DetikNews
Kamis 16 Mei 2019, 14:58 WIB

Berkarya ke Gerindra: Di UU, Pemilu 2019 Satu Paket Pilpres dan Pileg

Elza Astari Retaduari - detikNews
Berkarya ke Gerindra: Di UU, Pemilu 2019 Satu Paket Pilpres dan Pileg Tommy Soeharto-Andi Picunang (tengah)-Muchdi PR. (Dok Berkarya)
Jakarta - Gerindra tak setuju dengan Partai Berkarya yang meminta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga menolak hasil Pileg 2019. Berkarya membantah argumen Gerindra yang menyebut pilpres dan pileg berbeda.

"UU No 7 tentang Pemilu 2019 itu satu paket pilpres dan pileg, kalau berjuang jangan setengah-setengah. Sistemnya sama, kecurangan juga sama. Bahasanya juga harus sama: Pemilu curang berarti pilpres dan pileg curang," ungkap kata Ketua DPP Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang, kepada wartawan, Kamis (16/5/2019).

Saat simposium nasional, Prabowo menyatakan menolak Pemilu 2019 karena dituding ada kecurangan. Berkarya mempertegas dengan meminta Ketum Gerindra itu juga menolak hasil Pileg 2019 meski partainya berada di posisi 3 besar pemenang pemilu berdasarkan hasil rekapitulasi sementara KPU.

"Masyarakat sudah cerdas, apalagi kita ini para politisi dan peserta pemilu, jangan buat narasi yang membingungkan. Ini risiko pemilu gabungan. Perlu evaluasi menyeluruh," kata Picunang.


Ia pun meminta Prabowo-Sandiaga mendengarkan aspirasi dari partai koalisi pendukungnya, termasuk Berkarya, yang dipimpin ketum Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Picunang menyinggung soal pihaknya yang tak mendapat efek ekor jas atau coat-tail effect dari pencalonan Prabbwo-Sandiaga. Efek ekor jas dapat dimaknai sebagai pengaruh figur dalam meningkatkan suara partai di pemilu. Figur tersebut bisa berasal dari capres ataupun cawapres yang diusung.

"Koalisi juga perlu dengar aspirasi bawah tidak hanya kepentingan segelintir elite. Coat-tail effect pileg pada pilpres ini hanya dirasakan PDI, Gerindra, dan PKB. Partai lain berjibaku sendiri-sendiri. Harusnya sama-samalah. Partai Berkarya walaupun baru toh punya andil juga," ucapnya.

Menurut Picunang, kehadiran Gerindra maupun perwakilan parpol pendukung Prabowo-Sandiaga lainnya di DPR untuk periode 2019-2024 tak akan ada gunanya. Itu lantaran Koalisi Indonesia Adil dan Makmur kalah besar dibandingkan Koalisi Indonesia Kerja pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Logikanya, kalau pileg diterima pilpres ditolak, sami mawon (sama saja) kan. Toh di legislatif dikalahkan juga. Jumlah anggota yang jadi lebih banyak pihak lawan Pak Prabowo. Produk keputusan parlemen pasti tidak memihak ke Pak Prabowo," tutur Picunang.

Saat ditanya apakah permintaan Prabowo-Sandi juga menolak hasil Pileg 2019 merupakan keputusan Tommy, ia menyebut itu aspirasi kader partai. Dari aspirasi ini, Tommy disebut Picunang memberikan persetujuan.

"Sikap dan aspirasi keluarga besar Partai Berkarya dari bawah. Pimpinan hanya mengamini. Jadi Partai Berkarya bukan kambing congek atau dungu," sebut Picunang.


Sebelumnya, Ketua DPP Gerindra Habiburokhman memberi jawaban atas permintaan Berkarya agar Prabowo-Sandi juga menolak hasil Pileg 2019. Ia menyebut pileg dan pilpres berbeda.

"Itu orang ngerti nggak sih sistem pemilu? Sistem pemilunya kan beda antara pilpres dan pileg. Surat suara beda. Pihak yang berpartisipasi beda. Gimana coba," kata Habiburokhman.

"Misal laporan-laporan kami kan terlapor bukan partai, tapi institusi yang menguntungkan paslon. Bukan berbicara soal partai. Coba saja cek ratusan laporan ke Bawaslu, bukan dispute antarpartai," lanjutnya.

Habiburokhman menyebut penggunaan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 untuk pilpres dan pileg berbeda. Demikian pula dengan formulir C1 pileg dan pilpres.

"C1-nya kan beda antara pilpres dan pileg. DPT penggunaannya beda. Meski sama, tapi penggunaannya beda DPT pileg dan pilpres," urai Habiburokhman.
(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed