DetikNews
Rabu 22 Mei 2019, 18:37 WIB

Anies Kirim Bunga Dukacita ke Farhan Syahfero Korban Tewas Rusuh 22 Mei

Zakia Liland Fajriani - detikNews
Anies Kirim Bunga Dukacita ke Farhan Syahfero Korban Tewas Rusuh 22 Mei Anies mengirim karangan bunga ke korban tewas rusuh 22 Mei. (Zakia Liland Fajriani/detikcom)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan dukacita kepada salah satu korban tewas rusuh 22 Mei 2019, Farhan Syahfero. Ayah Farhan mengucapkan terima kasih atas perhatian Anies.

"Saya secara pribadi ya terima kasih ya. Namanya ada perhatian. Saya tidak mengurangi rasa ya terima kasihlah pada dasarnya. Toh, itu cuma ucapan turut berdukacita kan gitu," ujar M Syafri Alamsyah (58), ayah Farhan, di rumah duka, Jalan Pramuka RT 3 RW 7, Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Depok, Jawa Barat.


Syafri ingin ada yang bertanggung jawab atas kematian Farhan saat rusuh 22 Mei dini hari tadi.

"Ya, kalau saya sih menginginkan secara jujur ya, harusnya ada yang bertanggung jawab. Ya kan siapa, itu. Saya menginginkan itu," paparnya.

Syafri mengaku bingung meminta pertanggungjawaban atas kematian anaknya. Meski begitu, dia tidak mau menuduh pihak kepolisian atas hilangnya nyawa anak keduanya itu.

"Kan saya nggak tahu siapa yang harus bertanggung jawab dalam arti dengan kehilangan anak saya. Lah, saya ke mana? Terus... kepentingannya apa? Saya harus tuduh dia? Kalau dia juga nggak mengakui di mana?" sambungnya.

Namun, jika ada pihak-pihak yang mendukung upayanya, Syafri mau meminta pertanggungjawaban kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Iya, langsung. Kalau memang ada lembaga yang berkepentingan untuk bantu saya. Iya, betul. Kan kondisi ini ada di pemerintahan dia. Ya kan? Kalau dia merasa sudah capres seharusnya ya dia bagaimana? Berarti dia bukan pemerintah karena dia capres. Lah, iya dong. Kan ini korban di masa pemerintahan dia. Sekarang yang mau diam kalau nyawa anaknya hilang?" imbuh Syafri.

"Saya mungkin sebagai orang tuanya mungkin ikhlas. Tapi kan ada anaknya yang butuh figur seorang ayah. Mana hati nurani mereka? Mereka duduk dengan fasilitas mewah. Kalau sekarang tidak ada apa-apanya ini, cucu saya gimana? Kan rasa kemanusiaannya di mana?" sebut dia.


Permintaan Syafri untuk didampingi dalam meminta pertanggungjawaban pemerintah atas tewasnya Farhan dilatarbelakangi oleh sejarah kasus 1998 yang katanya belum selesai hingga kasus Novel Baswedan. Ia merasa tidak akan berhasil jika hanya melakukannya seorang diri.

"Nih, sekarang nih, ada nih. Sekarang saya ngalamin. Polisi sendiri, nggak ada investigasi polisi di sini. Polisi cuma dateng, oh ini tempatnya. Cuma itu. Makanya saya bilang, nuntut siapa? Trisakti, apa nggak suatu otonom lho? Kampus besar, sampai sekarang mana? Novel Baswedan, seorang aparat negara? Apalagi saya?" lanjutnya.


Terkait Aksi 22 Mei, Anies: Hindari Tanah Abang
(gbr/gbr)
FOKUS BERITA: Aksi 22 Mei
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed