DetikNews
Kamis 23 Mei 2019, 12:33 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Menjelaskan Arti Puasa Kepada Orang Swedia

Ahmad Satria Budiman - detikNews
Menjelaskan Arti Puasa Kepada Orang Swedia Tarawih di Aysha Mosque, Stockholm (Ahmad Satria Budiman/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Stockholm - Menjadi umat muslim minoritas di satu negara, artinya banyak orang yang belum mengenal apa itu Islam. Warga Swedia pun bertanya puasa itu seperti apa.

Apa yang terbayang oleh teman-teman tentang berpuasa di luar negeri? Sebelum ke Swedia, saya punya ekspektasi tersendiri. Saya menyadari bahwa durasi berpuasa akan lebih lama. Sempat terbayang bagaimana nanti mengisi waktu menunggu berbuka. Sempat terpikir juga apa nanti saya kuat menjalaninya, sebab pasti banyak yang tidak berpuasa mengingat Swedia bukan negara muslim mayoritas. Bakal ditanya apa ya sama orang-orang di sana?

Di sisi lain, saya juga tertarik dengan Ramadhan di Swedia. Saya membayangkan bertemu teman-teman muslim dari berbagai negara di komunitas kampus, sesekali sahur dan berbuka bersama, lalu tarawih dan witir bersama juga. Atau nanti, kami bisa saling berkunjung antar komunitas kampus, berbagi pengalaman atau terlibat kegiatan, misalnya bakti sosial seperti yang saya dan teman-teman lakukan saat melewati bulan Ramadhan di Indonesia.

Menjelaskan Arti Puasa Kepada Orang SwediaMenu berbuka puasa di Khadija Center, Stockholm (Ahmad Satria Budiman/Istimewa)
Akan tetapi setelah dijalani, ternyata tidak sesuai ekspektasi. Saya malah bertemu sejumlah tantangan yang belum terbayangkan sebelumnya, antara lain bagaimana melaksanakan tarawih dan witir berjamaah di masjid yang jaraknya relatif jauh dari apartemen, bagaimana bersikap terhadap budaya setempat saat musim panas, serta bagaimana hari-hari berlalu tanpa adanya komunitas mahasiswa muslim di kampus. Meski demikian, saya bersyukur karena selain menambah wawasan, hal-hal itu memperkaya pengalaman.

Ini bukanlah kali pertama saya berpuasa di Swedia, sebab tahun lalu saya juga merasakan berpuasa di sini. Ketika melihat jadwal, durasi berpuasa tahun ini lebih pendek sekitar 20-40 menit meski masih di kisaran 18-20 jam. Untuk temperatur udara, tahun ini masih di bawah 20 derajat Celcius, sementara tahun lalu sudah di atas 20 derajat Celcius. Hal ini dikarenakan Ramadhan kali ini bersamaan dengan peralihan antara musim semi dan musim panas.

Baca Juga: Ramadan di Negeri Muslim Minoritas, Belajar Memahami Ketimbang Minta Dipahami

Sama seperti tahun lalu, saya tetap menjalani hari-hari Ramadhan di Swedia sebagaimana biasa. Tidak ada yang berbeda antara hari-hari biasa dan hari-hari di bulan puasa. Tidak ada pengurangan jam kerja, tidak ada tempat makan yang ditutup tirai, tidak ada bazar menjajakan hidangan berbuka puasa. Nuansa bulan puasa hanya terasa saat berkunjung ke masjid-masjid, saat jelang waktu berbuka puasa dan ketika pelaksanaan tarawih dan witir berjamaah.

Sebagai kilas balik, tahun lalu jarak dari apartemen saya ke masjid relatif jauh. Paling dekat dan paling cepat ditempuh 25 menit dengan transportasi umum, itu pun dengan rute yang sama. Sekarang dari apartemen baru, ada beberapa masjid yang lebih terjangkau sekitar 10-20 menit dengan sejumlah rute alternatif. Saya jadi relatif lebih mudah mengakses masjid, seperti untuk ikut berbuka puasa bersama serta melaksanakan tarawih dan witir berjamaah di sana.

Beberapa masjid tersebut adalah Khadija Center, Husby Mosque, Rinkeby Mosque, Aysha Mosque, dan Stockholm Central Mosque. Saya berangkat ke sana tidak sendiri, tetapi bersama beberapa teman dari Indonesia. Untuk menu berbuka puasa di masjid-masjid di Swedia, selain kurma disediakan pula hidangan khas Timur Tengah dan Asia Selatan untuk jamaah, seperti nasi biryani, sup lentil, fruit chaat, minuman rooh afza, dan kari ayam. Bagi saya yang kurang pandai memasak, alhamdulillah menjadi rezeki bagi anak rantau yang sedang berjuang.

Bilik kerja dengan tempat salat (Ahmad Satria Budiman/Istimewa)
Selanjutnya untuk tawarih dan witir, secara keseluruhan juga tidak jauh berbeda. Ada yang jamaahnya sedikit, ada pula yang banyak sampai masjid terasa penuh. Ada bacaan imamnya relatif pendek, ada pula yang relatif panjang. Saya dan teman pernah tarawih di sebuah masjid yang dua rakaat berlangsung 15 menit. Mulainya pukul 22.40 CEST, baru selesai pukul 24.00 malam, beruntung masih dapat Metro untuk pulang ke apartemen. Untuk ceramah tarawih kebanyakan tidak ada. Kalaupun ada, biasanya dalam Bahasa Arab atau Bahasa Swedia.

Hal yang berbeda dan penuh perjuangan untuk tahun ini adalah saya tengah mengerjakan tugas akhir atau master thesis. Saya mengerjakannya di kampus, tepatnya di salah satu grup riset. Menjadi pejuang tesis, ternyata selain tak kalah menantang juga melelahkan. Menguras waktu, tenaga, dan pikiran, godaan untuk tidak berpuasa pun sesekali datang. Akan tetapi, saya ingat lagi tujuan diwajibkan berpuasa agar seorang muslim bertakwa dalam hidupnya.

Gedung grup riset saya model ruangannya berbentuk koridor dua sisi. Satu sisi merupakan ruang kerja, baik untuk profesor, peneliti, maupun mahasiswa doktoral. Sisi lainnya merupakan laboratorium untuk melakukan eksperimen. Saya mendapatkan bilik tersendiri di salah satu ruang kerja. Ada tempat di dekat dinding yang cukup untuk melakukan salat. Saya bersyukur karena teman-teman juga tidak mempermasalahkan saya untuk sembahyang di sana.

Di koridor grup riset, ada pula dapur dan ruang makan yang biasa digunakan berkumpul ketika masuk jam makan siang atau sesi fika (coffee break). Ketika tiba bulan Ramadhan, saya tidak lagi ke ruang makan tersebut. Suatu hari sekitar jam dua siang, seorang teman bertanya apakah saya sudah makan, sebab dia memperhatikan saya tidak beranjak dari laboratorium sejak pagi. Dia menawari saya makanan dan minuman, seperti buah, kopi, teh, dan roti.

Mengerjakan tugas akhir kuliah di bulan puasa (Ahmad Satria Budiman/Istimewa)

Akhirnya, saya menjelaskan kalau sedang berpuasa. "I am so impressive," ucapnya setelah saya menerangkan secara garis besar konsep berpuasa. Belajar mengendalikan diri, antara lain tidak makan dan tidak minum. Ketika dia bertanya lagi, apakah saya baik-baik saja, saya menjawab jika saya baik-baik saja. Dia bertanya begitu karena matahari bersinar lebih lama. Saya bilang, tetapi cuacanya tidak terlalu panas sehingga tidak terlalu lapar dan haus.

Kurang lebih 20 orang di grup riset, saya satu-satunya orang yang berpuasa. Saya yang tidak lagi ikut Fika (santai sore) ketika waktunya tiba. Ada beberapa teman dari negara-negara Arab, bahkan dari namanya bisa membuat kita berpikir kalau mereka orang Islam. Mereka tetap makan dan minum. Saya semakin belajar untuk tidak mengasosiasikan bahwa Arab itu Islam. Namun pada intinya, selama saling menghormati dan menghargai privasi, tidak jadi masalah di sini.

Sama seperti tahun lalu, hari-hari saya tetap tersita untuk hal-hal akademik, meski ini bulan Ramadhan, jauh dari ekspektasi semula saat membayangkannya dari Indonesia. Dan tahun ini, saya tak bisa lagi tidur siang seperti tahun lalu karena benar-benar harus memaksimalkan waktu buka laboratorium dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Dalam suatu obrolan, ada teman yang memberi saran bahwa kuncinya mengatur waktu tidur di bulan puasa adalah konsisten.

Sebenarnya mau berapa lama pun waktu tidur, harus dilakukan secara konsisten agar tubuh bisa menyesuaikan. Ramadhan tahun ini, saya tidur satu setengah jam setelah sahur sampai jam 7 pagi. Ada jeda setelah sahur untuk memberi kesempatan tubuh mencerna makanan. Jeda tersebut sekalian bisa dimanfaatkan untuk bertadarus. Kemudian sore hari jika sempat dan ada waktu, saya tambah lagi beberapa jam, seperti jelang berbuka puasa antara pukul 16.00-20.00 sore.

Menu sahur: nasi, salad, ikan cod, dan keripik (Ahmad Satria Budiman/Istimewa)
Hal yang juga berbeda untuk tahun kedua saya berpuasa di Swedia adalah kini ada beberapa teman dari Indonesia di gedung tempat tinggal saya sehingga sesekali bisa sahur bersama. Menunya sederhana, namun tetap sehat dan mengenyangkan. Cukup menjadi penyegar sebagai anak rantau yang jauh dari keluarga. Saya teringat masa adaptasi tahun lalu, sebab tidak seperti di Indonesia yang kalau tinggal di indekos bisa keluar cari tempat makan untuk sahur. Selain tidak ada rumah makan dan warung burjo, segala sesuatu harus dipersiapkan mandiri.

Menjalani bulan Ramadhan di Swedia memang berbeda dengan di Indonesia, bahkan bisa jadi juga berbeda dengan cerita teman-teman di beberapa negara. Saya bersyukur bisa dapat kesempatan merasakan bulan Ramadhan di Swedia. Saya juga bisa belajar untuk tidak terlalu tinggi dalam berekspektasi. Sebab sebenarnya dengan lebih banyak bersyukur, Insya Allah ada hal-hal baik yang datang dari arah tidak disangka-sangka. Biarkan hidup ini mengalir, namun tetap pegang prinsip keimanan supaya tidak larut terbawa arus dan bisa sampai di tujuan. Pada akhirnya, Ramadhan selalu punya cara tersendiri untuk memberi warna di mana kita berada.

*) Ahmad Satria Budiman adalah mahasiswa program master tahun kedua di Department of Fibre and Polymer Technology, KTH Royal Institute of Technology, Stockholm, yang juga merupakan Bendahara Perhimpunan Pelajar Indonesia di Swedia (PPI Swedia) 2018-2019.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan@detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat, kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed