detikNews
Minggu 26 Mei 2019, 20:28 WIB

Round-Up

Amien Rais Dapat Surat Terbuka, PAN Membela

Tim detikcom - detikNews
Amien Rais Dapat Surat Terbuka, PAN Membela Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Amien Rais mendapatkan surat terbuka dari istri almarhum Bimo Nugroho, penulis buku 'Jokowi People Power', Tatty Aprilyana. Dalam surat terbukanya, Tatty memprotes Amien Rais (AR) yang membawa buku karya suaminya saat menjalani pemeriksaan polisi. Menurutnya, Amien Rais menggunakan buku itu untuk menggiring opini publik. Namun, PAN langsung angkat suara untuk membela tokoh partainya itu.

"Kepentingan yang diusungnya juga bukan tanggung jawab kami. Tetapi, kami sebagai anak-anak dan istri almarhum Bimo Nugroho sangat berkeberatan dengan digunakannya buku karya orang yang kami kasihi tersebut dalam upaya Amien Rais menggiring opini publik tentang adanya "JOKOWI PEOPLE POWER"," tulis Tatty dalam surat terbukanya.



Tatty dengan tegas menolak upaya politisasi terhadap buku 'People Power Jokowi' yang dilakukan oleh Amien Rais. Menurutnya, apa yang dilakukan Amien Rais tidak beretika.

"Patut diduga dengan kuat Amien Rais sedang mencari relevansi "people power" yang diserukannya. Di sinilah keberatan kami sebagai keluarga almarhum Bimo Nugroho timbul. Kami menolak upaya tak beretika yang dilakukan Amien Rais dengan menggunakan hasil tulisan orang yang sudah tidak bisa melakukan bantahan untuk kepentingan politik pribadinya," tulis Tatty dalam surat terbukanya.

Tatty menilai apa yang dilakukan oleh Amien Rais tidak etis. Dia juga menjelaskan, bahwa buku yang dituliskan oleh suaminya itu berbeda dengan narasi 'people power' yang selama ini dibangun oleh Amien Rais.

"Yang AR (Amien Rais) lakukan ini kan tidak etis. Menyitir buku mendiang suami saya untuk kepentingan narasi politik dia yang jahat," kata Tatty, saat dihubungi, Minggu (26/5/2019).

"Sementara apa yang suami saya tuliskan di buku, sama sekali berbeda dengan narasi yang AR buat soal seruan people power," sambungnya.

Tak rela tokoh partainya mendapat surat terbuka, PAN pun muncul membela. Kendati demikian, PAN menghormati protes yang dilayangkan Tatty lantaran Amien dianggapnya mempolitisasi buku sang suami saat diperiksa polisi.

"Keluarga almarhum penulis tentu berhak beropini. Kita hormati. Meski sebagian kalimat yang beliau pakai bisa dilihat sebagai ujaran kebencian terhadap Pak Amien, kita tetap hormati. Itu hak beliau menyampaikan pendapat, hak konstitusional yang dijamin UUD NRI Tahun 1945," kata Wakil Ketua Dewan Kehormatan PAN, Dradjad Wibowo kepada wartawan, Minggu (26/5/2019).




Dradjad juga memaparkan alasan Amien membawa buku Jokowi People Power. Sebab, menurut dia, selama ini istilah people power selalu dikonotasikan sebagai makar. Karena itu, Amien pun membawa buku karya Bimo itu sebagai rujukan.

"Fakta hukumnya, Eggy Sujana ditahan terkait ucapan people power. Ini karena istilah people power dikonotasikan sebagai makar. Pak Amien diperiksa di Polda sebagai salah satu saksi bagi kang Eggi. Nah di toko buku, dijual buku Jokowi People Power. Ternyata istilah people power ini sudah beberapa tahun ada di toko buku. Tapi tidak satu orang pun yang menganggapnya sebagai makar," tutur politikus yang dekat dengan Amien ini.



Sebelumnya diberitakan, Amien Rais membawa buku 'Jokowi People Power' ketika diperiksa di Polda Metro Jaya pada Jumat (24/5/2019). Saat itu, Amien diperiksa sebagai saksi kasus dugaan makar dengan tersangka Eggi Sudjana. Dalam pemeriksaan itu, Amien menjelaskan soal pernyataan 'people power'.

"Jadi yang saya kembangkan sesungguhnya people power enteng-entengan, bukan seperti people power yang mau mengganti rezim atau menjatuhkan presiden, itu sama sekali jauh," kata Amien kepada wartawan.


Amien Rais Dapat Surat Terbuka, PAN MembelaFoto: Buku Jokowi People Power karya Bimo Nugroho dan M Yamin Panca Setia (Gramedia Pustaka Utama)


Namun, sebetulnya buku 'Jokowi People Power' sendiri ditulis untuk merekam fenomena gerakan rakyat yang saat itu habis-habisan mendukung Jokowi pada Pilpres 2014. Dijelaskan, dalam buku tersebut bahwa gerakan rakyat atau 'people power' menemukan momentumnya. Namun people power dalam buku tersebut dalam konteks pemilu yang demokratis.

"Di Indonesia, gerakan rakyat menemukan momentumnya kembali pada Pemilu 2014. Meskipun tidak seratus persen memenuhi prasyarat ideal, gerakan rakyat berhasil merebut puncak kepemimpinan nasional lewat pemilu yang fair dan demokratis," tulis Bimo Nugroho dan M Yamin Panca Setia dalam buku tersebut.


(rdp/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed