detikNews
Selasa 07 Mei 2019, 14:38 WIB

Fahri Sebut Ada Kemungkinan KPPS Meninggal karena Racun, TKN: Kalap!

Elza Astari Retaduari - detikNews
Fahri Sebut Ada Kemungkinan KPPS Meninggal karena Racun, TKN: Kalap! Foto: Irma Suryani Chaniago. (Samsudhuha Wildansyah/detikcom).
Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengaku mendapat laporan soal kemungkinan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal karena racun. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin mengkritik Fahri.

"Sekelas Fahri ikut kalap karena tidak bisa terima kekalahan lalu bicara macam orang tidak berpendidikan," ungkap Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Irma Suryani Chaniago kepada wartawan, Selasa (7/5/2019).

Pernyataan Fahri soal kemungkinan petugas KPPS meninggal pada Pemilu 2019 karena diracun disampaikan usai menerima perwakilan sejumlah dokter. Fahri mengaku menerima laporan investigasi dari para dokter itu.


Irma menilai semua pihak sebaiknya tidak asal menuduh. Ia mengakui proses pemilu serentak di 2019 memang melelahkan, tapi ia menilai tak ada indikasi soal petugas KPPS yang tewas diracun.

"Jika dikatakan pemilu kali ini melelahkan jawaban saya 'iya'. Tetapi jangan sembarangan menyalahkan pemerintah, memangnya DPR yang ikut menyetujui pemilu serentak tidak ikut tanggung jawab? Ngawur aja kalau ngomong," tutur Irma.

Anggota DPR RI ini meminta Fahri menyejukkan situasi politik usai Pemilu 2019, bukan justru memanas-manasinya. Irma pun menyindir soal posisi Fahri yang dipecat oleh PKS, namun masih bertahan di DPR.

"Fahri harusnya bersyukur, masih bisa jadi wakil ketua DPR meski nggak punya fraksi. Jadilah negarawan yang menyejukkan, bukan sebaiknya terus menerus memanaskan suasana," ucap politikus NasDem itu.


Irma menyebut, ada banyak yang menyerang petahana Presiden Jokowi di masa rekapitulasi Pilpres oleh KPU. Mulai dari isu kecurangan pemilu hingga kematian ratusan petugas KPPS tersebut.

"Makin mendekati final Situng KPU makin banyak yang kalap. Mulai bikin narasi-narasi yang mendelegitimasi penyelenggara. Mulai dari tudingan-tudingan kecurangan yang tidak ada data, Ijtimak 3, minta Jokowi mundur, demo-demo KPU sampai fitnah tentang kematian KPPS," sebut Irma.

"Sahwat berkuasa yang berlebihan membuat manusia tidak logis, kalap dan akhirnya menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan politik. Makin mirip zaman orde baru," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, Fahri Hamzah menerima perwakilan sejumlah dokter. Pertemuan digelar di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/5). Fahri menaruh curiga terhadap penyebab meninggalnya ratusan petugas KPPS.

"Mereka melaporkan beberapa temuan, saya tertarik karena dokter-dokter dari berbagai keahlian yang hadir. Saya kira sebaiknya pemerintah terbuka dengan apa yang terjadi, terutama KPU. Dibuka saja masalahnya apa dan investigasi terhadap korban. Itu harus dilakukan satu per satu, jangan membuat generalisasi lalu ada uang tutup mulut," ujar Fahri.

"Beberapa investigasi yang mereka lakukan itu cukup mengagetkan, karena modus dari meninggalnya juga sebagiannya ada kemungkinan adanya racun. Kira-kira begitu," sambungnya.



Tonton juga video KPU: Bangsa Ini Patut Berterima Kasih kepada KPPS!:

[Gambas:Video 20detik]


(elz/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com