DetikNews
Jumat 10 Mei 2019, 14:06 WIB

Gayus Lumbuun: Pernyataan AM Hendropriyono Bukan Pernyataan Rasis

Jefrie Nandy Satria - detikNews
Gayus Lumbuun: Pernyataan AM Hendropriyono Bukan Pernyataan Rasis Gayus Lumbuun (Foto: Jefri/detikcom)
Jakarta - Mantan hakim agung Prof Dr Gayus Lumbuun berpendapat bahwa pernyataan AM Hendropriyono bukanlah pernyataan rasis. Dalam pernyataannya, AM Hendropriyono mengingatkan Habib Rizieq Syihab dan WNI keturunan Arab agar tidak menjadi provokator.

"Saya berpendapat pernyataan AM Hendropriyono ditujukan kepada pribadi, bukan pernyataan rasis dan masih dalam koridor hukum," kata Gayus dalam diskusi di Kampus UI, Salemba, Jakarta, Jumat (10/5/2019).


Menurut Gayus, AM Hendropriyono mengingatkan kepada pribadi-pribadi yang kebetulan keturunan Arab. Sebab, pada bagian lain, AM Hendropriyono juga menunjukkan rasa hormatnya kepada keturunan Arab bahwa 'kenyataan di masyarakat'.

"Pernyataan ini menunjukkan rasa hormat yang tinggi AM Hendropriyono terhadap keturunan Arab," ujar Gayus.

Bahkan, kata Gayus, peringatan AM Hendropriyono sesungguhnya menggambarkan rasa prihatinnya terhadap ulah beberapa orang yang kebetulan keturunan Arab, yang tidak sesuai dengan penilaian dan penghargaan yang umum diberikan masyarakat Indonesia terhadap keturunan Arab.

"Dengan demikian, peringatan tersebut tidak cukup alasan untuk dikategorikan sebagai suatu sikap rasialis. Tidak ada substansi pernyataan AM Hendoropriyono yang menggeneralisir keturunan Arab yang meneriakkan revolusi," cetus Gayus.


Oleh karena itu, menurut Gayus, pernyataan tersebut haruslah dilihat secara objektif, tidak dipolitisir yang kemudian justru memperkeruh situasi di masyarakat.

"Pernyataan mantan Kepala BIN tersebut juga masih dalam koridor hukum, sebab masih dalam koridor Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 mengenai jaminan hak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat," papar Gayus.

Pernyataan Hendropriyono juga dinilai tidak memenuhi ketentuan Pasal 156 KUHP mengenai tindakan di depan umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau merendahkan satu atau beberapa golongan penduduk Indonesia. Pernyataan tersebut juga tidak memenuhi ketentuan Pasal 157 KUHP, karena tidak ada suatu bentuk dan niat untuk menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan atau lukisan, yang isinya mengandung pernyataan rasa permusuhan, kebencian, atau penghinaan di antara atau terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia, dengan maksud supaya isinya diketahui atau lebih diketahui oleh umum.

"Peringatan AM Hendropriyono, guru besar filsafat intelijen, itu secara objektif juga tidak bertentangan dengan UU," pungkas guru besar Universitas Krisnadwipayana Jakarta itu.


Hendropriyono sebelumnya memandang banyak warga keturunan Arab yang sangat dihormati di masyarakat. Karena itu, dia merasa perlu memperingatkan sebagian warga keturunan Arab untuk tidak memprovokasi revolusi sampai turun ke jalan.

"Kalau kenyataan di masyarakat, kita itu sangat menghormati orang-orang Arab, mereka kan juga warga negara Indonesia. Kalau di kampung-kampung, kita masih bisa lihat orang Arab datang ke kampung-kampung pada cium tangan. Berarti posisinya mereka kan berada pada tempat yang dimuliakan, mereka kemudian langsung atau tidak langsung terakui sebagai pemimpin informal, informal leader," kata Hendropriyono.


Simak Juga 'Hendropriyono: Rizieq dan Keturunan Arab Jangan Jadi Provokator':

[Gambas:Video 20detik]


(asp/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed