detikNews
Senin 20 Mei 2019, 07:02 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Semangat Ramadhan dari Pedalaman Thailand

Nurhadi Eko Firmansyah - detikNews
Semangat Ramadhan dari Pedalaman Thailand Masjid Khon Kaen di Thailand (Nurhadi Eko Firmansyah/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Khon Kaen - Khon Kaen adalah pedalaman Thailand untuk menuju Laos. Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di sana beda banget rasanya.

Bermula dari bulan Januari, ketika saya datang pertama kalinya di Thailand. Bukan Kota Bangkok yang saya tuju, namun Provinsi Khon Kaen. Sebuah daerah transit apabila Anda semua akan ke Laos lewat jalan darat.

Selepas bulan Februari, di Thailand sendiri sudah memasuki musim panas. Puncaknya adalah Songkran Day yang jatuh pada bulan April. Ditandai dengan Hari Basah Kuyup atau tradisi perang air di seluruh Thailand karena cuaca di Thailand pada bulan April sedang panas-panasnya. Suhu rata-rata pada bulan April dan Mei saat ini di Thailand mencapai 40 °C.

Bukan sebuah kebetulan, bulan Ramadhan tahun ini dilaksanakan selepas Songkran Day di Thailand. Hari-hari yang panas dijalani setelah Songkran. Tetapi, tentu kita ingat kata Pak Ustaz, puasa merupakan ibadah yang tidak hanya menahan makan dan minum saja bukan? Banyak hal yang harus kita resapi mengenai makna terdalam dari berpuasa Ramadhan.

Tantangan Ramadhan di Isaan

Semangat Ramadhan dari Pedalaman ThailandSuasana Masjid Khon Kaen (Nurhadi Eko Firmansyah/Istimewa)
Isaan, begitu kata orang Thailand untuk menyebut salah satu area timur laut Thailand yang berbatasan dengan Laos. Salah satu provinsi terbesarnya adalah Khon Kaen. Khon Kaen adalah tempat bernaungnya universitas terbesar di area Isaan, yaitu Khon Kaen University.

Saya menjalani puasa Ramadhan pertama kalinya di luar negeri, dan negeri ini dihuni oleh mayoritas orang Buddha. Islam menjadi minoritas. Di tengah minoritas tersebut, Islam tetap mendapat tempat, ditandai dengan beberapa masjid yang tersebar di Khon Kaen.

Berpuasa di tengah mayoritas Buddha mendapat banyak tantangan. Selain cuaca yang sudah saya utarakan sebelumnya. Tantangan lainnya adalah budaya masyarakat setempat. Gaya berpakaian yang sedikit terbuka karena cuaca yang panas. Bagi saya, hal tersebut tidak lantas membuat puasa bergaya anak SD, yang hanya menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ada pelajaran mengenai mengerti kepada lingkungan sekitar, menghargai dan mampu mengelola diri.

Puasa Ramadhan kali ini juga bersamaan dengan ujian akhir semester. Beberapa mahasiswa harus berjuang ekstra dalam kondisi tersebut. Di Khon Kaen, durasi lama berpuasa hampir mirip dengan Indonesia. Dan saya sendiri mengapresiasi pada penduduk yang berpuasa lebih dari 18 jam di Eropa. Tentu itu bukan perkara mudah.

Solidaritas dari masjid
Semangat Ramadhan dari Pedalaman ThailandMakanan berbuka puasa (Nurhadi Eko Firmansyah/Istimewa)
Masjid Khon Kaen, salah satu masjid yang dekat dengan Khon Kaen University menyediakan sajian makanan untuk berbuka dan santap sahur setiap hari secara gratis. Para mahasiswa muslim biasanya memakai motor atau menggunakan bus kampus dengan sedikit jalan kaki untuk menuju ke masjid. Sebelum santap makanan buka puasa, doa berbuka puasa dipimpin oleh imam masjid, kemudian dihidangkan buah, kurma, minuman manis, dan kacang-kacangan yang dilumuri dengan bumbu kari. Beberapa mahasiswa Bangladesh menyukainya. Memang, kuah kari adalah favorit mereka.

Selepas salat Maghrib, semua jamaah menyantap makanan besar. Makanan dihidangkan dalam satu wadah besar untuk 4 orang. Menu makanannya hampir tiap hari sama. Nasi ditambah daging sapi berlumur kuah kari. Rasanya cukup enak, dan tentu suasana menjadi hangat serta kebersamaan menjadi bermakna, karena 1 wadah untuk berempat.

Waktu berbuka puasa di Khon Kaen sekitar pukul 18.30. Acara di masjid diakhiri dengan salat tarawih berjamaah. Menu santap sahur juga disediakan oleh pengurus masjid secara gratis. Makna solidaritas terbangun dari sebuah masjid. Layaknya umat muslim sedunia adalah saudara.

Kebersamaan Ramadhan
Semangat Ramadhan dari Pedalaman ThailandMahasiswa Indonesia di Khon Kaen (Asep Firmansyah/Istimewa)
Khon Kaen memang jauh dari Bangkok, berjarak lebih dari 500 Km. Namun, hal tersebut tidak mengurangi rasa kebersamaan para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Khon Kaen University. Di tengah Ramadhan ini, acap kali kami menyelenggarakan buka puasa bersama. Kegiatan yang sangat mujarab untuk mengobati kerinduan suasana Ramadhan di tanah air.

Lewat Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha) simpul Khon Kaen inilah jadi ajang silaturahmi. Salah satunya digelar program NgajiKKU, sebuah program siraman spiritual oleh pengurus Permitha bagi muslim Indonesia di Khon Kaen. Saya pikir, menjalani puasa di luar negeri memang banyak tantangan. Tinggal diri kita yang harus dikendalikan untuk menggapai ridho-Nya.

*) Nurhadi Eko Firmansyah adalah mahasiswa program doktoral pada program studi Parasitologi, Khon Kaen University, Khon Kaen, sekaligus ketua Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha) simpul Khon Kaen.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan.detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com