detikNews
Senin 20 Mei 2019, 21:59 WIB

Round-Up

Koalisi BPN-Demokrat Tinggal Menghitung Hari

Tim detikcom - detikNews
Koalisi BPN-Demokrat Tinggal Menghitung Hari SBY dan Prabowo (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Umur Partai Demokrat di koalisi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tinggal menghitung hari. Dua elite Demokrat di koalisi telah menyatakan balik badan.

Dua petinggi Demokrat yang balik badan ialah Jansen Sitindaon dan Ferdinand Hutahaean. Mereka mundur dari Koalisi Indonesia Adil Makmur lantaran bully terhadap Demokrat menyasar Ani Yudhoyono, istri Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ferdinand menunjukkan tangkapan layar akun Twitter yang mem-bully Ani Yudhoyono. Salah satu netizen terlihat mencolek akun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan menuliskan kalimat 'Bini loe dah sembuh mbang @SBYudhoyono?'.


"Ya saya mundur! Saya tidak mau dukung lagi meskipun Prabowo yang akan ditetapkan sebagai pemenang. Buzzer-buzzer-nya tidak punya peri kemanusiaan," tegas Ferdinand, Minggu (19/5/2019).

Alasan buzzer politik menyerang Ani Yudhoyono turut menjadi pertimbangan Jansen Sitindaon mundur sebagai pendukung Prabowo. Dia amat tak terima Ani Yudhoyono diserang lantaran sudah menganggap sosok mantan ibu negara itu sebagai ibu kandungnya.

"Melecehkan Bu Ani. Ini menurut saya tidak menghargai perjuangan saya yang juga jelas keringat dan rekam jejaknya selama 7 bulan kemarin untuk memenangkan Pak Prabowo. Ibu Ani ini posisinya sudah seperti ibu kandung kami seluruh kader Demokrat. Dengan kejadian beliau dituduh-tuduh sakit rekayasa, ini sungguh telah menyakiti hati saya dan hati seluruh kader Demokrat," kata Jansen.



Demokrat memang melakukan manuver setelah Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin unggul pada Pilpres 2019 versi quick count. Setelah kasus serangan buzzer politik terhadap Ani Yudhoyono, umur Demokrat di koalisi Prabowo-Sandi makin pendek.

Meski begitu, Jansen menyebut keputusan Demokrat bertahan atau keluar dari koalisi Prabowo-Sandi akan diambil oleh para petinggi partai. Hanya, yang jelas, Jansen menegaskan mundur meski di Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dirinya bertugas sebagai salah satu juru bicara.

"Situasi ini jelas menjadi bahan pertimbangan kami apakah kami masih pantas terus berada di koalisi Prabowo ini atau segera mundur saja dari koalisi ini," ujar Ketua DPP PD Jansen Sitindaon kepada wartawan, Senin (20/5/2019).


Sekjen PD Hinca Pandjaitan menegaskan Demokrat masih berada di koalisi Prabowo-Sandiaga hingga 22 Mei mendatang, yang merupakan pengumuman hasil Pemilu 2019. Alasannya, pada tanggal itu berakhir sudah pertandingan pilpres.

"Demokrat tetap 02 sampai nanti tanggal 22 Mei. Mengapa sampai tanggal 22 Mei? Karena koalisi partai politik itu capres ini memang dimaksudkan untuk capres, nah peluit terakhir ditiupkan oleh wasit dalam hal ini KPU, itu nanti tanggal 22. Nah, kalau sudah ditiup peluit, pertandingan berakhir ya, berakhir. Gitu," kata Hinca di kantor KPU RI, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (20/5).
(gbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed