detikNews
Kamis 23 Mei 2019, 11:53 WIB

Tentang Rusuh 22 Mei: Rencana Serang Jokowi hingga Pendana Misterius

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Tentang Rusuh 22 Mei: Rencana Serang Jokowi hingga Pendana Misterius Foto: Lamhot Aritonang/detikcom
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Jakarta - Polisi berhasil menangkap para perusuh yang diduga kuat bertanggung jawab atas sejumlah kerusuhan yang terjadi pada beberapa titik di Jakarta. Polisi mengungkap rencana mereka untuk menciptakan rusuh sudah di-setting dan dibiayai oleh seorang pendana misterius. Bagaimana penjelasan lengkapnya?

Perusuh Beda dengan Peserta Aksi Damai

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memastikan kelompok yang membuat rusuh dini hari, Rabu (22/5/2019), berbeda dengan peserta aksi demo damai di Bawaslu kemarin. Kelompok tersebut yang diduga sebagai massa tak dikenal dengan tujuan membuat rusuh.

"Peristiwa di jam 23.00 WIB sampai pagi itu bukan peserta aksi yang tadi (di Bawaslu), tapi pelaku yang sengaja langsung menyerang dan tujuan melakukan kerusuhan. Nah ini beda, untuk itu dilakukan langkah-langkah sesuai SOP, yaitu mengeluarkan gas air mata dan bertahan dengan tameng dan pentungan," tegas Kapolri.



Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal menegaskan bahwa aksi massa demo 22 Mei di gedung Bawaslu awalnya memang kondusif. Bahkan dia mengatakan aparat dan peserta aksi sempat menjalankan salat tarawih berjemaah.

257 Pelaku Rusuh Berhasil Diciduk

Polisi berhasil menciduk para perusuh di asrama Brimob, Petamburan, Jakarta Barat. Diduga kuat mereka merupakan perusuh bayaran. Bahkan, beberapa di antara mereka ada yang bertato. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 257 orang yang berhasil diamankan.

"Jadi bahwa pelaku-pelaku yang kita tangkap sebanyak 257 ini ada yang menyuruh, ada beberapa uang tadi di amplop ini dan sudah men-setting kegiatan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (22/5/2019).



Argo menyebut 257 tersangka itu berasal dari 3 tempat kejadian perkara, yaitu Bawaslu, Petamburan, dan Gambir. Dari Bawaslu ada 72 tersangka, lalu 156 tersangka dari Petamburan, dan sisanya 29 tersangka dari kerusuhan di Gambir. Menurut Argo, para perusuh diduga kuat berasal dari beberapa daerah di luar Jakarta. Mereka membuat pertemuan di Sunda Kelapa, Jakarta Utara, guna merencanakan aksi kerusuhan.

"Kemudian bahwa para tersangka yang tadi disuruh itu berasal dari luar Jakarta dan kemudian dari Jawa Barat dia kemudian datang ke Sunda Kelapa. Di sana ketemu beberapa orang di sana. Yang sedang kita cari, sedang kita gali, siapa orangnya yang ditemuinya dan kemudian," tuturnya.

Argo pun menegaskan para pelaku ini dijerat dengan Pasal 170, 212, 214, dan 218 KUHP. Sedangkan pelaku pembakaran asrama polisi di Petamburan ditambahi Pasal 187 KUHP.


Rencana Serang Jokowi di Johar Baru

Polisi berhasil mengungkap rencana provokator kerusuhan 22 Mei 2019 untuk menyerang Jokowi di Johar Baru. Rencana penyerangan tersebut disebarkan melalui aplikasi perpesanan Whatsapp.

"Terus kemudian di WA Group ini menyampaikan, 'Jokowi di Johar, ayo kita serang'. Ada di sini (grup WA)," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (22/5/2019).



Sebelumnya, diketahui Jokowi memang membacakan pidato kemenangan di Kampung Deret, Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (21/5). Selain itu, Argo Yuwono memaparkan provokator ini juga mengajak untuk membuat titik kerusuhan di Jakarta.

"Ada kata-kata lagi, 'Rusuh sudah sampai Tanah Abang kok, sudah sampai bakar-bakaran'. Jadi dia sudah langsung menyampaikan ke grup," lanjut Argo.

Di-setting oleh Pendana Misterius, Ada Busur sampai Bom Molotov

Lantas, Argo merinci barang-barang yang diamankan polisi dari para pelaku. Barang bukti termasuk senjata tajam dan senjata lainnya.

"Untuk Bawaslu barang bukti bendera hitam, mercon, atau petasan, kemudian juga ada beberapa handphone. Di Petamburan ada beberapa celurit, busur panah yang ditemukan di Petamburan," kata Argo.

Dia pun menunjukkan busur panah yang diamankan di Petamburan. Argo mengatakan barang bukti juga, termasuk bom molotov, untuk menyerang petugas. Menurutnya, semua ini sudah disiapkan oleh seseorang.

"Jadi sudah saya jelaskan bahwa dari pelaku perusuh yang kita tangkap ini adalah sudah direncanakan setting ada yang membiayai sudah mempersiapkan barang-barangnya karena di Petamburan itu batu, busur sudah tertata di pinggir jalan," ujar dia.

"Di Petamburan juga ada uang yang masuk di amplop, ada nama-namanya. Amplop ini ada untuk siapa-siapanya dari Rp 200-500 ribu. Ada uang Rp 5 juta untuk operasional," sambungnya.

Mereka Mengaku Dibayar

Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, berdasarkan pemeriksaan petugas, para perusuh sudah mengaku dibayar. Hal ini juga dikuatkan oleh uang yang ada di dalam amplop.

"Yang diamankan (di Petamburan) ini, termasuk yang di depan Bawaslu, ditemukan pada mereka amplop yang berisi uang totalnya Rp 6 juta yang terpisah amplopnya, mereka mengaku ada yang bayar," kata Tito di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (22/5/2019).



Ada Bukti Ambulans Berlogo Partai

Polisi pun menemukan bukti berupa satu mobil ambulans berlogo partai berisi batu dan alat-alat. Diduga batu dan alat tersebut adalah amunisi massa untuk menyerang polisi.

"Ada bukti-bukti. Ada satu ambulans, saya tidak akan sebutkan partainya, penuh dengan batu dan alat-alat. Ada juga massa tersebut masih menyimpan amplop dan kami sita, Polda Metro Jaya, sedang kami dalami," kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal dalam konferensi pers di Kemenko Polhukam, Rabu (22/5/2019).

Terkait ambulans berlogo partai ini, diketahui logo tersebut merupakan logo Partai Gerindra Tasikmalaya. Ketua DPC Gerindra Kota Tasikmalaya Nandang Suryana pun membenarkan ambulans tersebut milik pihaknya, tapi membantah sengaja membawa batu untuk massa 22 Mei.

Ia menjelaskan ambulans yang kaca depan dan badan pintu bertulis 'Gerindra Kota Tasikmalaya' itu dikirim ke Jakarta pada Selasa (21/5) malam, sekitar pukul 20.00 WIB. "Jadi begini, DPC se-Jabar diinstruksikan harus kirim ambulans ke Seknas. Hanya ditugaskan mengirim ambulans. Ini se-Jabar, bukan Kota Tasik saja," ujar Nandang di kantor Gerindra Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (22/5/2019).

Sedangkan DPP Gerindra mengaku belum tahu soal arahan mobil ambulans tersebut. DPP Gerindra masih melakukan pengecekan terkait pihak yang memerintahkan membawa ambulans untuk aksi 22 Mei di DKI Jakarta. Gerindra memastikan perintah itu tak datang dari ketua dan sekretaris DPD Gerindra.

"Kita nggak tahu, karena setelah dicek yang memerintahkan itu bukan ketua atau sekretaris DPD," kata Waketum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad kepada wartawan, Kamis (23/5/2019).

Dasco mengatakan perintah itu diberikan kepada pengurus DPC Gerindra Tasikmalaya lewat surat. Namun dia belum bisa menyebutkan pihak yang memberikan surat itu.

"Kita lagi cek siapa namanya yang memerintah itu, karena katanya pakai surat perintah itu," ujarnya.


6 Orang Tewas, Kapolri Minta Jangan Langsung Apriori

Polisi juga mengaku menerima informasi terkait kematian 6 orang yang diduga menjadi korban kerusuhan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mendapatkan laporan mengenai enam orang tewas dalam rusuh dini hari 22 Mei. Namun Tito meminta masyarakat tidak langsung menarik kesimpulan mereka merupakan korban aparat.

"Saya mendapatkan laporan dari Kabiddokes, ada 6 orang meninggal dunia. Informasinya, ada yang kena luka tembak, ada yang kena senjata tumpul," ujar Tito dalam konferensi pers di Kemenkopolhukam, Rabu (22/5/2019).



Tito menyebut soal 6 orang yang meninggal dalam rusuh 22 Mei itu perlu ditelusuri lebih lanjut. Agar diketahui mengenai penyebab dan siapa pelakunya.

"Harus kita clear-kan, di mana dan apa sebabnya. Tapi jangan langsung apriori (mengambil kesimpulan tanpa pengalaman)," tutur Tito.

"Karena kita menemukan barang-barang seperti ini (sambil menunjuk senapan M4). Ini di luar tangan TNI dan Polri. Apalagi memang ada upaya untuk memprovokasi itu sehingga membangun kemarahan publik," sambungnya.


Rencana Menciptakan Martir

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, petugas berhasil mengungkap soal informasi akan adanya 'rencana berdarah' untuk menciptakan martir. Hal ini berdasarkan dari beberapa senjata api yang disita oleh polisi.

"Tanggal 21 Mei kemarin kita juga menangkap 3 orang. Mereka ditangkap dengan senjata revolver jenis Taurus Glock 22 berikut sejumlah peluru 2 dus M-40 hampir 60 butir. Pengakuan mereka sama nanti dipakai untuk tanggal 22," sebutnya sambil menunjukkan pistol yang dimaksud.

"Tujuan untuk apa? informasi intelijen kita, senjata-senjata ini mereka pakai di antaranya untuk selain kepada aparat, pejabat juga, juga untuk ke massa supaya timbul martir. Alasan untuk buat publik marah, yang disalahkan aparat pemerintah," imbuh Tito.



Tonton juga video Deretan Fakta Kerusuhan di Aksi 22 Mei:

[Gambas:Video 20detik]


(rdp/fjp)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed