detikNews
Rabu 22 Mei 2019, 13:33 WIB

TKN Jokowi Imbau Masyarakat Waspada Ada Free Rider di Aksi 22 Mei

Elza Astari Retaduari - detikNews
TKN Jokowi Imbau Masyarakat Waspada Ada Free Rider di Aksi 22 Mei Johnny G Plate (Ari Saputra/detikcom).
Jakarta - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin menyoroti ricuhnya buntut demo di Bawaslu. Masyarakat diimbau mewaspadai adanya 'penunggang gelap' dari Aksi 22 Mei, yang disebut untuk mengawal hasil Pemilu 2019.

"Masyarakat perlu waspada terhadap free rider yang mungkin bukan untuk kepentingan aspirasi pemilu tetapi ditumpangi oleh kepentingan strategis non-state internasional," ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf, Johnny G Plate, kepada wartawan, Rabu (22/5/2019).

Bentrokan terjadi antara massa dan polisi dini hari tadi di dekat kantor Bawaslu. Tak hanya itu, di sejumlah wilayah juga muncul kelompok-kelompok massa yang anarkistis dan memprovokasi polisi. Ada 69 orang yang diamankan karena diduga sebagai provokator dari massa brutal.

"Kami yakini polisi pasti sudah paham benar dan terus bertindak terukur. Namun sangat diharapkan agar demo tetap dalam koridor yang damai dan tidak anarkis," ujar Johnny.


Sekjen NasDem ini meminta para pimpinan dan tokoh-tokoh politik mengimbau pendukungnya untuk tidak anarkistis menyikapi hasil Pemilu 2019. Johnny menyebut aksi demo dilindungi UU, tapi jangan sampai berujung anarkistis karena bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.

"Para pemimpin agar mampu mengendalikan pendukungnya agar tidak anarkis. Memperjuangkan hak terkait hasil pemilu sejatinya dapat dilakukan melalui jalur konstitusional pemilu baik di Bawaslu maupun di MK," ucapnya.

Hingga pukul 09.00 WIB, total ada 6 orang yang tewas akibat demo ricuh. Selain itu, sekitar 200 orang luka-luka.

"Kami sangat menyesalkan adanya korban luka, apalagi korban jiwa. Benturan pendemo dan aparat tidak menguntungkan semua pihak dan sangat merugikan bagi kepentingan bangsa yang lebih besar," sebut Johnny.

Anggota Komisi XI DPR itu mengingatkan semua pihak tidak mengorbankan kepentingan negara hanya untuk kepentingan kelompok semata, apalagi terkait ideologis bangsa. Johnny tak ingin kekacauan politik menyebabkan munculnya konflik berkepanjangan seperti yang terjadi di Irak dan Suriah.


"Indonesia jangan mengulang kekalutan politik seperti yang terjadi di Irak dan Suriah yang hancur karena pertentangan ideologi. Presiden sudah mengingatkan bahwa kita menjadi dewasa demokrasi dan dewasa ideologi. Mari kita jaga bersama sama keutuhan nasional kita," imbaunya.

"Jangan sampai terprovokasi dan kita tercerai berai. Kita jaga ruang kebebasan berpendapat sekaligus kita jaga ekspresi pendapat yang bertanggung jawab dengan demo tidak anarkis," tambah Johnny.

Sebelumnya, Polri menyatakan massa brutal yang membuat kericuhan di beberapa lokasi di Jakarta merupakan massa bayaran. Rangkaian peristiwa yang terjadi di Jl Wahid Hasyim, Jl Sabang, dan Jl KS Tubun dini hari tadi disebut sebagai sebuah setting-an.

"Saya menyampaikan bahwa dari rangkaian tadi bahwa peristiwa dini hari tadi bukan massa spontan, bukan massa spontan bukan peristiwa spontan, tapi peristiwa by design, peristiwa setting-an," ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal dalam jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (22/5).
(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com