detikNews
2019/05/14 02:58:59 WIB

Round-Up

Memori Mencekamnya Perang Dingin dalam Krisis Venezuela

Rakhmad Permana - detikNews
Halaman 1 dari 2
Memori Mencekamnya Perang Dingin dalam Krisis Venezuela Foto: Getty Images/AFP/F. Barra
Jakarta - Belakangan ini, Venezuela berada di tubir krisis. Negara yang pernah dipimpin oleh mendiang Hugo Chavez itu, harus berada dalam tarik ulur kepentingan antara Rusia dan Amerika Serikat. Situasi ini seperti mengingatkan publik internasional kepada kondisi perang dingin yang membuat negara Amerika Latin seperti Kuba terdesak.

Maduro yang saat ini masih merupakan Presiden Venezuela mendapatkan sokongan bantuan dari Rusia. Sedangkan oposisinya, Presiden Tandingan Majelis Nasional Juan Guaido didukung oleh Amerika Serikat. Analis RAND, sebuah lembaga kajian kebijakan global, James Dobbins menggambarkan situasi Venezuela seperti palagan bagi Maduro dan Guaido saja.


"Kita telah sampai pada satu titik di mana situasi di Venezuela telah terbagi menjadi rivalitas antara Maduro dan Guaido. Kini rivalitasnya nampak antara Rusia versus AS," kata dia kepada BBC.

Setidaknya, Rusia telah mengirim dua pesawat supersonik pengebom ke Venezuela sebagai bagian dari latihan militer gabungan pada Desember lalu. Langkah ini dipandang sebagai wujud sokongan terhadap Maduro.

Bagi para pengamat, situasi ini mirip seperti era Perang Dingin di Amerika Latin tatkala Kuba terjepit di antara dua negara adidaya. Namun, tak ada jawaban sederhana soal mengapa hal yang sama kini juga melanda Venezuela. Kepentingan ekonomi dan politik saling berkelindan dengan kepentingan lain yang melampaui Venezuela.

Setidaknya, selama masa kepimpinan Hugo Chavez pada tahun 1999 hingga 2013, Washington dan Caracas sesekali berseteru. Namun, keduanya juga menciptakan hubungan dagang yang penting.

"Selama bertahun-tahun, AS merupakan pembeli utama minyak Venezuela dan sejumlah pemurnian minyak di bagian utara khusus menangani minyak mentah yang dikirim Caracas ke Amerika," ungkap Dobbins.


Kendati demikian, seteru antara Amerika Serikat dengan Venezuela semakin meruncing, sejak Maduro memegang tampuk kekuasaan pada tahun 2013. Terhitung sejak saat itu, Venezuela bercerai dengan AS. Lantas, negara itu diganjar sanksi yang berimbas pada kondisi ekonomi dan sejumlah perusahaan terkait pemerintahan Maduro. Hal ini membuat Venezuela mengalami hiperinflasi hingga sulitnya mencari bahan pokok.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed