DetikNews
Minggu 19 Mei 2019, 17:23 WIB

Kazan, Cahaya Ramadhan dari Rusia

Hartomy Akbar Basory - detikNews
Kazan, Cahaya Ramadhan dari Rusia Masjid Galevskaya di Kazan (Hartomy Akbar Basory/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kazan - Masih banyak yang mengira Rusia adalah negara komunis. Padahal sekarang Rusia mengakui keberagaman agama. Di Kazan, bulan Ramadhan diramaikan umat muslim.

Rusia tanpa agama? Itu salah. Agama Kristen Ortodoks adalah mayoritas di Rusia menurut laman RBTH Indonesia. Islam adalah agama dengan jumlah penganut terbesar kedua di Rusia. Presiden Vladimir Putin, saat hadir pada peresmian Masjid Agung Moskow pada September 2015 menyatakan, Islam merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan spiritual Rusia.

Republik Tatarstan dengan ibukota Kazan, Republik Dagestan dengan ibukota Makhachkala dan Republik Bashkortostan dengan ibukota Ufa adalah beberapa kota muslim di Rusia. Mari melihat dari Kota Kazan. Di Kazan banyak agama berkembang, banyak masjid dan gereja dibangun dan yang sudah berdiri dari zaman dulu.

Pada tanggal 24 hingga 26 April 2019 diadakan acara besar yaitu Rusia - Islamic World Kazan Summit 2019, menandakan Rusia sudah tidak menjadi negara komunis. Rusia menjadi negara yang mencintai keberagaman agama. Acara ini seperti untuk menyambut bulan Ramadhan yang dimulai pada tanggal 6 Mei 2019.

Kazan, Cahaya Ramadhan dari RusiaMakanan buka puasa di Kazan (Hartomy Akbar Basory/Istimewa)

Tradisi budaya Ramadhan di Kota Kazan adalah masjid lebih ramai dari hari-hari lainnya, suara ayat suci Al Quran dari pengeras suara masjid terdengar ke beberapa meter luar masjid. Ayat suci lebih sering dilantunkan dari biasanya. Setiap hari selama bulan Ramadhan di beberapa masjid, menggelar iftar berbuka puasa bersama.

Di Kota Kazan, tepatnya di Universitas Federal Kazan, tempat saya berkuliah, beberapa dosen di kelas persiapan bahasa juga mengucapkan selamat berpuasa Ramadhan, ada juga dosen yang menyarankan mahasiswa non muslim untuk makan dan minum di tempat lain jika ada mahasiswa muslim yang berpuasa.

Masjid besar di sana adalah Masjid Galevskaya, dibangun pada tahun 1798-1801. Rusia berbeda mazhab dengan Indonesia. Beberapa masjid di Kota Kazan, bacaan salat tarawih dan salat witirnya kurang lebih satu juz dalam 23 rakaat.

23 Rakaat itu rinciannya 2 rakaat menyambung 2 rakaat, istirahat 1 menit, kami membaca shalawat. Kemudian salat 4 rakat, menyambung 4 rakaat lagi, istirahat. 4 Rakaat dan selanjutnya 2 kali 2 rakaat. Total 20 rakaat, istirahat 2 menit lalu ditutup salat witir membaca 3 surat pendek. Jika di kota Sidoarjo, tempat saya lahir, beberapa masjid melaksanakan salat tarawih dan witir dengan setiap 2 rakaat dan salam, hingga 20 rakaat tarawih dan 3 rakaat salat witir dengan surat pendek.

Saya dan beberapa mahasiswa baru lainnya, masih terkejut dengan rakaat salat tadi. Beberapa mahasiswa senior yang sudah 2 tahun lebih tinggal di Rusia, paham dengan kondisi tersebut.

Kazan, Cahaya Ramadhan dari RusiaMasjid Al Marjani di Kazan (Hartomy Akbar Basory/Istimewa)

Masjid bersejarah lain di Kazan adalah Masjid Al Marjani, yang dibangun tahun 1766 atas persetujuan Ratu Yekaterina II. Suasana di dalam Masjid Al Marjani dihiasi ornamen ukiran tembok yang khas. Jika suatu negara di Eropa memiliki kota dengan peradaban Islamnya, seperti Turki memiliki Kota Konstantinopel atau sekarang menjadi Istanbul, Spanyol memiliki Cordoba, Rusia juga memiliki Kota Kazan sebagai perkembangan peradaban islam dari beberapa ratus tahun yang lalu.

Kegiatan komunitas muslim di sana dibantu sukarelawan selama bulan Ramadhan. Ini bisa dilihat dari penyelenggaraan kegiatan Iftar atau berbuka puasa di setiap masjid. Ada dari mereka para sukarelawan yang tidak dibayar, mereka bertugas mengarahkan jamaah, menuangkan sup, menyajikan makanan, mencuci alat makan hingga membuang sampah.

Jamaah pria antre rapi sebelum memasuki tempat iftar. Untuk duduk sudah diatur. Antrean panjang paling awal masuk di sisi pojok kanan meja pertama, menyusul meja kedua sampai meja kelima. Panjang meja kurang lebih 5 meter.

Setelah sisi kanan terisi penuh, lalu antrean selanjutnya masuk untuk duduk di sisi kiri. Mulai sisi pojok kiri meja pertama sampai terakhir. Masyarakat di sini juga sadar akan sampah. Selesai makan, semua sampah dibuang sendiri, tidak menunggu diambil para sukarelawan. Alat makan dirapikan, piring disatukan, sendok dan gelas dipisahkan, semuanya diantar sendiri oleh tiap-tiap orang yang telah selesai makan, diantar hingga ke tempat pencucian piring.

Kazan, Cahaya Ramadhan dari RusiaAntre buka puasa umat muslim Rusia (Hartomy Akbar Basory/Istimewa)

Menu berbuka puasa di masjid-masjid sering menyajikan makanan khas Uzbekistan yaitu nasi Plov, semacam nasi goreng. Ada juga jajanan roti isi daging khas Tatarstan, Gubaidiya namanya. Minuman khas Rusia juga kerap disajikan, Mors dan Kompot, biasanya terbuat dari cranberry, lingonberry, blueberry, atau campuran lain. Roti tawar, buah-buahan segar kerap kali dihidangkan di tengah meja.

Perbedaan musim tidak membuat jamaah surut. Salat tarawih dan salat Jumat dilaksanakan hingga meluber di luar masjid. Di Kota Moskow, salat jumat di luar masjid dengan alas tikar dan sajadah dilaksanakan walaupun terik matahari dengan suhu sekitar 20 hingga 28 derajat celcius. Di Kota Kazan saat salat tarawih, jamaah meluber hingga keluar gedung masjid, pernah kami melaksanakan salat tarawih saat angin kencang menjelang hujan, menurut Google Weather kecepatan angin saat itu kurang lebih 14 km/jam, salat dilaksanakan dan untungnya hingga salat witir selesai, hujan belum turun. Ada pula yang salat hingga di tempat menaruh sepatu saking penuhnya

Pengalaman berpuasa di Negeri Beruang Merah Rusia mengajarkan toleransi, perjuangan dan mensyukuri kebesaran serta kuasa Allah SWT. Kami para pelajar, menimba ilmu jauh di negara orang, menahan rindu kepada keluarga. Kami akan kembali untuk membangun negara tercinta ibu pertiwi, Indonesia. Kami tetap teguh memegang agama dimanapun kami menuntut ilmu. Sungguh nikmat mana lagi yang tidak bisa didustakan, beribadah di bulan suci Ramadhan di Rusia.

*) Hartomy Akbar Basory adalah mahasiswa Indonesia di Universitas Federal Kazan. Dia adalah PJ Divisi Ikea di PPI Amerika Eropa 2018-sekarang, Koordinator Divisi Seni dan Budaya PPI Rusia, Permira 2018-sekarang dan Admin Informasi Beasiswa group Whatsapp di Festival Luar Negeri PPI Dunia 2017-sekarang.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda juga mahasiswa Indonesia di luar negeri dan mempunyai cerita berkesan saat Ramadhan, silakan berbagi cerita Anda 300-1.000 kata ke email: ramadan.detik.com cc artika@ppidunia.org dengan subjek: Cerita PPI Dunia. Sertakan minimal 5 foto berukuran besar karya sendiri yang mendukung cerita dan data diri singkat kuliah dan posisi di PPI.
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed