detikNews
Selasa 28 Mei 2019, 12:53 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Ngabuburit, Tapi di Moskow!

M Ainul Yaqin - detikNews
Ngabuburit, Tapi di Moskow! Masjid Memorialnaya di Moskow pukul 20.00 yang masih terang (M Ainul Yaqin/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Moskow - Menjalani Ramadhan di Moskow, Rusia, artinya harus siap berpuasa 19 jam. Ngabuburitnya bisa mengunjungi museum keren lalu buka puasa di masjid Moskow.

Moskow yang terletak di bagian utara Bumi menjadi kota tujuan penulis untuk menuntut ilmu. Ibukota negara Rusia ini memiliki penduduk muslim yang cukup banyak, bahkan Islam adalah agama dengan jumlah penganut nomor dua terbesar di Rusia. Selain warga lokal, penduduk muslim di sini berasal dari negara-negara tetangga Rusia seperti Tajikistan, Uzbekistan, Kazakhstan, dll. Maka tidak heran kita akan menjumpai wanita-wanita berkerudung atau penjual kurma khas Timur Tengah.

Bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan awal bulan Mei yang merupakan musim semi di Moskow. Hal ini menjadikan waktu di siang hari lebih lama dari pada malam hari. Berdasarkan kalender Ramadhan yang dirilis oleh Masjid Katedral Moskow, umat Islam harus berpuasa dari pukul 02.00 pagi hingga pukul 21.00 malam atau hampir 19 jam lamanya.

Waktu Maghrib yang semakin lama sedangkan waktu Subuh yang semakin cepat, menjadikan durasi berpuasa lebih lama dari hari ke hari. Waktu malam yang sangat singkat ini menjadi tantangan tersendiri dalam menyiasati waktu istirahat serta porsi makanan. Penulis sendiri memilih untuk terjaga sepanjang malam dan beranjak tidur setelah Salat Subuh sekitar pukul 02.00 pagi lalu memulai aktivitas perkuliahan jam 10.00 pagi. Porsi makanan saat berbuka diatur untuk tidak berlebihan agar tidak kekenyangan sebelum makan saat sahur. Meskipun waktu puasa yang lama, cuaca di Moskow saat musim semi sangat bersahabat dengan suhu berkisar 20-25 derajat C sehingga rasa haus dan lapar masih dapat dikendalikan.

Ngabuburit, Tapi di Moskow!Penulis dan teman asrama merayakan iftar bersama (M Ainul Yaqin/Istimewa)
Sebagai mahasiswa yang sedang merantau jauh dari Tanah Air, momen berkumpul bersama saat berbuka puasa tentu sangat dirindukan. Beruntungnya, di asrama kampus Skoltech tempat penulis menuntut ilmu terdapat beberapa mahasiswa muslim dari berbagai negara.

Di tengah Ramadhan ini kami menyelenggarakan buka puasa bersama untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah. Menariknya, momen buka puasa bersama ini dihadiri juga oleh teman-teman yang non-Muslim. Beberapa dari mereka bahkan menyiapkan makanan khas dari negara asal untuk dimakan saat iftar. Penulis merasakan keharmonisan antar umat manusia terbangun dari sebuah momen buka puasa.

Moskow yang berjarak sekitar 12.000 km dari Indonesia membuat pertemuan sesama masyarakat Indonesia di Moskow selalu dinanti. Setiap hari Sabtu, Himpunan Persaudaraan Islam Indonesia-Moskow rutin melaksanakan buka puasa bersama di Gedung KBRI. Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, tausiyah Ramadhan hingga buka puasa bersama. Selepas iftar, kegiatan ibadah Ramadhan dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah hingga pelaksanaan itikaf. Kegiatan seperti ini sukses mengobati kerinduan akan suasana Ramadhan di Indonesia.

Ngabuburit atau melaksanakan aktivitas yang santai sambil menunggu waktu berbuka adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Kalau biasanya ngabuburit di Indonesia diisi dengan berburu makanan untuk berbuka, maka di Moskow kita bisa mencoba hal yang baru yakni mengunjungi museum. Pada akhir pekan yang lalu, Minggu (19/5/2019), penulis dan para pelajar Indonesia berkunjung ke The Pushkin State Museum of Fine Arts.

Ngabuburit, Tapi di Moskow!Salah satu ruang pameran di museum (M Ainul Yaqin/Istimewa)
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (Permira) di Moskow ini bertujuan untuk mengisi hari libur sambil menikmati karya seni yang tersaji di museum. Museum ini berisikan berbagai macam karya seni berupa lukisan, patung, kerajinan tangan hingga artefak bersejarah. Melihat langsung benda-benda bersejarah dari berbagai macam peradaban dunia mulai dari peradaban Mesir kuno, Yunani masa lampau, hingga kekaisaran Romawi menjadi bagian favorit

Selain menambah wawasan akan sejarah dunia serta mengagumi berbagai macam karya seni, kegiatan mengunjungi museum ini sangat ampuh mengusir bosan tatkala menunggu waktu berbuka puasa. Tanpa terasa kami telah menghabiskan hampir 4 jam berkeliling di museum ini.

Menjelang waktu Maghrib, kami memutuskan untuk berangkat ke masjid Memorialnaya. Masjid yang dibuka pada tahun 1997 ini rutin menggelar kegiatan keagamaan selama bulan Ramadhan. Ceramah agama hingga pameran kebudayaan komunitas muslim diselenggarakan setiap harinya. Ketika tiba waktu berbuka, kami melepas dahaga dengan air putih serta makan kurma yang sudah disediakan masjid.

Suasana di luar masjid Memorialnaya di mana jamaah membanjiri masjid saat waktu salat Maghrib. Selepas salat Maghrib berjamaah, kami dan jamaah lainnya menyantap makanan besar yang disediakan secara gratis. Menu makanan hari itu adalah plov, nasi goreng khas Asia Tengah, yang gurih dan nikmat. Menurut Nur Islam, seorang relawan masjid dari Kazakhstan, setiap harinya masjid ini menyediakan makanan berbuka puasa untuk lebih dari 500 orang bahkan 1.000 orang saat akhir pekan.

Ngabuburit, Tapi di Moskow!Iftar bersama di Masjid Memorialnaya (M Ainul Yaqin/Istimewa)
Bagi penulis, Ramadhan adalah waktu yang spesial kapan pun dan di mana pun. Merasakan pengalaman pertama berpuasa di luar Indonesia adalah suatu nikmat dan tantangan tersendiri. Hal ini menyadarkan kita untuk bersyukur atas puasa yang pernah dilalui selama di Indonesia di mana waktu puasa tidak selama di Moskow serta nuansa Ramadhan yang sangat kental terasa. Sebagai penutup, penulis mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa terutama untuk para perantau ilmu di belahan Bumi mana pun.

*) M Ainul Yaqin adalah mahasiswa program magister Ilmu Material, Skolkovo Institute of Science and Technology (Skoltech), Moskow, Rusia, sekaligus pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia (Permira) di Moskow dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia di Rusia.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com