DetikNews
Senin 06 Mei 2019, 15:32 WIB

Batal Bikin Restoran, Pemilik Sari Club Siap Jual Tanahnya Rp 7 M/Are

Aditya Mardiastuti - detikNews
Batal Bikin Restoran, Pemilik Sari Club Siap Jual Tanahnya Rp 7 M/Are TKP bom Bali yang siap dijual. (Foto: ABC Australia)
Denpasar - Pemilik lahan eks Sari Club, Kuta, Bali, sepakat menjual tanah eks TKP Bom Bali itu ke Bali Peace Park Association (BPPA). Pemilik lahan bersedia melepas tanahnya dengan nilai Rp 7 miliar per are.

"Pertemuan antara Bali Peace Park dengan owner jual-beli tanah ya. Jadi pemilik lahan Tania, sudah sepakat dulu mengenai permintaan Bali Peace Park untuk jual-beli 700 meter persegi," kata mediator, Made Badra usai pertemuan di Hotel Aston Denpasar Hotel and Convention Center, Jalan Gatot Subroto Barat, Denpasar, Bali, Senin (6/5/2019).




Pertemuan ini dihadiri oleh pemilik tanah Lila Tania, Ketua BPPA David Napoly dan Badra. Pertemuan dimulai pukul 11.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 15.00 Wita.

Badra mengatakan nilai harga tanah per are sudah disepakati. Namun, masih ada biaya kompensasi di luar harga tanah yang belum deal.

"Nah harga sudah disepakati tinggal sekarang yang belum disepakati mengenai kompensasi, karena dari pihak pemilik lahan atas dasar kemanusiaan menjaga hubungan dua negara Indonesia-Australia biar tidak ada sesuatu yang menghambat. Jadi para pihak ini akan melanjutkan lagi, dan diminta Bali Peace Park secara resmi, tertulis menyampaikan tawarannya kepada pemilik lahan," urai.

"Disepakati Rp 7 miliar/are, dari segi harga sepakat. Yang perlu dibicarakan adalah kompensasi," sambungnya.


Made Badra.Made Badra. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)


Badra menyebut biaya kompensasi ini untuk mengganti ongkos pengeluaran mengajukan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) maupun potensi kerugian karena pembatalan pembangunan restoran lima lantai di eks TKP Bom Bali 2002 itu. Pihak BPPA disebut menawarkan biaya Rp 5 miliar.

"Artinya para pemilik lahan ini kan rencana awal membangun sudah punya IMB, sekarang ini perlu dihitung, maka diberikan kompensasi. Tadi sih dari pihak Australia menawarkan 500 ribu AUD setara Rp 5 miliar," sambungnya.

Badra menyebut antara pemilik lahan dan BPPA masih belum deal soal biaya kompensasi ini. Rencananya masing-masing pihak masih akan bertemu untuk negosiasi.




"Itu akan ada kelanjutannya. Ini masih perlu dibicarakan lagi, (kapan pertemuannya) nggak tahu saya. Mereka masih punya waktu beberapa hari lagi," ujarnya.

Terpisah, Kepala BPPA David Napoly menyebut pertemuan ini masih butuh proses panjang. Dia tak menjawab ketika ditanya soal penawaran harga.

"Kami belum menghasilkan resolusi apapun. Tapi kami tetap berharap. (Soal pertemuan) itu terserah pemilik (lahan)," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, pembangunan lahan di eks TKP Bom Bali direncanakan mulai 1 Mei 2019 lalu. Namun ditunda untuk menunggu negosiasi hari ini.
(ams/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed