DetikNews
Senin 13 Mei 2019, 09:09 WIB

Heboh Musni Umar karena Cuitan Klenik Politik di Lingkaran Istana

Andi Saputra, Muhammad Taufiqqurahman, Rinto Heksantoro, Pradito Rida Pertana - detikNews
Heboh Musni Umar karena Cuitan Klenik Politik di Lingkaran Istana Musni Umar (ari/detikcom)
Jakarta - Sebagai sosiolog, Musni Umar menyatakan masyarakat Indonesia masih meyakini ada keterkaitan politik dan klenik. Namun cuitannya bikin heboh karena ia bercuit soal mistik di lingkaran Istana.

Cuitan yang dimaksud yaitu yang ia tulis pada 7 Mei 2019 yang berbunyi:

Saya dikontak Kunto dari Jawa Timur. Dia kenal saya dari medos. Katanya Bung Karno kuat punya pulung. Pak Harto kuat yang punya pulung Ibu Tien. Gus Dur, Ibu Mega tidak punya pulung, maka lemah. Kalau ibu Ani wafat, SBY dan PD hancur. Jokowi Pitulungan. Sekarang sedang perang ilmu gaib untuk pertahankan Jokowi.

Cuitannya pun bikin heboh dunia maya. Belakangan, ia memilih meminta maaf atas cuitannya tersebut. Namun, ia punya dalih sendiri mengapa menulis cuitan tersebut.

Heboh Musni Umar karena Cuitan Klenik Politik di Lingkaran Istana

"Saya melihat ada fakta, fenomena sosial di masyarakat ada yang mempercayai hal-hal seperti itu," ucap Musni.


Benarkah analisa Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) itu? Di Maros, Sulsel, ada perempuan yang dikenal sebagi dukun, Daeng Mannodan dikenal memiliki kekuatan khusus dari dunia lain yang bisa mengantar orang duduk di legislatif.

"Dia datang sampaikan niatnya ke saya dan nanti saya akan berikan segelas air putih untuk diminum dan dibawa pulang," kata Daeng Manno saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Klien yang datang akan diberikan air putih untuk diminum. Daeng Manno mengaku punya 'bala bantuan' yang ada di sekitarnya. Bala bantuan ini yang nantinya membantu segala urusan para caleg itu seperti saat bertemu orang dan membentengi saat adanya serangan magis dari lawan politik. Daeng Manno tidak menampik, bahwa setelah air putih pemberiannya diberikan. Para tamunya kerap memberikan amplop sebagai tanda terima kasih.

"Tidak usah saya sebutkan isinya. Itu terserah mereka. Yang penting mereka ingat saya," ujar Daeng.


Di Purworejo, Jawa Tengah dikenal petilasan Ratu Diyah Ayu Roro Wetan atau Eyang Ratu Agung Bagelen yang terletak di Dusun Bagelen, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen. Jelang Pemilu 2019 lalu, petilasan itu ramai dikunjungi caleg.

Juru kunci makam, Sarwoto mengaku kedatangan tamu para caleg baik dari Purworejo maupun luar Purworejo. Mereka sowan ke tempat tersebut tak lain karena ingin memohon doa restu kepada Kanjeng Nyai Bagelen agar bisa terpilih menjadi wakil rakyat.

"Pas Pilkades kemarin juga banyak yang ke sini, terus akhir-akhir ini caleg-caleg juga pada ke sini. Datangnya nggak tentu, ada yang pagi, siang, sore bahkan malam. Intinya ya minta agar nanti bisa terpilih jadi anggota dewan. Bukan hanya dari Purworejo malah, ada yang dari Yogya, Magelang, Wonosobo, Jakarta dan kemarin malah ada yang dari Lampung," imbuh Sarwoto.


Adapun di Gunung Kidul, dikenal sebuah petilasan peninggalan dinasti Mataram yaitu Pertapaan Kembang Lampir sendiri terletak Dusun Blimbing, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Untuk mencapai tempat pertapaan itu kurang lebih memerlukan waktu sekitar 20 menit, mengingat jarak tempuhnya sejauh 17 kilometer dari Kota Wonosari.

Di Mojokerto, Jawa Timur, juga terdapat Petilasan Prabu Hayam Wuruk terletak di Dusun/Desa Panggih, Trowulan. Tempat yang satu ini biasa disebut warga sekitar dengan Reco Banteng (Arca Banteng). Jelang kontestasi politik, tempat itu juga ramai dikunjungi para praktisi politik.

"Biasanya saat Pilkada, calon-calon datang ke sini. Dua bulan yang lalu ada calon bupati dari Sampang (Madura) datang ke sini. Tujuannya kirim doa, minta restu kepada leluhur," ungkap juru kunci Reco Banteng Sutrisno.
(asp/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed