detikNews
Selasa 28 Mei 2019, 02:30 WIB

Round-Up

Isu Miring soal Harun Rasyid, Polri Tepis Tuduhan Mempersulit

Audrey Santoso, Tsarina Maharani - detikNews
Isu Miring soal Harun Rasyid, Polri Tepis Tuduhan Mempersulit Ayah Harun Rasyid bertemu dengan Fadli Zon. (Tsarina Maharani/detikcom)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Jakarta - Proses pengurusan jenazah korban rusuh 21-22 Mei 2019, Harun Rasyid, dikeluhkan orang tuanya karena merasa dipersulit. Hal itu kemudian ditepis oleh RS Polri.

Cerita ini awalnya disampaikan ayah almarhum Harun Rasyid, Didin Wahyudin, saat bertemu dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon di gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/5/2019). Didin mengaku terpukul ketika mengetahui kabar sang anak meninggal dunia.

Awalnya Didin mendapat informasi bahwa jenazah Harun berada di RS Dharmais, Jakarta Barat. Namun, kemudian ada informasi lanjutan bahwa jenazah sang anak ada di RS Polri, Jakarta Timur. Didin menerima kabar ini pada Kamis (23/5), namun tidak bisa langsung membawa pulang jenazah Harun.

"Yang saya bingung, waktu mengambil jenazah anak saya, sulit sekali. Kenapa mengambil jenazah saja harus besok (Jumat). Padahal malam itu saya pengin sekali anak saya buru-buru dibawa pulang," ujarnya.



Didin diminta kembali pada Jumat (25/5) pagi untuk mengambil jenazah Harun. Pihak RS Polri meminta keluarga menyertakan surat pengantar dari Polres Jakarta Barat. Ia menyerahkan urusan itu kepada sang adik.

Isu Miring Soal Harun Rasyid, Polri Tepis Tuduhan MempersulitAyah Harun Rasyid bertemu Fadli Zon (Tsarina Maharani/detikcom)


Saat itu Didin mengaku diminta meneken pernyataan tidak akan menuntut atas tewasnya Harun. Sempat bingung, Didin akhirnya setuju agar bisa membawa pulang jenazah sang anak.

"Satu hal di situ ada pernyataan keluarga korban tidak boleh menuntut siapa pun, apa pun. Dan kedua, untuk dilakukan autopsi. Itu digabung. Jadi saya bingung harus tanda tangani yang mana adik saya," tutur Didin.

"Memutuskan untuk tanda tangan," kata dia.



Jenazah Harun pun diserahkan ke pihak keluarga dalam keadaan sudah dikafani. Didin mengatakan sempat ingin memandikan dan mengafani Harun lagi, tetapi ide itu ditolak sang kakek. Ia menyebut hanya melihat wajah Harun hingga sang anak dimakamkan.

Namun Didin sendiri tidak memerinci secara jelas bagaimana kronologi tewasnya Harun saat kerusuhan 22 Mei. Menurut pengakuannya, sang anak hendak pergi bermain sebelum kemudian ditemukan tewas.

Polri lalu angkat bicara. RS Polri membantah bila dikatakan mempersulit proses pengambilan jenazah Harun Rasyid. RS Polri mengakui perlu melakukan proses antemortem untuk mengidentifikasi jenazah Harun karena jenazah tiba dengan label Mr X.

"Harun itu kiriman dari RS Dharmais dalam keadaan sudah meninggal dunia. Dievakuasi ke RS Polri dengan identitas Mr X. Jadi, saat jasad dibawa dari Dharmais, pihak Dharmais itu tidak tahu ini siapa. Karena Mr X dan itu korban kerusuhan, sehingga dibawa ke RS Polri," jelas Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Polri Raden Said Soekanto, Brigjen Musyafak, saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (27/5/2019).



Musyafak mengatakan pihaknya melakukan proses identifikasi karena perlu kehati-hatian untuk membuktikan berhak atau tidaknya seseorang membawa pulang jenazah. Identifikasi Harun Rasyid kemudian dilakukan dengan meminta data antemortem dari pihak keluarga.

"Karena Mr X, kami tidak serta merta menyerahkan korban ke pihak yang mengakui. Kami harus mendata antemortem untuk mencocokkan, jangan sampai kami salah kasih, bukan keluarganya tapi kami berikan," terang Musyafak.



Musyafak menuturkan pihaknya telah berupaya mengidentifikasi Harun Rasyid dengan memanggil pihak Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis). Namun pihak Inafis tak dapat mengungkap identitas jenazah.

"Kami sudah berusaha mengidentifikasi dengan mendatangkan Inafis. Karena anak ini di bawah umur, sehingga nggak punya KTP, jadi tidak ada datanya. Saat keluarganya datang, kami data, kami minta keterangan antemortem, proses identifikasi seperti biasa," ujar Musyafak.

Musyafak menduga proses antemortem itulah yang dianggap mempersulit oleh keluarga korban. Musyafak menuturkan, setelah teridentifikasi, jasad Harun langsung diserahkan ke pihak keluarga.

"Mungkin dengan ada proses itu, kesannya dipersulit. Saya kira tidak dipersulit, karena saat sudah berhasil diidentifikasi, langsung dibawa kok jasadnya sama keluarganya," tutur dia.

Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Musyafak / Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Musyafak (Jefrie Nandy Satria/detikcom)


Musyafak juga membantah saat pihaknya disebut meminta keluarga menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut RS Polri atas tewasnya Harun.

"Tidak, tidak. Tidak ada konsep seperti itu ya di sini. Semua jenazah yang sudah ketahuan identitasnya langsung diserahkan ke keluarga. Logikanya, untuk apa kami menahan-nahan," ujar Musyafak.



Terkait adanya pengakuan dari pihak keluarga Harun tentang tidak diberikannya hasil autopsi, Musyafak menerangkan berkas autopsi diberikan hanya untuk proses proyustisia, untuk kepentingan penyidikan.

"Hasil autopsi itu diberikan untuk proses proyustisia. Diberikan kepada penyidik. Tetapi untuk penjelasan kenapa korban meninggal, saya pikir pasti sudah disampaikan. Saat ini keluarga dalam kondisi berduka karena kehilangan Harun. Saya memaklumi kondisinya. Saya menyampaikan rasa turut berdukacita," sambung dia.


Simak Juga "2 Pria yang Ajak Lempar Kotoran ke Panser saat Rusuh Ditangkap!":

[Gambas:Video 20detik]


(imk/dnu)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com