DetikNews
Senin 27 Mei 2019, 19:38 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Melepas Rindu Saat Ramadhan di Shiga, Jepang

Ahmad Faqih Mahalli - detikNews
Melepas Rindu Saat Ramadhan di Shiga, Jepang Danau Biwa di Shiga, Jepang (Ahmad Faqih Mahalli/Istimewa)
Jakarta - Menjalani Ramadhan dalam perantauan luar negeri, adalah puncak rindu pada Tanah Air. Bersilaturahmi dengan sesama orang Indonesia di Shiga, Jepang menjadi pelipur lara.

Shiga merupakan salah satu Prefektur di Jepang yang kalah ramai dibandingkan kota-kota utama, seperti Tokyo, Osaka, Nagoya atau Kyoto. Letaknya di sisi barat Jepang, dan di tengahnya terdapat danau terbesar di Negara Jepang, yaitu Danau Biwa. Danau ini menjadi sumber air bagi penduduk Shiga dan kota-kota di sekitarnya.

Meski bukan kota besar, Shiga tetap didatangi dan ditinggali dengan warga-warga Indonesia. Keberadaan beberapa kampus dan perusahaan elektronik rumah tangga menjadi salah satu penyebab datangnya warga Indonesia ke Shiga, sebagai seorang mahasiswa, ataupun pekerja di perusahaan tersebut. Selain mereka, masih ada lagi warga-warga Indonesia yang tinggal dan berkeluarga di Shiga ini.

Suasana Ramadhan di Shiga ini umumnya sama dengan suasana di negara-negara dengan muslim minoritas. Tak kan ada hingar bingar azan dan salawat saat waktu sahur dan menjelang magrib. Sebagai perantau, maka suasana tersebut yang membuat penulis rindu dengan kampung halaman Indonesia, juga rindu dengan segala cita rasa masakan Indonesia yang sangat sulit dijumpai di Shiga ini, baik hidangan-hidangan khas Ramadhan maupun hidangan umum lainnya.

Melepas Rindu Ramadhan di Shiga, JepangSuasana di Kota Otsu, Shiga (Ahmad Faqih Mahalli/Istimewa)
Untuk menyemarakkan bulan Ramadhan ini, maka Keluarga Muslim Indonesia (KMI) Kyoto-Shiga mengadakan acara buka puasa bersama. Acara diadakan pada hari Minggu 12 Mei 2019 (7 Ramadhan 1440 H) di Ritsumeikan BKC International House, Shiga. Acara ini dihadiri oleh para warga Indonesia yang berada di daerah Shiga, maupun wilayah sekitar seperti Kyoto. Tak hanya dihadiri oleh para mahasiswa saja, acara ini juga dihadiri oleh warga diaspora Indonesia yang bekerja di Shiga dan sekitarnya.

Sambil menunggu waktu berbuka, para peserta mendengarkan siraman rohani yang diisi oleh Ustaz Hendra Wijaya. Beliau menyampaikan tentang pentingnya interaksi dengan Alquran saat Ramadhan, dan mengajak mereka yang hadir untuk selalu menyempatkan berinteraksi dengan Alquran setiap harinya. Sesi siraman rohani ini ditutup dengan beberapa pertanyaan dari peserta yang hadir.

Melepas Rindu Ramadhan di Shiga, JepangBuka puasa bersama perantau Indonesia (Ahmad Faqih Mahalli/Istimewa)
Ketika memasuki waktu berbuka puasa, warga Indonesia yang hadir pada acara tersebut langsung disuguhi dengan es buah dan aneka gorengan untuk membatalkan puasa hari itu. Beberapa cita rasa Indonesia yang kembali hadir di lidah-lidah mereka, yang dapat mengobati sedikit rasa rindu dengan kampung halaman. Selesai salat magrib, dilanjutkan dengan sesi makan besar. Lambung-lambung para perantau ini kembali dimanjakan dengan sensasi masakan Indonesia lainnya, yaitu Soto Ayam, Sate Ayam, dan tak lupa sambal pedas yang sulit ditemukan di Jepang.

Selain kerinduan akan cita rasa masakan Indonesia, acara buka puasa bersama ini juga mengobati kerinduan untuk bertemu dan bercengkrama dengan rekan-rekan sesama perantau. Mengobati rindu berada di lingkungan masyarakat Indonesia, berada diantara orang-orang yang berbahasa Indonesia. Suasana yang sedikit banyak juga mengobati kerinduan berada di kampung halaman, serta mengeratkan tali silaturahmi para penduduk Indonesia yang berada di Shiga, yang beberapa di antaranya bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.

Melepas Rindu Ramadhan di Shiga, JepangMahasiswa dan diaspora Indonesia di Shiga, Jepang (Ahmad Faqih Mahalli/Istimewa)
Acara-acara seperti ini merupakan yang ditunggu-tunggu bagi warga Indonesia di perantauan. Acara yang dapat mengobati sedikit kerinduan dengan suasana kampung halaman, baik orang-orangnya maupun makanannya. Acara yang dapat mengenalkan dan menguatkan tali silaturahmi antar warga negara Indonesia di negeri orang. Acara yang dapat meregangkan otot-otot sejenak, sebelum kembali ke padatnya aktivitas esok hari, sebagai sesama diaspora Indonesia.

*) Ahmad Faqih Mahalli adalah mahasiswa di Ritsumeikan University. Dia juga merupakan pengurus PPI Dunia 2018/2019 dan anggota PPI Kyoto Shiga
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed