detikNews
2019/05/14 02:58:59 WIB

Round-Up

Memori Mencekamnya Perang Dingin dalam Krisis Venezuela

Rakhmad Permana - detikNews
Halaman 2 dari 2
Memori Mencekamnya Perang Dingin dalam Krisis Venezuela Foto: Getty Images/AFP/F. Barra


Suasana semakin mencekam di Venezuela, ditandai oleh beberapa peristiwa. Misalnya pemadaman listrik besar-besaran karena tak ada biaya operasional produksi listrik. Akibatnya, 17 orang dilaporkan tewas karena listrik yang mati membuat rumah sakit tak beroperasi, sehingga pasien di tak bisa ditangani dengan baik. Lantas, ada juga sejumlah warga yang memanfaatkan pemadaman listrik ini untuk menjarah beberapa toko. Selain itu, pemadaman listrik ini juga berimbas pada kerugian material mencapai USD 400 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun.

Tak sampai di situ situ saja. Sejumlah warga dilaporkan sedang mengumpulkan air dari pembuangan limbah ke Sungai Guaire di Caracas, akibat krisis air. Sedangkan, karena krisis kebutuhan bahan pokok, ada pula warga yang memunguti keju dan sayuran sisa yang ada di tong sampah untuk dimakan. Belum lagi kerusuhan yang dinyalakan oleh pendukung oposisi agar Maduro lekas lengser. Setidaknya, puluhan orang tewas akibat kerusuhan itu.

Tetapi situasi ini justru jadi celah bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mendekat. Konsekuensinya, Venezuela mau tak mau juga harus ikut memperjuangkan negeri kiri tersebut. Para pengamat menilai keterkungkungan Rusia setelah mencaplok Krimea pada 2014 membuat Moskow mencari sekutu di tempat lain.



"Mereka (Moskow) mencari negara-negara yang bersedia berdagang dengan mereka dan itu termasuk Venezuela," kata Steve Pifer, mantan duta besar AS untuk Ukraina yang kini menjadi peneliti lembaga kajian AS, the Brookings Institution.

Sepanjang satu dekade terakhir, perusahaan minyak Rusia, Rosneft, terlibat lebih jauh pada sektor minyak Venezuela. Beberapa analis memperkirakan Rosneft dan pemerintah Rusia telah membarter minyak Venezuela dengan pinjaman sekitar US$20 miliar untuk pemerintahan Maduro sejak 2006.

Rusia mengirim dua pesawat supersonik pengebom ke Venezuela sebagai bagian dari latihan militer gabungan pada Desember lalu. Langkah ini dipandang sebagai wujud sokongan terhadap Maduro. Sedangkan Amerika Serikat, mendorong Dewan Keamanan PBB agar mendukung presiden tandingan Venezuela, Guaido.

Kondisi Venezuela yang melanda Kuba sekarang agaknya memang punya sejumlah kemiripan dengan Krisis Rudal Kuba pada medio 1962, akibat perang dingin. Krisis ini dimulai ketika AS mensponsori sebuah serangan ke Teluk Babi milik Kuba. Walaupun gagal, namun serangan ini memicu kemarahan Uni Soviet, sekaligus rakyat Kuba sendiri.


Pada bulan September 1962, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev menperingatkan Presiden AS John F. Kennedy agar tak lagi melakukan serangan. Jika tidak, serangan tersebut akan dianggap sebagai peperangan. Namun, rudal-rudal yang dipasang oleh Soviet justru membuat AS melakukan serangan balik. Hingga akhirnya, masa perang dingin ini dijuluki sebagai Krisis Rudal Kuba. Lantas, apakah situasi yang pernah melanda Kuba juga sedang menghampiri Venezuela?
(rdp/bar)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed