detikNews
Kamis 23 Mei 2019, 11:21 WIB

Bikin Akun Sosmed Fiktif, Multazam Dibui 1 Tahun

Andi Saputra - detikNews
Bikin Akun Sosmed Fiktif, Multazam Dibui 1 Tahun Ilustrasi (dok.detikcom)
Jakarta - Lalu Ahmad Multazam (37) dihukum 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta. Warga Kedung Kandang, Malang, Jatim itu terbukti membuat akun fiktif di sosial media (sosmed) BeeTalk.

Kasus bermula saat Multazam mendownload aplikasi BeeTalk lewat Google Playstore di Hpnya pada 2017. Saat download, ia memasukkan data fiktif yaitu Hp dan data pribadi.


Setelah berhasil mendowload aplikasi BeeTalk, ia membuat akun atas nama Jennifer, Susy Rizky Wiyantini dan Niluh Jalantik. Selain itu, di akun itu ia juga mencantumkan nomor Hp tiga perempuan itu. Untuk lebih meyakinkan, Multazam memasang foto perempuan cantik yang dia dapati di internet. Di akun palsu itu, Multazam menulis status:

Aku dalam hubungan rumit, berpikiran terbuka, 164 cm, 52 kg, rata-rata, rambut pirang dan mata cokelat.

Multazam juga membuat status bila ketiga perempuan itu menerima jasa pijat spa plus. Tak berapa lama, para pria hidung belang menghubungi Jennifer, Susy dan Niluh dan menanyai soal jasa lendir.

Ketiganya kaget bukan kepalang. Mereka lalu ramai-ramai melaporkan hal itu ke Kominfo. Petugas segera melacak akun fiktif tersebut dan ditangkaplah Multazam. Akhirnya, Multazam duduk di kursi pesakitan.

"Menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsidair 3 bulan," putus majelis PN Jakpus sebagaimana dilansir website Mahkamah Agung (MA), Kamis (23/5/2019).


Duduk sebagai ketua majelis M Djoenaidie dengan anggota Purwanto dan Tuty Haryenti. Ketiganya menyatakan Multazam terbukti dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang memiliki muaran yang melanggar kesusilaan.

"Dan memalsukan dokumen kepada instansi pelaksanan dalam melaporkan peristiwa kependudukan," putus majelis dengan suara bulat.

Pemalsuan dokumen itu adalah Multazam mendaftar 3 akun BeeTalk dengan identitas fiktif.

"Perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat dan dapat merusak harga diri korban di mata masyarakat," ujarnya.
(asp/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed