Limbah Medis di RSUP Sanglah Bali 1 Ton/Hari, Dibuang di Mojokerto

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 03 Mei 2019 17:02 WIB
Limbah medis yang ditemukan di sungai dan sawah di Desa Abang, Karangasem, Bali/Foto: dok. Perbekel Abang
Denpasar - Penemuan limbah medis di Desa Abang, Karangasem, Bali meresahkan masyarakat setempat. Metode pembakaran limbah medis dengan insinerator rupanya sudah tak lagi dilakukan di Bali.

Salah satunya di RSUP Sanglah, sebagai rumah sakit rujukan di Bali-Nusa Tenggara, sampah limbah medis di RSUP Sanglah, Bali mencapai satu ton per hari. Pengelolaan imbah medis tak lagi menggunakan metode dibakar tapi menggandeng pihak swasta di Mojokerto, Jawa Timur.

"Volume 800-1.000 kg sampah medis per hari. Biaya perkilonya Rp 19 ribu. Ya per hari kita mengeluarkan untuk limbah medis sebanyak Rp 17 juta," ujar Humas RSUP Sanglah, Dewa Ketut Kresna di kantornya, Jl Diponegoro, Denpasar, Bali, Jumat (3/5/2019).





Dewa menyebut sudah empat tahun ini pihaknya tak lagi menggunakan incinerator atau alat pembakar sampah mandiri. Salah satu alasannya karena polusi yang dihasilkan mendapat komplain dari masyarakat.

"Kita awalnya punya incinerator tapi sejak masyarakat keberatan akhirnya ditutup. Tahun 2015 kerja sama dengan perusahaan Mojokerto per tiga tahun," jelasnya.

Dia menambahkan kerja sama dengan pihak ketiga ini melalui tender dengan perusahaan di Mojokerto, Jawa Timur. Limbah-limbah medis seperti jarum suntik hingga perban diambil sendiri oleh perusahaan tersebut.

"Perusahaan itu ambil sendiri. Hitung-hitungan bisnis masuk akal karena incinerator lebih mahal, penduduk komplain, selain itu pengelolaan sampah (incinerator) kendala izin juga karena untuk itu harus ada persetujuan masyarakat pendamping. Selain itu pengelolaan sampah dengan pihak ketiga swasta biayanya lebih efisien," ujarnya. (ams/fdn)