detikNews
Sabtu 04 Mei 2019, 13:11 WIB

Perjalanan 2019GantiPresiden hingga Akhirnya Diharamkan Mardani

Tim Detikcom - detikNews
Perjalanan 2019GantiPresiden hingga Akhirnya Diharamkan Mardani Mardani Ali Sera dalam acara deklarasi relawan 2019GantiPresiden. (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Tagar maupun gerakan 2019GantiPresiden sempat meramaikan ajang Pilpres 2019. Gerakan tersebut kini diharamkan deklaratornya, Mardani Ali Sera. Seperti apa perjalanan 2019GantiPresiden?

Awalnya, tagar 2019GantiPresiden digagas Mardani pada Maret 2018 dan tidak menyebut dukungan terhadap salah satu pasangan capres-cawapres tertentu saat itu. Pada 6 Mei 2018, relawan 2019GantiPresiden dideklarasikan di Jakarta.


Massa relawan 2019GantiPresiden saat deklarasi 6 Mei 2018.Massa relawan 2019GantiPresiden saat deklarasi 6 Mei 2018. (Foto: Ari Saputra)

Deklarasi relawan 2019GantiPresiden tak hanya membagikan buku pedoman atau buku manual ke para relawan. Mereka juga membacakan aspirasi yang intinya menyatakan siap mengawal jalannya Pemilu 2019 agar lancar dan tertib. Berikut isi lengkap aspirasi nasional tersebut:

Aspirasi Nasional
Relawan Nasional 2019GantiPresiden

Kami relawan nasional 2019GantiPresiden, dengan ini menyatakan sikap keprihatinan atas kemiskinan, ketidakadilan, ketidakberpihakan dan ancaman terhadap kedaulatan serta krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini di bumi NKRI. Karena itu, kami bertekad akan terus berjuang bersama seluruh rakyat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, berdaulat, bermartabat, adil, makmur dan berakhlak mulia.

Dengan memohon rida Allah SWT dan dukungan dari seluruh rakyat, kami siap mengawal jalannya proses pemilu yang jujur, adil, dan bebas dari segala bentuk kecurangan hingga terwujudnya 2019 ganti presiden dan konstitusional pada tanggal 17 April 2019.

Jakarta
6 Mei 2018
Relawan Nasional 2019GantiPresiden

Tidak hanya sebatas gerakan, 2019GantiPresiden meramaikan dunia maya dengan tagar serupa. 2019GantiPresiden juga muncul dalam berbagai atribut seperti kaus, pin, gantungan kunci, takjil untuk berbuka puasa, dan tentu saja lagu 2019GantiPresiden yang dinyanyikan Mardani, Fadli Zon, dan politikus pro-Prabowo lainnya.

Perjalanan 2019GantiPresiden hingga Akhirnya Diharamkan MardaniKaus 2019GantiPresiden. (Foto: dok. detikcom)

Tapi, gerakan 2019GantiPresiden rupanya tidak sepenuhnya mulus di lapangan. Gerakan ini sempat mendapat penolakan di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Serang, Surabaya, maupun Riau. Banyaknya penolakan di berbagai daerah, membuat Mardani meminta gerakan 2019GantiPresiden dilakukan dengan elegan dan santun.

"Gerakan #2019GantiPresiden harus tetap menjaga karakter gerakan yang elegan, santun, dan cerdas. Karena ini gerakan mencintai negeri dengan cara mendidik masyarakat untuk berani, cerdas, dan tetap santun," kata Mardani lewat keterangan tertulisnya, Senin (27/8/2018).

Tahun berganti, tepatnya di awal 2019, Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab menginginkan gerakan 2019GantiPresiden ditingkatkan menjadi 2019PrabowoPresiden. Saat itu, Prabowo sudah ditetapkan sebagai capres dan sudah memasuki masa kampanye Pilpres.


"Dalam sambutan saya yang singkat ini agar gerakan 2019 Ganti Presiden tidak boleh padam. Bahkan harus terus, terus ditingkatkan. Dan di awal 2019 ini saya ingin mengingatkan kepada semua pihak, sudah waktunya gerakan 2019 Ganti Presiden untuk kita tingkatkan menjadi gerakan 2019 Prabowo Presiden Republik Indonesia," kata Rizieq seperti dikutip detikcom dari kanal YouTube FRONT TV, Senin (7/1).

"Gerakan perubahan tak bisa lagi dihentikan, gerakan perubahan tak boleh lagi untuk dihalangi, gerakan perubahan di Indonesia sudah jadi keniscayaan. Karena itu, di tahun 2019 ini kita harus lebih semangat, lebih termotivasi untuk melakukan gerakan perubahan," ucap Rizieq.

Setelahnya, massa mulai meramaikan gerakan 2019PrabowoPresiden ketimbang 2019GantiPresiden. Hingga berselang 4 bulan kemudian atau pasca-Pilpres, Mardani mengatakan 2019GantiPresiden sudah tutup buku. Mardani menegaskan, mengharamkan gerakan tersebut.


"Saya dikenal penggagas hashtag 2019GantiPresiden. Per 13 April saya sudah mengharamkan diri tidak boleh teriak lagi ganti presiden. Sudah selesai. Kenapa? Karena itu sudah hari terakhir kampanye. Sekarang apalagi, sudah selesai kompetisinya. Kita kembali normal," kata Mardani di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (3/5).

"Ganti presiden sudah tutup buku. Saya nggak mau nyanyiin lagi, nggak mau hashtag lagi, karena itu pada masa kampanye," ujar Mardani.



Simak Juga 'Tak Ada Kecurangan Rekapitulasi Suara di Wilayah Jakbar':

[Gambas:Video 20detik]


(dkp/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed