DetikNews
Senin 06 Mei 2019, 16:03 WIB

Soal 'Dimensi Moral', Penyebab Perkelahian karena Beda Pandangan Politik

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Soal Dimensi Moral, Penyebab Perkelahian karena Beda Pandangan Politik Ilustrasi (Foto: Dok. istock)
Jakarta -
Perbedaan referensi politik bisa membuat orang berkelahi, bahkan saling membunuh. Sebetulnya, apa sih penyebabnya?

Peristiwa perkelahian sekaligus pembunuhan, salah satunya adalah yang terjadi pada seorang Anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) di Sampang, Madura, Jawa Timur, bernama Subaidi (40). Dia tewas, usai ditembak Idris (30) pada Rabu (21/11/2018).

Masalahnya bermula saat akun Idris berkomentar di laman Facebook seseorang yang mem-posting 'Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini'. Akun milik Idris memberikan komentar 'Saya pingin merasakan tajamnya pedang tersebut'. Akibatnya, mereka pun terlibat perkelahian. Hingga akhirnya Subaidi tewas setelah ditembak oleh Idris.



Di lain waktu, politik ternyata juga bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Pada tahun 2014, berdasarkan data perceraian di Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung yang didapat detikcom, Rabu (17/9/2014), dari angka 2.094 pasangan, sebaran terbanyak di Jawa Timur yaitu sebanyak 1.960 kasus. Hal ini diduga karena pada 2013 digelar pemilihan Gubernur Jatim yang mengakibatkan suhu politik ikut memanas.

Posisi kedua disusul Jawa Tengah yaitu sebanyak 33 pasangan. Di posisi ketiga, diduduki Kalimantan Selatan (Kalsel) sebanyak 17 pasangan dan Kalimantan Timur (Kaltim) bersaing dengan Sumatera Utara (Sumut) di posisi selanjutnya sebanyak 13 pasangan.

Secara nasional, Jatim berturut-turut menduduki posisi puncak di mana pada 2012 lalu Jatim menyumbang 568 pasangan pasangan cerai beda pandangan politik. Di posisi kedua Jawa Tengah mengalahkan Jawa Barat yang di 2012 menyumbang 49 pasangan yang bercerai karena alasan politik. Setahun setelahnya, angka itu menurun menjadi 5 pasangan di Jabar yang bercerai karena alasan beda politik.

Lantas, apa sebetulnya yang membuat orang bisa berkelahi, bercerai bahkan membunuh karena perbedaan pilihan politik?

Menurut riset psikososial, penyebabnya adalah karena perbedaan dimensi moral. Riset psikososial terbaru menunjukkan ada enam dimensi moral yang dianut tiap orang. Yakni dimensi kepedulian, loyalitas, kebebasan, otoritas dan kesucian. Enam dimensi moral ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang pakar psikososial asal Amerika Serikat, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion (2012).

Dalam teori tersebut, disebutkan bahwa moral bukanlah nalar yang rasional. Melainkan, intuisi yang menggerakkan orang melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Sebagai contoh, ada sebuah laboratorium yang membudidayakan kecoak yang bersih dan steril. Kemudian, kecoak ini diblender layaknya jus buah. Lantas, saat ditanya apakah orang mau meminumnya? Kebanyakan orang akan menolak. Padahal, secara rasional jus kecoak itu bersih dan bebas kuman, sehingga sebenarnya tidak masalah jika dikonsumsi. Namun, secara intuisi orang akan menolak karena jijik. Jijik sendiri merupakan kebalikan dari dimensi moral kesucian. Inilah mengapa orang bisa dengan saling bertentangan karena perbedaan dimensi moral.

Dalam politik, orang bisa berbeda referensi politiknya karena punya dimensi moral yang berbeda. Ada orang yang sangat memuja moral kesucian di atas segalanya, maka tentu saja akan memilih tokoh politik yang menjaga nilai kesucian dalam perilakunya. Tetapi, di sisi lain dia bisa juga sangat membenci tokoh politik lain, yang misalnya memegang dimensi moral kebebasan di atas segalanya. Karena, baginya nilai kebebasan bisa saja membuat orang melepaskan nilai kesuciannya. Hal inilah yang membuat ada polarisasi antara kelompok liberal dan kelompok konservatif.

Bisa dikatakan percuma berdebat dengan orang yang dimensi moralnya berbeda. Seperti dinyatakan sebelumnya, moral bukanlah nalar yang rasional, tapi intuisi seseorang. Intuisi ini seringkali tak bisa didebat, karena tak melibatkan akal.

Paling tidak, hal inilah yang bisa kita lihat dalam kondisi perpolitikan saat ini. Beberapa tokoh politik selalu dilekatkan dengan beberapa dimensi moral tertentu. Karena perbedaan dimensi moral ini, tak jarang orang bisa berkelahi atau bahkan membunuh, sembari mengabaikan akal sehatnya. Sebab, sekali lagi, moral berkaitan dengan intuisi, bukan nalar rasional.



Karena alasan itu pula dan juga kondisi di lapangan, sejumlah tokoh langsung menyerukan rekonsiliasi setelah digelarnya coblosan pada 17 April 2019. Mantan Ketua MK Mahfud MD, misalnya, dia menyatakan peristiwa coblosan tersebut merupakan bentuk people power. Tak perlu lagi ada isu people power yang cenderung berada di luar koridur insitusi.

"Bicara tentang perlu people power, people power itu ya Pemilu itu, rakyat menyatukan kekuatan untuk melakukan perubahan. Tanggal 17 April rakyat sudah melakukan atau menunjukkan sikapnya untuk membuat perubahan, penetapan tentang arah negara dalam lima tahu ke depan sesuai dengan program yang diajukan oleh pemerintah," kata Mahfud.

"Itulah people power yang sebenarnya, rakyat sudah bersatu, mari kita terima hasilnya. Saya monitor, saya rasakan, di DIY berjalan baik meski perbedaan tetap menyeruak juga, tapi suasana kehidupan masyarakat berjalan baik. Jangan terprovokasi perang di medsos yang seakan-akan panas padahal kita itu tidak ada panas sama sekali, biarkan proses berjalan sesuai dengan kalender konstitusi," sambungnya.

Hal senada juga disampaikan Organisasi Islam yang jadi wadah resmi habib se-Indonesia, Rabithah Alawiyah. Rakyat Indonesia diminta tetap menjaga persatuan dan kesatuan apa pun nanti hasil resminya jika sudah ada penetapan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Apa pun hasilnya, kita tetap harus berpegang pada semangat ukhuwah. Pemilu penting, tetapi yang lebih penting adalah persatuan kita sebagai satu bangsa," kata Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Smith.


Saksikan juga video 'PAN Rapat Internal, Bahas Langkah Politik pasca-Pemilu':

[Gambas:Video 20detik]


(imk/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed