2019 malam, faktanya massa memang masih berada di lokasi hingga lewat pukul 18.00 WIB. Massa di depan Bawaslu selesai salat Tarawih sekitar pukul 20.10 WIB. Polisi kemudian mengingatkan massa untuk menyudahi aksinya.

"Saya ingatkan kepada teman-teman, sampai salat Tarawih selesai, jadi tidak ada yang mengacungkan bendera dan bambu. Karena kita dari pagi sama-sama. Silakan selesai salat Tarawih membubarkan diri," kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan di lokasi, Jl MH Thamrin, Jakpus, Selasa (21/5).

Sebenarnya massa aksi demo di depan Bawaslu sudah menyatakan sepakat untuk bubar. Namun, sekitar pukul 22.38 WIB, masih ada massa yang bertahan, menginjak-injak kawat duri hingga akhirnya ricuh. Kericuhan berlanjut hingga Rabu, 22 Mei, dini hari.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed